Minggu, 13 Juni 2010

ANAK TANGGA TERAKHIR - PART 1

SELAMAT TINGGAL JAKARTA



Jakarta,1995

Dimulai dari kepindahan sebuah keluarga kecil yang sangat hidup sejahtera.Mereka adalah Pak Pramono bersama istrinya dan kedua anaknya,yang pertama bernama Muhammad Ramadhan Dzaki,seorang anak lelaki berusia 10 tahun yang baru saja kehilangan teman-teman bermainnya karena harus pindah ke suatu kota,Sedangkan anak kedua mereka adalah Fynta Putri seorang gadis yang berusia tidak jauh berbeda dengan Abangnya yang biasa dipanggil Rama.Hari ini mereka harus pergi meninggalkan Jakarta untuk mengikuti Ayahnya yang mendapat tugas kerja di Sumatara Utara tepatnya di Medan.Perpindahan mereka ini merupakan awal dari kehidupan mereka yang nomaden.
Rama dan Fynta terlihat sedang melambaikan tangan mereka kearah teman-teman kecilnya yang terpaku sedih karena ditinggalkan kakak beradik itu.Akan tetapi semua harus terjadi dan akan terus terjadi.Jabatan baru Ayah dikantornya membuat mereka harus siap untuk selalu berpindah-pindah tempat tinggal,dari satu kota ke kota yang lain,bahkan sampai ke sebuah Negara tetangga.Dan itu semua harus mereka terima.

Medan,1995

Sesampainya di Medan mereka langsung menempati rumah baru yang sudah disediakan oleh perusahaan tempat Ayahnya bekerja,Sebagian barang mereka sudah terlebih dahulu sampai dirumah berlantai dua itu,salah satunya adalah vespa tua warisan Kakek,keluaran tahun 61 dan berwarna berwarna abu-abu.Rama langsung menanyakan dimanakah letak kamarnya,dan ia memasuki ruangan barunya setelah mereka sekeluarga sepakat mengenai pembagian kamar.Sebuah ruangan yang cukup besar dan masih terlihat kosong.Rama mulai menata sedikit demi sedikit kamarnya itu dengan barang-barang yang ia bawa dari Jakarta.Berbagai judul novel dan berpuluh –puluh seri komik detective conan adalah barang yang pertama kali ia rapihkan untuk mengisi ruang kamarnya itu.Ratusan vcd maupun dvd juga ikut menambah keramaian kamar barunya tersebut.Rama membaca sebuah judul novel yang dikarang oleh seorang penulis muda yang sangat berbakat bernama Fhadil,judulnya “MENANTI”,dan ia sangat menikmatinya.Hampir setiap hari hal seperti itu terus menerus terjadi dan hamper dua kali dalam seminggu koleksi novelnya bertambah,hingga memenuhi satu sisi dinding kamarnya.Terkadang ia menyalakan tv untuk sekadar menonton berita dan menonton film.Kegemarannya itu membawa ia kepada suatu cita-cita dan impian.Ia sangat ingin menjadi seorang Sutradara,sebuah profesi yang bertugas membuat sebuah karya audiovisual dan bertanggung jawab dengan semua hasilnya.
Ia selalu memanfaatkan hal-hal yang dapat mewujudkan cita-citanya itu,dari mulai belajar dengan rajin sampai mengikuti kursus bahasa Inggris dan Perancis,bahkan ketika Ayahnya mendapat kesempatan untuk bertugas di Singapora,ia menerima tawaran Ayah untuk mengikuti kursus editing dan multimedia khusus anak WNA yang diadakan oleh sebuah college ternama.Sejak itu,ia pun sudah mulai mengenal computer,sebuah mesin yang sangat berpengaruh sebagai penunjang pola belajarnya.
Kehidupan nomaden keluarga tersebut terus berjalan sebagai mana seharusnya,sampai suatu saat mereka diharuskan untuk tinggal di Bali,sebuah kota yang sangat terkenal akan tempat-tempat wisatanya dan juga turis-turis asing yang memenuhi pusat kota.Kepindahan mereka sangat membuat Fynta senang,hobinya akan traveling akan sangat terjembatani dengan kepindahan mereka,akan tetapi tidak dengan Rama,ia sama sekali tidak menganggap jika kepindahan kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.


Bali,2006

Disebuah kamar yang sudah tertata rapih,terlihat Rama,seorang anak lelaki tampan berusia 17 tahun yang sedang sibuk dengan komputernya,sejak kehidupan nomaden yang harus dijalankannya ia menjadi seorang pemuda pendiam yang sangat suka menyendiri,sudah bertahun-tahun ia menghabiskan banyak waktunya di kamar hanya dengan sahabat-sahabatnya dan keluarganya yang sangat ia cintai melebihi apapun juga.Salah satu sahabat yang dimaksud adalah laptop,sejak mengikuti kursus grafis dan editing Rama sering sekali membuat sebuah karya visual maupun audiovisual yang ia buat dengan mengemas data-data dokumentasinya yang sering dia rekam menjadi sebuah totonan yang menghibur.Ia juga mempunyai blog pribadi yang selalu ia isi dengan kisah-kisah hidupnya.sahabatnya yang lain adalah buku-bukunya,membaca berbagai macam novel dan comic detective conan adalah salah satu hiburan baginya.Sahabat yang ketiga adalah film,ini adalah hiburan favorite Rama,ia sangat suka menonton film,apalagi film-film Indonesia baik lewat media dvd maupun bioskop.Yang keempat adalah racun yang selalu dikonsumsi Rama,rokok,ganja,dumolic dan kopi seakan tidak pernah lepas dari kehidupannya satu tahun belakangan ini.Ada sebuah handycam yang selalu ia pergunakan untuk merekan sebuah moment-moment tertentu,dan yang terakhir adalah Bako (diambil dari nama salah satu jenis semut,hitam,gesit,dan gagah),vespa tua warisan kakeknya yang sudah di cat ulang dengan warna hitam.Ia juga sangat menyukai music-music yang dibawakan oleh Bob Marley atau musisi-musisi reggae lainnya,ia juga menyukai music-music digital hardcore dan sejenisnya.Hanya mereka yang selalu menemani hari-hari Rama.Pergaulannya di sekolah maupun dirumah tidak begitu baik,seringnya hadir sebagai anak baru membuatnya malas untuk berulang kali beradaptasi dengan lingkungan dan sekolah barunya.Akan tetapi tanpa ia sadari sifat ramah dan murah senyumnya membuat orang-orang di sekitar banyak yang menyukai,ditambah ketampanannya yang membuat banyak wanita jatuh hati kepadanya.Sesekali ia terkadang keluar rumah untuk menikmati secangkir kopi,menonton film di bioskop atau hanya untuk sekedar melihat keindahan alam khususnya pantai.
Koleksi sepatu-sepatu skateboard dan topi pancing yang selalu ia pakai ikut memenuhi kamarnya,ditambah dengan poster-poster Bob Marley dan sebuah kotak rokok bergambar musisi yang terkenal dengan lagu no woman no cry itu.

