Pintu gerbang sekolah hampir saja ditutup,dari kejauhan tampak Rama yang sedang membocengi Fynta dengan kendaraan antiknya itu,ia menambah kecepatan agar segera sampai di dalam sekolah sebelum pintu itu tertutup rapat dan akhirnya ia berhasil memarkirkan Bako tepat pada saat gerbang tertutup.Ia masuk kedalam kelasnya dan bersiap untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar pada hari ini.Ia mengikuti semua mata pelajaran dengan sangat serius dan bersemangat.Sepulang sekolah ia buru-buru menuju parkiran,lalu segera pulang tanpa menunggu Fynta yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.Ia memacu vespanya dengan kencang,melewati toko-toko para pengrajin Bali,puluhan restoran Babi panggang,hingga akhirnya ia sampai ke suatu tempat,dari luar bangunan itu persis sebuah distro maupun FO,dengan neon box bertuliskan “Kuta Mushroom”.Rama masuk kedalam toko dan tak lama keluar dengan membawa plastic yang di dalamnya terdapat sebuah gelas plastik berisi minuman berwarna coklat butek,persis seperti warna air kali ciliwung.Ia lalu melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumah.
“Rama….” Seseorang berteriak menyebut Rama itu dan berjalan ke arahnya.Rama terlihat sangat takut dengan kehadiran orang itu yang terus menerus memarahinya.Ia lalu mengucek matanya dan orang itu tetap ada di depannya.Rama berusaha untuk lari akan tetapi jalan keluar sangat jauh dari posisinya berdiri saat ini,dan ia akhirnya terjatuh karena terus menerus mundur dengan perasaan takut.Orang itu mengangkat tangannya dan berusaha untuk menyerang Rama.
Suasana depan rumah Rama sunyi sepi,hanya terdengar suara adzan yang berkumandang,lalu tiba-tiba terdengar sebuah kegaduhan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaa……..” Rama berteriak sampai akhirnya Fynta datang dan menyadarkannya.
“Gw mimpi ya Fyn? “ Tanya Rama,dari wajahnya sangat terlihat jelas jika ia sedang ketakutan.
“Nggak..” Jawab Fynta polos.
“Terus tuh orang mana sekarang?’ Rama mencari seseorang yang tadi hampir saja membunuhnya .Sedangkan Fynta mencari cari hal apa yang membuat Abangnya seperti ini,tetapi ia tidak menemukan apa-apa,selain sebuah gelas plastik kosong,yang tergeletak di bawah poster Edward Scisorhand yang belum sempat Rama pajang di dindingnya.
“Aneh,makanya jangan kebanyakan nge ganja.” Celetuk Fynta sambil berjalan meninggalkan Rama yang masih merasa sangat parno dengan kejadian yang baru saja ia alami.Gadis itu pun lupa dengan maksud kedatangannya ke kamar Rama.
Tidak lama kemudian Fynta kembali ke kamar Rama karena teringat suatu hal yang lupa ia sampaikan,akan tetapi lagi lagi tertunda karena Rama sama sekali tidak memperdulikannya dan asik menonton sebuah film komedi dengan suara tawa yang cukup keras.
“Aaahhh….kenapa sih nie orang,tadi ketakutan,sekarang malah ketawa gak karuan.Makanya jangan kebanyakan ngendem dikamar,gila beneran baru tau rasa.” Fynta langsung berlari menuju dapur ketika mendengar suara panggilan dari Bunda yang menyuruhnya untuk membantu menyiapkan makan malam.
“Baru kali ini gw nyobain yang namanya mushroom,awalnya seluruh cahaya cahaya lampu di dalam kamar terlihat indah bagaikan bintang dan efeknya sangat dasyat,baru minum satu gelas aja gw udah kayak orang gila.Gw ngeliat Edward Scisorhand keluar dari frame poster yang belum sempet gw pajang,dia ngejar-ngejar gw,sampai akhirnya dia berusaha untuk ngebunuh gw dengan kedua tangannya yang penuh dengan benda benda tajam yang bisa nyabut nyawa gw dengan sesaat dan itu semua bukan mimpi,gw yakin itu bukan mimpi.” Tulis Rama didalam blognya.