Disebuah pagi yang cerah Rama terlihat sedang asik dengan laptopnya di sebuah café yang menjual berbegai macam jenis kopi dan roti.Secangkir kopi hitam panas,beberapa buah roti isi keju dan satu bungkus rokok kretek ikut menemani kesendiriannya itu.Ia menulis semua yang pernah dialaminya di dalam blog pribadinya,karenahanya itu satu-satunya media tempatnya untuk mencurahkan isi hatinya.
Rama menyeruput kopinya,lalu menyalakan sebatang rokok dengan menggunakan koreknya yang bergambar cannabisativa.Dengan sangat serius ia melanjutkan kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat bahkan sampai menjadi sebuah bait maupun paragraph.Tanpa ia sadari ada seorang gadis memperhatikannya dari dekat meja kasir,gadis manis itu menatap wajah Rama dengan malu-malu,ia tertarik dengan gaya Rama yang terlihat dingin,kalem dan terlihat keren dengan topi pancing dan flanelnya.Ia lalu memesan sebuah makanan dan segelas jus lalu duduk di samping meja Rama.Sesekali ia tetap mencuri pandangan kearah cowo keren yang ada disampingnya dan Rama tidak menyadarinya.Sampai akhirnya Rama meninggalkan café itu setelah kopinya habis.gadis itu merasa kesal karena Rama pergi dengan cepat dan ia belum puas memandangi wajah Rama.

Nikmatnya kopi hitam di cafe itu membuat Rama menjadi sering untuk kesana,dan satu minggu kemudian Rama kembali ke café itu untuk menikmati minuman favoritenya itu.Ia duduk di meja yang sama dengan hari-hari sebelumnya dan ia juga memesan menu yang sama seperti biasanya.tidak berapa lama gadis asli Bali yang pernah memperhatikan dirinya kembali dating ke tempat itu,ia juga melakukan hal sama dengan ia lakukan minggu kemarin.Ia terus mencuri pandang kearah Rama,dan kali ini ia berniat untuk menegur Rama sekadar menanyakan berasal dari kota mana,karena gadis itu yakin jika Rama adalah turis local yang sedang berlibur di Bali.Akan tetapi tidak cukup keberanian untuk menegur Rama,dan akhirnya ia pun hanya dapat memandangi Rama sampai Matahari terbenam dan Rama meninggalkan café itu.
Sebuah vespa tua berwarna hitam melintas melewati jalan kuta,menerobos gemerlapnya malam yang dipenuhi oleh para turis-turis local maupun asing.Rama yang dengan santai mengendarai vespa itu terlihat sedang mencari sesuatu,ia melirik ke berbagai arah dan ia pun berhenti disamping sebuah motor hitam yang dikendarai oleh seorang pemuda berambut panjang.Setelah,memberikan beberapa lembar uang lima puluhribuan kepada orang itu ia lalu pergi meninggalkan pemuda gimbal yang ternyata adalah seorang Bandar Narkoba yang tidak sengaja sempat ia kenal di sebuah café yang menghadirkan musik-musik reggae di setiap acaranya.
Setelah sedikit berkeliling mengitari pusat kota Bali Rama akhirnya kembali kedalam kamarnya.Ia lalu membuka sebuah bungkusan yang lumayan besar ukurannya.Isinya adalah satu garis ganja siap pakai yang baru saja ia beli pada seorang Bandar narkoba yang sempat ia temui tadi.Ia mulai melinting daun yang dikenal berasal dari Aceh itu dan memasukkan hasil lintingannya ke dalam kotak rokok Bob Marleynya.aktivitasnya itu sempat berhenti ketika Fynta,Adiknya yang cantik,centil dan bawel itu masuk ke dalam kamarnya.Suara cemprengnya mulai mengganggu ketenangan Rama,ia akhirnya keluar dari kamar setelah Rama memberikan sebuah coklat yang ia beli memang untuk adiknya di sebuah mini market.Rama lalu menghisap ganja yang sudah dilintingnya sambil menonton sebuah film.Tidak lama kemudian Fynta kembali masuk kedalam kamarnya dengan membawa kopi hitam buatannya yang sangat disukai Rama.Ia lalu keluar lagi setelah melihat Abangnya yang mulai menjadi autis dimatanya.Rama meneruskan tontonannya dan sangat menikmatinya.

****



Hari ini adalah waktunya mereka untuk menginjakkan kaki di sekolah mereka yang baru,Fynta sangat bersemangat untuk bertemu dan berkenalan dengan teman-temanj barunya sedangkan Rama sama sekali tidak merasakan hal yang istimewa dengan sekolah barunya.Setelah mengenalkan diri didampingi wali kelasnya Rama lalu duduk di bangku kosong yang terletak di belakang,ia duduk disamping seorang cowo berkacamata yang memberikan senyum kepadanya.

“Hai….nama saya Putu.” Pria berkacamata itu menegurnya

“Gw Rama.” Jawab Rama singkat.

Mereka berdua bersalaman dan langsung focus untuk menghadapi pelajaran karena seorang guru sudah masuk kedalam kelas.Rama langsung berusaha mengikuti pelajaran.Rama bukanlah seorang anak yang pintar dalam hal pelajaran,ia tidak penah mendapatkan peringkat 10 besar,tetapi keinginannya untuk segera lulus dengan nilai yang baik membuatnya selalu mengikuti pelajaran dengan baik.
Ketika waktu istirahat tiba ia hanya menghabiskan waktu renggangnya itu di dalam kelas dengan membaca sebuah yang membahas mengenai dasar-dasar dunia film.Buku itu sudah lama ia beli akan tetapi ia tidak pernah puas untuk membaca sekaligus mempelajari ilmu-ilmu yang diberikan oleh buku berhalaman tebal itu.beberapa siwsa sekelasnya menaruh perasaan aneh terhadapnya yang hanya terdiam dikursi hanya dengan sebuah buku.Mereka seakan ingin mencoba untuk menegur Rama sekedar untuk berkenalan akan tetapi itu semua tertahan karena segan dengan Rama yang menurut mereka bersifat pendiam dan sangat dingin.Mereka berpikir mungkin itu hanya sebuah syndrome anak baru dan mereka yakin jika Rama akan lebih bersahabat di hari-hari kemudian.