Bunyi ponsel menghentikan gerakan jemari Rama yang sedang asik menekan tombol tombol keyboard laptopnya.Ia lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari Gita itu.
“Halo…” Sapa Rama
“Malam Rama,lagi ngapain? “ Suara Gita mengalun halus ditelinga Rama
“Lagi dikamar aja Git,lo udah pulang kerumah ya ? “ Rama mencoba untuk berbasa basi
“Iya,kok tau.” Gita merasa senang karena Rama ternyata mengikuti perkembangannya
“Tadi Bunda ngasih tau gw,tapi lo pulang bukan karena bosen dirumah sakit kan ? “
“Sebenernya karena itu sih,tapi kata dokter kondisi saya memungkinkan kok buat istirahat dirumah aja.”
“Bagus deh kalo gitu,ada apa Git,kok sempet-sempetnya telpon gw bukannya istirahat,biar cepet sembuh.”
“Justru dengan mendengar suara kamu kamu bikin saya jadi cepet sembuh” Gita tersenyum malu setelah mengucapkan kalimat itu.
“Halah…Emangnya gw Afgan,atau Pasha Ungu yang bisa bikin fans fansnya yang udah sekarat bisa idup lagi” Celetuk Rama
“Ahh..kamu ngawur deh.Ram,kamu mau nemenin saya jalan jalan Ga? “ Gita akhirnya mengutarakan keinginannya setelah sebelumnya sempat ragu ragu untuk mengatakannya.
“Lo mau jalan jalan kemana? “ Tanya Rama
“Kamu mau nemenin saya jalan jalan Ram? “ Gita balik bertanya karena tidak yakin dengan ucapan Rama yang terkesan menerima ajakannya.
“Kenapa enggak,gw juga butuh reflesing nie,udah seminggu lebih ga keluar rumah.” Rama menggaruk garuk kepalanya
“Terima kasih Rama,gimana kalo kita ke Tanah Lot.Kamu belum pernah kesana kan? “ Gita yang sedang girang sejadi jadinya menawarkan sebuah tempat tujuan.
“Siap…kapan lo mau kesananya ?”
“Besok sore,kamu ga ada acara kan? “
“Nggak ada kok,yaudah kalo maunya besok,mau gw jemput apa langsung ketemu disana aja? “
“Ga usah pake dijemput ah Ram,saya ga mau makin ngerepotin kamu.Kita ketemu disana aja,papahku punya toko souvenir disana,kita ketemu disana aja,nanti saya sms alamat toko papah.” Gita membolak balikkan tubuhnya,badannya seakan tidak bisa diam karena kegembiraan yang sedang ia rasakan ini.
“ Sip…”
“Udah dulu ya Ram,sampai ketemu.” Pamit Gita
“Okay…” Balas Rama
“Daaaah”
“Daaahh” Rama menutup ponselnya dan kembali melanjutkan mengisi blog pribadinya,sedangkan Gita terpaku sampai lupa untuk mematikan ponselnya.Ia lalu tersadar dan mulai membuka lemari untuk memilih baju yang akan ia pakai besok.
Sore ini sinar matahari sangat terik,kali ini Rama tidak menggunakan vespanya,ia menggunakan jasa sebuah taxi untuk mengantarkannya ke tempat yang ia tuju.Setelah berjalan sekitar satu jam ia akhirnya sampai juga di Tanah Lot,sebuah tempat rekreasi yang terkenal dengan pemandangan sunsetnya.Suasana ditempat itu sangatlah ramai,para turis asing maupun local berbondong bondong untuk naik ke atas karang yang sangat tinggi untuk melihat matahari yang akan tenggelam dengan indahnya.Ia lalu membuka ponselnya,melihat sebuah pesan dari Gita yang berisi alamat tempat mereka janjian untuk bertemu.Dan akhirnya ia sampai di sebuah toko yang menjual barang barang khas Bali.