Akan tetapi tebakan teman-teman sekelasnya itu salah,sudah sekitar satu minggu bersekolah Rama masih dengan sifat dan sikap yang sama persis ketika ia baru saja menghuni kelas itu.Tidak ada perubahan apapun kecuali ketika seorang gadis yang ternyata Adiknya datang menghampiri dan mengajaknya mengobrol.Tapi itu semua tidak membuat Rama dibenci dikelasnya,bahkan banyak yang menjadi segan dengan sikapnya itu.

Pulang sekolah Rama berniat untuk kembali mengunjungi café yang biasa ia datangi.Setelah mengganti pakaian ia langsung meninggalkan kamarnya untuk pergi ketempat itu dengan menggunakan kendaraan tercintanya lengkap dengantopi pancing,flannel dan sepatu skatenya.
Sesampainya disana ia langsung memesan menu seperti biasa,ia langsung membayar pesanannya itu dikasir.
“ Dua puluh delapan ribu rupiah mas”

Tiba-tiba ia dikagetkan dengan jawaban kasir yang langsung memberikan harga yang harus dibayarkannya sebelum melihat daftar pesanan Rama,si kasir yang ternyata adalah wanita yang tanpa dia sadari sudah dua kali memperhatikannya di tempat itu.

“ Secangkir kopi hitam,satu buah roti keju dan pisang coklat.”

Rama semakin kaget dengan tebakan kasir itu,ia lalu tersenyum heran dan membayar jajanannya.Ia lalu duduk di tempat biasa,entah apa yang membuat Rama selalu berkeinginan duduk di pojok café itu,tapi yang pasti ia sudah merasa nyaman dengan posisi itu dan tidak akan berpikir untuk duduk di kursi yang lain selagi kursi yang terletak di pojok itu kosong.
Kasir yang baru saja membuatnya heran kini mengantarkan secangkir kopi hitam kepadanya,dan ia dengan sangat percaya diri duduk di hadapan Rana dengan mengangkat salah satu tangannya tanda untuk mengajak berkenalan.

“ Gita.” Gadis yang baru saja memperkenalkan namanya itu tersenyum manis terhadap Rama.

“ Rama.” Dengan dingin Rama membalas ajakan Gita untuk berkenalan,ia langsung melepas tangannya setelah menyebutkan namanya.

Ia heran dengan maksud kehadiran Gita yang sudah membuatnya terganggu,tapi ia tidak ingin membuat gadis manis itu merasa diacuhkan,dan ia mencoba berbasa-basi dan menanggapi Gita yang mulai mengajaknya untuk mengobrol.

“ Kamu lagi liburan ya?” Tanya Gita dengan malu-malu.

“Nggak….sudah sekitar dua minggu gw tinggal di Bali.” Jawab Rama sambil meminum kopinya yang masih panas.

“Hah..yang bener,aku pikir kamu itu turis local” Gita semakin bersemangat untuk mengenal Rama lebih dekat ketika mengetahui Rama bukanlah turis melainkan pendatang baru yang tinggal di Bali,artinya ia mempunyai kesempatan untuk menegenal Rama lebih lama.

Rama tersenyum tipis,dan senyumannya itu membuat Gita beranggapan jika cowo kece yang sedang berada di hadapannya itu sudah mulai memberikan respon positif terhadapnya.Ia pun sedang memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang akan ia berikan kepada Rama.

“Kok tumben ga buka laptop? ” Tanya Gita lagi berusaha untuk tidak membiarkan suasana untuk terlihat sepi.

Rama memperlihatkan wajah heran,ia sama sekali tidak mengerti dari mana wanita yang baru dikenalnya ini tahu akan kebiasaannya.

“Ini udah ketiga kalinya saya melihat kamu di café ini,dan saya sangat hafal dengan kebiasaanmu ketika sedang menghabiskan waktu disini.” Gita menjawab perasaan heran yang sedang meliputi Rama.

“Oh,tapi kayaknya gw belum pernah ngeliat lo sebelumnya di meja kasir,lo pegawai baru ya?” Tanya Rama sedikit penasaran

“Kan tadi sudah aku bilang aku sudah dua kali melihat kamu di café ini dan aku bukan orang baru disini.Orangtuaku pemilik café ini dan aku ingin mengisi waktu luangku untuk ikut bekerja di café ini.” Gita menjelaskan asal usulnya sampai bisa berada di tempat itu.

“Maaf ya,gw ga tau” Rama sedikit malu ketika mengetahui jika Gita adalah anak dari pemilik café langganannya itu.

“Gpp kok,namanya juga ga tau.Kamu tinggal dimana Rama?”

“Di daerah Jimbaran”

“Wah deket dong dari sini,tapi kalo dari rumah saya jauh banget”

“Emangnya lo tinggal dimana?”

“Di daerah Denpasar,dari lahir sampai sekarang saya tinggal disana bersama para keluarga saya.”

“Kamu tinggal dengan siapa saja di Jimbaran? “ Tanya Gita lagi

“Sama orangtua dan adik perempuan gw” Jawab Rama yang tetap berusaha untuk menanggapi Gita.

“Oh iya,kamu itu sekarang masih sekolah atau sudah kuliah?”

“Gw masih sekolah.”

“Kelas? “

“Tiga.”

“Sama dong,kamu sekolah dimana? “

“Di SMA 1”

“Kalo saya sekolah di Yayasan Swasta khusus Hindu,sebenarnya SMA 1 adalah sekolah impian saya tapi orangtua saya menginginkan saya untuk bersekolah di sekolah swasta itu dengan alasan agar mendapatkan pendidikan agama yang baik,yam au ga mau saya harus menuruti kemauan mereka.”
“Saya ngeganggu kamu ya? “ Tanya Gita ketika melihat ekspresi wajah Rama yang sedikit terlihat bosan dan merasa terganggu.

“Nggak kok.” Rama gugup mendengar pertanyaan Gita

“Yaudah,aku tinggal dulu ya.Selamat menikmati.” Gita lalu pergi meninggalkan Rama dan kembali ke meja kasir.