“Rama” Seorang gadis cantik berpakaian sedikit sexy memanggilnya.Ia adalah Gita yang sudah lebih dari satu jam menunggu Rama di tempat itu.
“Hi…” Sapa Rama
“Kamu ganteng sekali hari ini” Puji Gita dengan senyuman manisnya
“Lo juga cantik.” Rama tidak mau kalah untuk memuji Gita.kali ini sama sekali tidak terlihat wajah sok kaku yang selalu diberikan Rama kepada para wanita.
Gita tersipu malu dengan pujian itu ia lalu mengajak Rama untuk menuju ke atas karang seperti yang dilakukan para wisatawan yang datang kesana setelah mengambil sebuah kantong plastik dari meja kasir.Mereka berdua lalu berjalan kaki menuju tempat itu.
Akhirnya mereka sampai diatas sebuah karang yang sangat besar,dibawah mereka terlihat lautan luas yang mengirimkan ombaknya untuk menghantam karang.Suara ombak itu terdengar keras ditelinga mereka sehingga mengharuskan mereka berbicara dengan nada suara yang agak tinggi.
“Setengah jam lagi kamu bakalan ngelihat sebuah keindahan sunset yang membuat Tanah Lot selalu dikunjungi oleh para wisatawan.” Gita merapikan rambutnya yang berantakan karena hembusan angin yang sangat kencang.
“Lo kayaknya sering kesini ya Git,sampe hafal kapan waktu sunset turun? “ Tanya Rama,ia membetulkan kacamata hitamnya dan terus memandangi keindahan alam yang ada di depannya.
“Sejak kecil hampir setiap kesedihan datang saya selalu kesini.Karena tempat ini selalu memberikan suatu penyegaran bagi Saya.” Jawab Gita ,matanya terus menerus memandangi wajah Rama.
“Oh ya…sendirian? “ Tanya Rama penasaran mendengar pengakuan Gita.
“Iya,kenapa,kamu kaget ya mendengar kalo saya juga sebenarnya hobi menyendiri” Tanya Gita
“Iya…gw pikir lo type orang yang suka ngabisin waktu lo sama orang-orang banyak,dan gw sama sekali ga pernah tau kalo lo ternyata juga suka menyendiri.” Rama tetap memandang lautan didepannya,hanya sesekali saja ia mengarahkan wajahnya kepada Gita.
“Kamu salah,saya tidak pernah merasa nyaman dengan keramaian,dan walaupun tempat ini ramai akan pengunjung akan tetapi keindahannya membuat suasana menjadi sangat sunyi dan tenang.” Kali ini Gita merubah pandangannya kearah langit luas yang sudah mulai berubah warna karena sebentar lagi matahari akan tenggelam dan segera menarik semua sinarnya yang sudah hampir seharian menyinari bumi.
Rama hanya menanggapi penjelasan Gita dengan sebuah senyuman.Matahari perlahan turun dan mengeluarkan sebuah fenomena alam yang disebut sunset.Sebuah pemandangan yang sangat indah,para pengunjung sibuk untuk mengabadikan moment itu dengan para kerabatnya masing masing.
“Git,sunset…” Rama menunjuk kearah matahari yang perlahan pergi untuk segera berotasi.
“Ram,saya sayang kamu,saya cinta kamu.Dan saya sangat berharap kamu merasakan hal sama dan mau untuk menjadi pacar saya.” Tiba tiba Gita mengutarakan perasaannya yang sudah dua bulan ia pendam kepada Rama.
Rama terlihat santai mendengar ucapan Gita,tampaknya ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya jika hal ini terjadi.Ia menatap Gita penuh arti,kembali menebarkan senyumannya dan memegang erat tangan Gita.