Rama akhirnya merasa lega dengan kepergian Gita dari hadapannya,seumur hidupnya ia tidak pernah merasa nyaman untuk banyak bicara dengan lawan jenisnya kecuali dengan Adiknya dan Bunda.
Ia lalu membuka laptop dan mulai memenuhi blog pribadinya dengan berbagai macam cerita.Sedangkan Gita terus menerus memperhatikannya.Sifat dingin Rama membuat gadis itu mulai mengerti dengan yang namanya jatuh cinta.

****



Udara yang cerah membuat Rama berkeinginan untuk pergi ke pantai,mengikuti saran Fynta agar mencoba untuk menghibur diri dengan keindahan pantai pantai yang banayak sekali ditemui dikota yang baru mereka tinggali tersebut.Sebelum berangkat ia menghisap sebatang ganja dan menelan sebutir obat yang biasa dikonsumsinya ketika ia sedang membutuhkan ketenangan.Ia lalu pergi menuju pantai Kuta untuk melihat keindahan salah satu ciptaan Tuhan tersebut.
Suasana pantai kuta yang sangat ramai membuat Rama berniat untuk kembali pulang kerumahnya,tetapi suara ombak yang datang silih berganti membuatnya tertarik untuk sejenak menikmati udara pantai yang sejuk.Ia lalu memarkirkan vespanya dan mencari spot yang tidak dipenuhi banyak orang.Setelah berjalan agak jauh ia akhirnya merebahkan badannya diatas pasir yang berwarna putih.Kacamata hitam masih melekat di matanya,dan sebatang rokok pun menempel di bibirnya.Sebuah anugrah yang sangat dasyat dari Sang Pencipta,batinnya dalam hati ketika melihat pemandangan yang sangat indah itu.
Sudah hampir satu jam ia lewati dengan berdiam diri di pantai,puntung-puntung rokoknya pun mulai mengotori pantai.Sesekali ia merekam pemandangan indah itu dengan handycamnya.Ia lalu berniat untuk pulang,kembali bercengkrama dengan laptop dan para penghuni kamarnya yang lain.Akan tetapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar sebuah suara yang memanggil namanya,pemilik suara merdu itu adalah Gita,gadis pemilik café langganannya yang mengajaknya berkenalan dua hari silam ketika ia sedang menikmati secangkir kopi hitam di café langganannya itu.Rama terpaku kaku melihat Gita yang sedang berjalan kearahnya sambil melambaikan tangannya.Dengan hembusan nafas yang sangat dalam ia membersihkan pasir yang menempel dicelananya.
Malam hampir tiba,dan bulan bersiap-siap menjalankan tugasnya untuk menggantikan matahari yang sebentar lagi akan berotasi.Dengan pemandaan sunset yang sangat menakjubkan,sepasang anak remaja tampak sedang duduk diatas pasir putih yang kering setelah menyerap sinar yang dikeluarkan matahari.Mereka adalah Rama dan Gita,kedatangan Gita membuat Rama kembali duduk di posisinya dan memaksakan diri untuk menyambut kehadiran Gita di sampingnya.Walau sangat terasa berat itu semua dilakukannya dengan harapan tidak membuat seseorang kecewa karenanya.Mereka berdua terlibat dalam sebuah pembicaraan,dimulai dari pembicaraan ringan sampai pada hal-hal yang pribadi.Kepolosan Gita membawanya terlihat seperti seorang gadis desa yang baru saja bertemu dengan pria kota yang tampan dan cerdas.Berbagai macam pertanyaan kerap kali keluar dari mulutnya, ia sangat menyadari jika pada saat ini untuk pertama kalinya ia merasakan apa yang namanya jatuh cinta,dan ia sangat menikmatinya.


“Oh,jadi kamu itu suka baca novel ya?” Untuk kesekian kalinya dan bukan untuk terakhir kalinya pertanyaan keluar dari mulut Gita.

“Iya.”

“Koleksi novel kamu banyak dong?”

“Lumayan”

“Kamu lucu ya,sejak aku kenal sampai sekarang kamu tetap menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku dengan sangat singkat dan seperlunya,sepertinya kamu itu type orang yang nggak mau banyak bicara.Kalo kata orang Jakarta kamu itu gak asik…” Gita akhirnya sadar dengan sifat asli Rama yang dari awal memang tidak pernah ia tutupi.

“Becanda ya Ram,jangan dianggap serius.Saya Cuma mau berusaha mencairkan suasana aja,abisnya kamu terlalu kaku dan saya merasa kehadiran saya ini sangat mengganggumu” Gita mulai mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu merendah dan merasa menjadi seorang yang tidak diharapkan kehadirannya.

“Eh,nggak gitu kok.” Jawab Rama kikuk,ia terkena jurus ampuh Gita dan mulai berpikir untuk lebih terlihat menyenangkan di depan gadis itu.

“Kalo emang kamu ga ngerasa kayak gitu kamu harusnya banyak cerita dong” Pancing Gita karena merasa jurusnya mulai mengenai sasarannya.

“Waduh..cerita apa?” Rama semakin gelagapan

“Apa saja tentang diri kamu.”

“Hmmm…Ga ada yang menarik dalam diri gw,sama seperti manusia-manusia lain yang mencoba untuk mencapai sebuah mimpi duniawi dengan segala kemampuannya.” Jawaban Rama barusan membuat Gita terdiam dan menatap Rama penuh arti.

Malam itu mereka akhirnya berpisah dengan menyisakan sejuta kekaguman dalam diri Gita.Sedangkan Rama mulai menyadari jika dirinya baru saja melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya,menghabiskan waktu berjam-jam dengan seorang gadis yang baru beberapa kali ia temui dalam hidupnya.

Didalam kamarnya yang penuh dengan pernak-pernik bernuansa Bali yang sangat khas,Gita terlentang diatas kasurnya sambil tersenyum malu,ia sedang membayangkan wajah orang yang dapat membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.Perkenalannya dengan Rama membuat hari-harinya terasa lebih indah,dan ia tidak ingin menyia-nyiakan kehadiran Rama didalam hidupnya.Dengan rasa cinta yang sangat tulus dan ikhlas,ia berniat untuk membuat Rama jatuh cinta kepadanya.
Sedangkan Rama yang sedang asik dengan games online nya sama sekali tidak mempunyai perasaan apa pun terhadap Gita.Ia hanya menganggap Gita adalah gadis polos anak pemilik café langganannya yang baru saja ia kenal tetapi sudah banyak menghabiskan waktunya untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting untuk dirinya.

Keesokan harinya Gita mulai menjalankan usaha-usahanya demi memikat hati pria idamannya yang tak lain adalah Rama.Mulai dari muncul tiba-tiba di depan sekolah Rama,mengajak Rama untuk bersantai di cafenya,sampai dengan mengirimkan beberapa paket yang berisi barang-barang kesukaan Rama melalui kantor pos.Entah kenapa ia berpikir untuk memilih badan jasa milik pemerintah itu sebagai sarana untuk mengantarkan barang-barang pemberiannya kepada Rama.
Usaha Gita itu berjalan hampir setiap hari,dan pada hari ini ia mengajak Rama untuk kerumahnya.Ajakan Gita itu sudah pasti ditolak Rama,karena bukan hal yang menyenangkan bagi Rama untuk bertandang kerumah seorang gadis yang baru beberapa minggu ia kenal.Tetapi karena rengekan Gita yang membuatnya kembali merasa bersalah ia akhirnya menuruti ajakan Gita,tetapi bukan untuk kerumahnya melainkan ke suatu tempat yang sudah ditentukan Rama.
Suasana sebuah club reggae yang dipenuhi pria gimbal dan wisatawan asing membuat Gita merasa kurang nyaman,akan tetapi ia sudah berjanji untuk mengikuti pilihan tempat yang diinginkan Rama asalkan mau menemaninya menghabiskan malam minggu ini bersama,ia pun berusaha terlihat menikmati acara itu,walaupun lagu-lagu reggae yang dibawakan si pengisi acara sudah menyita perhatian Rama, membuat pria dingin itu sedikit tidak memperdulikannya.Semua itu dimaklumkannya dengan harapan Rama dapat mencintai dirinya.Mereka akhirnya pulang dengan kendaraan masing-masing setelah Gita mendapat nomer telepon Rama yang baru kali ini berani ia tanyakan.

****



Salah satu hal perbedaan Bali dari kota-kota lainnya adalah hari libur sekolah.Di sini para siswa mendapat tambahan hari libur ketika para umat hindu sedang merayakan hari-hari besar keagamaan mereka.Dan tepat pada hari ini,hal itu terjadi.Fynta sedang duduk sambil menonton tv dengan volume yang keras dikamar Rama sejak satu jam yang lalu,dengan harapan Rama terganggu dan bangun dari tidurnya.Semua ini ia lakukan karena ingin menagih janji Rama yang akan mengajaknya menonton ke salah satu bioskop di kotanya.
Upaya pertama yang ia lakukan itu tidak berhasil membangunkan Rama,ia lalu pergi ke dapur dan kembali lagi ke kamar itu dengan segelas kopi hitam panas yang sangat wangi.Ia meletakkan kopi itu tepat diatas meja belajar yang terletak disamping kasur tempat Rama tertidur.Tidak sampai lima menit usahanya berhasil,Rama terbangun karena hidungnya mulai terganggu oleh sebuah aroma yang sangat ia kenal.Ia memandang Fynta,lalu memandang secangkir kopi itu dan akhirnya ia mengerti akan semua ini.

“Lo emang udah mandi? “ Tanya Rama yang sangat sadar jika Fynta sedang menagih janjinya.

“Udah dari jam 10 pagi,Abang kan janjinya mau ngajak pergi dari jam 11.Mau ngajak makan sushi dulu,terus nemenin aku ke salon,terus milihin….” Ucapan Fynta dihentikannya ketika Rama meninggalkannya ke kamar mandi setelah meminum sedikit kopi buatan Adiknya.

“Udah sana ganti baju,waktu yang lo habisin buat dandan lebih lama dari waktu yang gw abisin buat mandi.” Teriak Rama dari arah kamar mandi yangterletak di dalam kamarnya.

“Aku juga udah dandan,udah ganti baju,udah sarapan,udah….” Sekali lagi ucapannya terputus karena mendengar suara ponsel Rama yang berbunyi.

“Bang,hp nya bunyi.” Teriak Fynta

“Dari siapa?” Tanya Rama

“Ga ada namanya,nomer doang.Mau diangkat gak,biar aku tanyain dari siapa?”

“Ga usah,diemin aja.Palingan orang salah sambung,gak penting”

“Siap bos,cepetan dong Bang,keburu sore nie”

“Iya bawel,sabar dong.Pilihin baju gw”

“Yang mana? ”

“Yang mana aja,pokoknya kaos item,celana jins pendek,sama kemeja panjang.Jangan lupa sepatu sama topinya.”

“Baik Abangku sayang.” Fynta lalu memilihkan pakaian untuk dipakai Rama.

Mereka akhirnya menuju sebuah mall dengan menggunakan vespa yang diberi nama Bako,sebuah nama semut yang berwarna hitam dan sangat tangguh.
Sesampainya di mall Rama mulai disibuki oleh permintaan-permintaan Fynta,dari mulai makan di sebuah restoran sushi terkenal,menemaninya untuk creambath,membantu memilihkannya baju yang mau ia beli,dan sampai pada akhirnya berakhir di sebuah bioskop yang terletak di dalam mall tersebut.Setelah berdebat mengenai film yanga akan mereka tonton,Fynta akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan Abangnya untuk menonton film Indonesia yang baru saja tayang di bioskop dua hari yang lalu.Ia juga menemani Rama untuk mengantri di tempat pembelian tiket.Panjangnya antrian membuat Rama tidak bisa menahan rasa ingin buang air kecilnya,ia lalu menuju kamar mandi dan membiarkan Fynta untuk mengantri sendiri.
Ketika berada di depan pintu kamar mandi tiba-tiba ponsel Rama berbunyi,dengan ragu ia lalu mengangkat telepon dari sebuah nomer yang tidak dikenalnya.

“Halo” Sapa Rama penasaran dengan si pemilik nomer tersebut

“Halo Rama,kamu dimana? Saya sudah sampai di bioskop,tiket juga sudah saya beli.” Pemilik nomer itu adalah Gita

“Emm…eehhh… aduh….maaf banget ya Git,gw kayaknya ga bisa kesana,ada acara keluarga yang harus gw hadiri.” Rama sama sekali tidak ingat jika ia mempunyai janji dengan Gita untuk menonton di bioskop,dan dengan sangat terpaksa ia membohongi Gita.