“Seumur hidup,baru sekarang gw bisa sedeket ini sama cewe,bisa ngobrol banyak,berbagi cerita,dan menghabiskan waktu bersama.Jujur ga ada cewe yang bisa bertahan dengan sifat sifat gw,mereka selalu bilang gw itu aneh,nyebelin,ga asik,ga perhatian,dan lain sebagainya.Tapi lo bikin gw yakin kalo ga semua cewe punya pikiran kayak gitu sama gw,lo sabar, selalu bisa mengerti gw,dan ga pernah terlihat merasa menyesal untuk karena udah mengenal gw.Lo baik,pinter,ga munafik seperti cewe pada umumnya,dan gw sangat menghargai itu semua.Tapi maaf Git,gw belum siap untuk jatuh cinta.Cinta menurut gw punya arti yang sangat besar dan bukan sebuah ucapan yang mudah untuk diutarakan.” Rama menghentikan ucapannya yang sangat serius itu,ia tetap memandang wajah Gita yang mulai sedikit tertunduk.
“Tapi saya tulus dan beneran cinta sama kamu Ram,saya janji akan ngasih semua perhatian saya buat kamu,dan tidak akan menyia-nyiakan kamu.” Gita tidak begitu saja menerima keputusan yang baru saja diucapkan Rama.
“Gw yakin lo setia,baik,penyayang,dan satu lagi Git,gw suka wanita sederhana kayak lo.Tapi sekali lagi gw minta maaf Git,mempunyai hubungan khusus dengan seorang wanita sama sekali belum ada di pikiran gw,bagi gw itu sakral dan gw ga mau main main dengan satu itu.Gw masih mau ngejar cita cita gw dulu Git,setelah itu baru gw rela untuk mencintai seseorang.” Bahasa Rama membuat Gita tak mapu lagi untuk mengeluarkan kata-kata,ia terdiam,menunduk,dan pada akhirnya klise…airmatanya mulai menggenangi bola matanya lalu perlahan menetes di pipinya.Tangan mereka tetap berpegangan,semakin lama semakit erat.
“Git,gw balik duluan ya,ga bagus juga gw lama lama disini,nanti gw jadi ikutan cengeng kayak lo.” Rama pamit untuk pergi meninggalkan Gita.
Gita hanya mengangguk di dalam tundukannya,air matanya masih terus bercucuran,dan dengan berat hati ia melepas tangannya dari genggaman Rama.Ia memberikan sebuah plastik yang berisi sebuah barang kepada Rama.Dan ia terus menunduk sampai Rama sudah tidak terlihat.Langit sudah semakin gelap,cahaya sunset tadi mengisyaratkan keindahan perasaan cinta Gita kepada Rama.
Didalam perjalanannya Rama menerima sebuah pesan yang bertuliskan “ Bang,kamu kan belum packing”.Rama langsung membalas pesan itu dan meminta supir taxi untuk menambah kecepatannya.
Sesampainya di rumah Rama langsung buru buru membereskan sisa barang barang pribadinya yang akan ia bawa sendiri tidak menggunakan jalur kargo seperti barang barangnya yang lain.Besok,tepatnya pukul tujuh pagi mereka harus berada di bandara Ngurah Rai,karena sudah saatnya Ayah dipindahkan ke suatu kota yang lain oleh kantornya.Dan kepindahan ini bukanlah hal yang baru bagi mereka.