“Oh gitu,yaudah lain waktu kalo mau batalin janji kasih kabar ya Ram.” Dengan halus Gita memberikan teguran atas kesalahan Rama yang sudah membatalkan janjinya secara sepihak dan mendadak.

"Maaf ya Gita,gw bener-bener ngerasa ga enak sama lo,gw janji lain kali bakalan mau buat nerima ajakan lo dan ga akan ngingkarinnya lagi” Rama merasa bersalah

“Gpp kok Ram,keluarga kamu kan lebih penting.” Perasaan cintanya yang begitu besar membuatnya selalu takluk oleh kata-kata Rama.

“Makasih ya Git atas pengertiannya.” Rama mulai merasa lega.Ia lalu buru-buru masuk ke dalam toilet.

Kali ini posisi Fynta tepat di depat loket,tetapi alangkah kesalnya ia ketika seorang penjaga loket mengeluarkan sebuah kertas yang bertuliskan tiket habis.Fynta pun sedikit mengumpat bioskop tersebut.

“Bego banget sih,kalo tau tiketnya udah abis kenapa masih dibuka loketnya” Umpat Fynta

“Kamu butuh tiket? “ Tiba-tiba seseorang wanita menawarkan tiket kepada Fynta

“Eh,iya.saya kehabisan tiket,padahal udah lama gantri.” Jawab Fynta dengan heran akan hehadiran orang tersebut.


“Kamu sendirian? “ Tanya wanita itu lagi

“Nggak,,saya berdua sama Abang saya,tapi dia lagi ke kamar mandi.”

“Kebetulan kalo begitu,saya punya dua tiket film yang ingin kamu tonton” Gadis itu memberikan dua buah tiket film.

“Loh…” Fynta masih heran dengan gadis yang tidak ia kenal itu.

“Saya ga jadi nonton,daripada tiket ini terbuang percuma,olebih baik saya berikan ke kamu,dan kebetulan kamu memang sangat membutuhkan tiket ini kan? “ Gadis itu menjelaskan

“Beneran nie mba? “ Tanya Fynta

“Saya serius,silahkan ambil tiket ini ”

“Terima kasih ya mba” Fynta mengambil tiket itu

“Gita,bukan mba” Ia mengajak Fynta untuk berkenalan

“Fynta” Ia juga menyodorkan tangannya,mereka lalu bersalaman.

Tiba-tiba Rama hadir diantara mereka dan terjadi sebuah perasaan bersalah di diri Rama ketika melihat gadis yang sedang mengobrol dengan adiknya itu adalah Gita.Rama sudah kehilangan bahasa,ia merasa tidak berhak untuk memberikan alasan apapun juga kepada Gita.Sedangkan Gita,walau sangat terkejut dengan kehadiran Rama,ia hanya berusaha tersenyum untuk menutupi rasa kecewanya.

“Ini Abangku mba,eh..Git” Fynta berusaha mengenalkan Rama.

“Namanya Rama kan? “ Tebak Gita

“Kok tau,kalian pernah kenal ya sebelumnya? “ Tanya Fynta

Gita hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman sedangkan Rama masih belum menemukan kalimat yang pantas untuk diucapkan sebagai upaya untuk membela diri.

“Di lantai bawah ada coffeshop yang enak,abis nonton kamu dan Abangmu aku traktir minum disana,mau kan? “ Gita melirik kearah Rama.

“Kalo aku sih mau banget,tapi Abangku ini aneh Git.Dia ga pernah mau untuk bersosialisasi sama orang yang baru dia kenal.Sikapnya dingin.” Dengan sedikit berbisik Fynta menjelaskan sedikit karakter Rama kepada Gita.

“Saya yakin kalo Abangmu ga akan ngingkarin janjinya lagi,saya duluan ya Fyn.Aku tunggu di bawah.” Gita meninggalkan mereka berdua.

Fynta semakin tidak mengerti,ia yakin ada suatu hal yang sedang ditutupi Rama.Ia lalu menatap Rama dengan tajam dan akhirnya Rama menceritakan yang sebenarnya terjadi.Fynta tersenyum setelah mendengar penjelasan Rama,dan ia sangat mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.Mereka lalu masuk ke dalam bioskop untuk segera menonton film pilihan mereka setelah petugas bioskop menginformasikan jika pertunjukan akan segera dimulai.

“Nie duitnya Bang.” Fynta menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada Rama.

“Kok duitnya utuh.” Tanya Rama heran

“Aku ga jadi beli tiket”

“Loh…terus tiket ini dari mana? “

“Tadi aku kehabisan tiket,terus ada cewe yang ngasih tiket ini.Katanya sih dia ga jadi nonton karena seseorang telah ngebatalin janji buat nemenin dia nonton.”

Rama mencerna perkataan Fynta dan akhirnya mengerti maksud ucapan Adiknya itu,dan ia semakin merasa bersalah kepada Gita.


Disebuah coffee shop Gita duduk sendiri sambil menikmati segelas ice capucinonya.Ia sedang memikirkan sikap Rama yang sudah membuatnya sedih.Ingin rasanya memarahi Rama sampai orang itu merubah sifat-sifatnya dan mulai mencintainya,akan tetapi itu tidak mungkin dilakukannya karena ia sadar jika sama sekali tidak mempunyai hak apa-apa untuk berlaku seperti itu kepada Rama.
Dua jam kemudian Rana dan Fynta datang menghampiri dirinya,perasaan senang bercampur kesal memenuhi hatinya yang saat ini sedang dimabuk asmara.Setelah menawarkan minuman kepada sepasang kakak beradik itu,Gita lalu mengajak Fynta berbicara banyak,kebawelan Fynta membuat ia mendapat banyak sekali informasi mengenai keluarga Rama yang sebelumnya selalu ia tutup-tutupi.Ia juga terlihat berusaha untuk menarik perhatian Fynta karena selain Fynta adalah seorang periang yang sangat menyenangkan untuk diajak ngobrol,Gita juga dengan mudah dapat lebih banyak melakukan pendekatan terhadap Rama lewat bantuan Adiknya itu.

“Kok diem aja sih Bang? “ Tanya Fynta kearah Rama yang sejak tadi hanya terdiam dan sesekali tersenyum maksa.

Rama menatap Fynta seakan memberi tahu jika ia tidak suka dengan pertanyaan adiknya barusan yang membuatnya terlihat bodoh.

“Iya nie Rama,udah ga usah dipikirin.Saya udah ga marah kok sama kamu.” Gita membuat Rama merasa kembali tersudut.

“Abang saya memang begini Git,jangankan sama cewe,sama cowo aja dia suka males buat ngobrol.” Fynta mencoba sedikit membela Rama.

Gita tersenyum kepada Rama,dan Rama membalas senyumannya.Beberapa saat kemudian Rama mulai memberanikan dirinya unutk sedikit berbasa-basi dan menjawab berbagai pertanyaan dari Gita.Mereka akhirnya pulang menuju rumah masing-masing.


Rama sedang menikmati ganja lintingannya di dalam kamar,kenikmatannya terganggu ketika Fynta masuk ke dalam kamarnya.

“Barusan Gita telpon aku Bang.” Ucap Fynta sambil menepuk punggung Rama

“Oh…” Rama menanggapi dengan sangat singkat.

“Kok oh doang sih tanggapannya,nanya kek gitu dia ngomongin apa aja.”

“Emangnya perlu ya gw tau apa yang dia omongin sama lo” Rama kembali menghisap ganjanya.

“Ya enggak sih,tapi setidaknya Abang kan harus tau perasaan dia kayak gimana.”

“Gw ga mau tau perasaan dia kayak gimana,yang penting gw ga pernah punya perasaan apa-apa sama dia.Titik.”

“Bang…. ga boleh punya pikiran kayak gitu,hargai perasaan orang Bang.Lagipula apa salahnya sih kalo nyoba untuk suka sama cewe, terus pacaran,dan itu semua wajar kan? ” Fynta mulai mengarah ke topic pembicaraan yang lebih serius.

“Udah sana tidur,kayak nenek lampir lo malem-malem gini ngoceh.” Celetuk Rama sambil menarik tangan Fynta untuk segera keluar dari kamarnya.

“Tuh kan ga pernah mau dengerin adenya sendiri” Fynta pasrah untuk keluar dari kamar Rama.

“Nggak buat hal ga penting kayak gini.”Rama menutup pintu kamarnya,ia lalu melanjutkan kesibukan yang sebelumnya ia lakukan.

Untuk kesekian kalinya Fynta merasa gagal menasehati Rama untuk merubah sifat buruknya itu.Ia lalu kembali ke kamarnya untuk kembali mengerjakan tugas sekolahnya yang tadi sempat tertunda oleh telepon dari Gita.

Dikarmanya Gita sedang tersenyum-senyum puas karena sudah mencurahkan perasaannya terhadap Fynta,ia sangat berharap Fynta dapat membantunya untuk mendapatkan cinta Rama.Malam ini bayangan Rama tidak bias lepas dari kepalanya,ia lalu kembali mengambil ponselnya dan mencoba untuk mengirimkan sebuah sms kepada Rama.Ia lalu menunggu,menahan rasa ngantuknya berharap Rama membalas pesannya itu.Dan gadis manis itu ketiduran karena pesannya tak kunjung dibalas oleh pria idamannya.

****



Satu minggu telah berlalu dan hari ini adalah hari terakhir libur bagi Rama dan Adiknya,Fynta.Rama tidak mempunyai rencana apa apa pada hari ini dan tetap menghabiskan waktu di dalam kamarnya sedangkan Fynta menemani Bunda ke rumah sakit untuk menjenguk anak kerabat ayah yang baru tadi pagi dilarikan ke ruang ICU karena sebuah penyakit yang katanya sudah lama diderita.Mereka berdua lalu berangkat dengan menggunakan Taksi yang sudah menunggu di depan rumahnya karena ayah langsung menyusul ke rumah sakit pada waktu istirahat makan siang kantornya.
Sesampainya di rumah sakit Bunda menelepon Ayah dan menanyakan keberadaan Ayah saat ini,mereka akhirnya bertemu di ruang rawat inap kelas VIP di rumah sakit itu.Ayah mengenalkan kerabatnya itu kepada Fynta dan Bunda.Diatas kasur terlihat seorang gadis yang tidak asing lagi bagi Fynta,gadis itu adalah Gita,teman wanita Rama yang baru saja dikenalnya satu minggu yang lalu di sebuah bioskop karena sebuah perisiwa memalukan yang sudah dilakukan Rama.Fynta memeluk Gita meninggalkan sebuah pertanyaan kepada para orang tua mereka.Tiba tiba ia merasa sangat bersalah karena sudah mencoba menghindar dari Gita karena tidak ingin mengecewakannya karena Rama sama sekali tidak mencintainya.Ia lalu berusaha menutupi rasa bersalahnya.

“Lo kenapa? ” Tanya Fynta

“Gpp kok tadi cuma kecapean aja,makanya butuh istirahat” Jawab Gita dengan sebuah senyuman.

Fynta sadar jika Gita berusaha menutupi penyakitnya,ia lalu tidak banyak bertanya dan hanya berniat untuk membuat Gita sedikit bahagia.

“Kalian udah saling kenal? “ Tanya Bunda yang sempat heran dengan keakraban mereka berdua.

“Udah…Gita ini temennya Rama Bunda” Bunda terlihat aneh dengan jawaban Fynta,ia tidak menyangka jika Rama mempunyai seorang teman wanita.

Ayah,dan kedua orang tua Gita lalu mengobrol di sebuah sofa yang terletak di dalam kamar itu setelah menegetahui jika anak mereka ternyata sudah saling mengenal,sedangkan Bunda pamit sebentar untuk keluar untuk membeli sebuah vitamin di apotik.

“Rama ga ikut?” Tanya Gita

“Ehh..tadi dia masih tidur,jadinya ditinggalin.” Fynta sedikit berbohong.

“Jangan kasih tau dia ya kalo saya masuk rumah sakit.” Ucap Gita membuat Fynta heran

“Emang kenapa Git,gw baru aja mau sms dia,nyuruh dia nyusul kesini”

“Emangnya dia mau? “ Tanya Gita lago,kali ini nada suaranya sedikit menurun.

“Tenang aja,dia pasti mau.Nanti gw bilang kalo Ayah sama Bunda yang nyuruh dia kesini.Pasti dia mau.”

“Mendingan nggak usah Fyn kalo dia datang karena alasan nurutin kemauan orang tua kamu,bukan karena berniat mau menjenguk saya.” Ucapan Gita membuat Fynta kikuk,ia merasa telah membuat kesalahan dalam ucapan lagi.

“Ya nggak gitu Gita,gw adenya Rama dan gw sangat mengerti akan dia.Gw yakin dia pasti sekarang lagi panic karena ngebaca sms gw yang ngasih tau kalo lo masuk rumah sakit.Dan nggak lama lagi ia bakalan datang kesini dengan alasan mau ngejenguk lo,bukan karena alas an lain.” Fynta membela diri

“ Kan tadi kamu sendiri yang bilang kalo dia bakalan dating kalo kamu bawa nama orangtuamu.”

“Kan becanda Git,lo tuh beneran kecapean banget tuh,sampe jadi sensitive gitu hari ini.hehehehehe…..” Fynta tetap membela diri berusaha membuat Gita melupakan kalimat yang baru ia ucap.

Gita tersenyum,sangat tampak sekali jika ia menahan rasa sakitnya dengan senyumannya.

“Rama udah bales? “ Tanya Gita beberapa saat kemudian.

“Kan baru dikirim sayang…bentar lagi pasti bales,malah mungkin sekarang dia udah dijalan.” Fynta kembali menghimbur Gita.

“Coba sifat Rama menyenangkan seperti kamu ya Fyn.” Gita mengomentari Rama dan membandingkannya dengan Fynta yang sangan periang,supel,dan pandai bergaul.

“Sebenernya gw sama dia ga jauh beda tau Git,dia Cuma ga gampang bergaul sama orang yang baru dia kenal.” Fynta sedikit memberikan informasi tentang salah satu sifat Rama

“Tapi dia sudah menegenal saya hampir selama dua bulan,dan ia tetap bersifat sama seperti pertama kali kita berkenalan.Dingin,cuek,dan tidak pernah terlihat sedikitpun memperdulikan saya.Dan perasaan saya tidak pernah bias berubah karena sifatnya itu.Saya sayang dia,ga salah kan Fyn kalo saya mempunyai perasaan seperti ini sama dia ” Nada bicara Gita sangat serius.

“Lo sama sekali ga salah dan Lo harus percaya sama gw kalo Rama ga seperti yang lo pikir.Dia perhatian kok,dan selalu membuat orang merasa nyaman kalo lagi ada di dekatnya.”

“Memang…beberapa kali dia mau nerima ajakan saya buat pergi ke suatu tempat,dan saya sangat merasa nyaman disampingnya walaupun seringkali dianggap patung olehnya.”

“Oh God….segitunya perasaan nie orang sama Abang gw,apa yang harus gw lakuin ya..? “ Fynta berbicara dalam hati,senyumannya seakan menyembunyikan kekalutannya akan hal ini.

“Dia belum bales juga Ya Fyn? “ Gita kembali menanyakan kabar Rama.

“Dia udah di jalan kok,barusan dia sms gw.” Fynta akhirnya mulai berbohong kepada Gita.

Gita tersenyum,dari wajahnya tampak jelas jika ia sebenarnya tidak begitu mempercayai jawaban Fynta,akan tetapi jujur ia sangat senang mendengar jawaban itu,dan berharap Tuhan akan mewujudkannya.

“Kamu yakin Fyn kalo dia ga pernah pacaran.” Tanya Gita

“Yakinlah,masa lo ga percaya sama gw.Gw kan sama dia tinggal satu rumah,dan ga ada hal yang bisa dia tutupin dari gw,karena selain gw siapa lagi temen ngobrolnya.”

“Tapi lo beruntung bisa jadi temen ngobrolnya sedangkan saya sampai sekarang belum bias menjadi seperti itu.”

“Hehehe…Bukan lo doang Git,sampe sekarang belum ada orang yang bias ngobrol lama sama dia,malahan gw pikir lo special dimata Rama.Dia udah mau ngabisin waktunya diluar sama lo,bahkan bukan Cuma sekali.”

Senyuman Gita membuat Fynta sedikit lega,karena merasa ia baru saja membuat gadis malang itu bahagia,walaupun sampai saat ini ia masih bingung dengan apa yang ada diotak Rama yang belum juga membalas sms nya.

“Assalamualaikum…” Raka muncul dari arah pintu dengan membawa sebuah parcel kecil berisikan buah buahan,lalu masuk setelah dipersilahkan masuk oleh orangtua Gita,ia menyalami mereka dan berjalan kearah Gita yang masih berbaring di tempat tidur.

Alangkah senangnya hati Gita dengan kedatangan Rama,Energi yang sempat hilang dalam tubuhnya seakan kembali lagi untuk memberikan sebuah semangat di dalam jiwanya.Ia lalu melirik Fynta yang sangat merasa lega dengan kedatangan Rama.

“Terima kasih ya Fyn.” Ucap Gita pelan.

“Thanks God…” Ucap Fynta dalam hati sambil memberikan senyuman kepada Gita.

“Hi…gimana badan lo Git,udah mendingan belom? “ Tanya Rama yang sudah berada tepat di samping Fynta.Ia lalu meletakkan bawaannya itu di meja kecil yang berada tidak jauh dari Gita.

“Udah gpp kok Ram,saya cuma kecapean aja.Kamu pake repot-repot bawa buah segala.” Perasaan Gita saat ini sudah dapat mengalahkan rasa sakitnya.Ia terlihat lebih segar dan sehat.

“Nggak kok,masa buah aja bikin gw repot,lo harus banyak makan buah Git.” Rama mencoba menasehati Gita.

“Terimakasih ya Ram.” Wajah Gita berseri-seri,memantulkan bias-bias kecantikannya.

“Kembali” Jawab Rama.Kedua anak remaja itu lalu asik mengobrol sampai melupakan jika Fynta yang ada di dekat mereka.

Fynta terkejut dengan sifat Abangnya saat ini,ia merasa ada yang salah dengan indera pendengarannya.Tetapi itu semua ditepisnya,dan ia cukup senang dengan situasi saat ini.Perlahan ia jalan meninggalkan mereka berdua menuju kearah para orangtua itu.
Setelah kejadian ini Rama menjadi sedikit berubah,setiap hari ia menjenguk Gita di rumah sakit,bahkan menemaninya mengobrol seharian,dan sangat terlihat kesehatan Gita sedikit membaik karena hal ini.

to be continue......

2 komentar:

  1. bagus meehh..tapi pas awal2 baca..karakter cowo nya kaya loe deh hahahaha..vespa..dan komik Conan...

    BalasHapus
  2. ini gw tulis sebelum gw punya vespa riya...hehehe...baca lanjutannya ya,,elo orang pertama yg ngasih komentar....mantabs...terimakasih buanyak

    BalasHapus