****
Rama sedang asik membaca komik detective conan seri terbaru,wajahnya terlihat santai,terkadang ia juga tertawa kecil,mengikuti alur cerita yang sedang ia baca.Sedangkan Fynta sibuk bolak balik di depan Ayah dan Bunda sambil melihat jam tangannya.Jika tidak ada kendala apa apa setengah jam lagi pesawat mereka terbang menuju Bandung kota tujuan mereka berikutnya.Muka Fynta terlihat panik,seperti menunggu sesuatu,tetapi panggilan petugas bandara yang mempersilahkan para penumpang untuk segera masuk pesawat membuatnya seakan menyerah dengan apa yang sedang ada di pikirannya.Mereka semua lalu masuk ke dalam sebuah ruangan untuk menunggu bis jemputan yang akan membawa mereka ke tangga pesawat datang.Rama jalan paling belakang,matanya masih terus melihat komiknya,setelah sadar sudah berada di depan pintu masuk ruangan itu,ia memasukkan komiknya ke dalam tas dan tanpa sengaja ia melihat Gita yang berdiri cukup jauh darinya.Ia menatap Rama tajam,lalu memberikan sebuah senyuman indah kepada Rama.Rama membalas senyuman itu dan berusaha memalingkan wajahnya dan akhirnya ia hilang dari pandangan Gita.Pada saat itu juga,Gita tidak berhasil menahan air matanya dan kembali membasahi pipinya lagi.Berkat Rama Gita kembali mendapatkan semangat hidupnya yang sudah lama hilang,dan kini ia berjuang untuk melawan penyakitnya.
Kursi Fynta berada disamping jendela dan Rama disampingnya,sedangkan Ayah dan Bunda duduk agak jauh dari kursi mereka.
“Fyn,gw dipojok dong.” Rama meletakkan tasnya di sek atas.
“Nggak mau,dari dulu aku ngalah terus sama Abang kalo dapet tempat di pojok.” Fynta menolak permintaan Rama.
“Lo kan ade gw yang paling nurut Fyn,jangan rusak reputasi lo dong di depan gw.” Rama duduk dan tetap berusaha untuk merayu Fynta dengan berbagai macam alesan.
“Ada syaratnya…” Tantang Fynta,ia lalu membuika majalah dan pura pura membacanya.
“Ya ampun nie anak,kok jadi kayak gitu sih lo,pake syarat syarat segala.” Omel Rama
“Terserah,mau apa nggak,gampang kok syaratnya.” Mata Fynta terus melihat kearah majalah,sesekali ia juga membalik majalah itu.
“Apa? “ Tanya Rama
Fynta menutup majalahnya,ia menatap Rama seakan ingin membicarakan suatu hal yang serius.
“Sampe sekarang aku sama sekali ga ngerti sama perubahan Bang Rama? “ Fynta memegang dagunya.
“Maksud lo? “ Rama merasa penasaran.
“Ga ada ceritanya Muhammad Ramadhan,Abang gw yang gw kenal sejak lahir bisa jatuh cinta sama seorang gadis yang baru dikenalnya selama dua bulan.” Fynta menggaruk garuk kepalanya seperti sedang mencoba untuk berpikir.
“Sok tau,emang siapa yang jatuh cinta.” Rama mengelak dari tuduhan Fynta.
“Eitss….sikap Bang Rama sama Gita belakangan ini ngebuktiin kalo Abang jatuh cinta sama dia.” Fynta melanjutkan pancingannya,dan semua ini sudah diaturnya untuk mengorek sebuah hal yang sudah ditutupi Rama terhadapnya.
“Emang gw bego bisa kepancing sama pertanyaan pertanyaan ga mutu lo itu.” Fynta langsung lemas dan putus asa karena Rama menyadari akal bulusnya itu.
“Ga kepengen nyeritain semuanya sama aku,selain bisa dapetin kursi ini,aku janji bakalan kasih bonus topi pancing setelah kita nyampe di Jogja nanti.” Fymta menepuk kursi yang sedang ia duduki.
“Gw rasa kamar yang bakal gw tempatin di Jogja nanti ga cukup gede buat nampung topi pancing yang lo mau janjiin itu,jadi dengan sangat berat hati gw lebih milih diem,dan pasrah untuk duduk disini.” Rama tersenyum kearah Fynta,ia lalu memasang earphone Ipod ditelinga.Dan memejamkan matanya.
Fynta melepas earphone yang baru saja dipakai Rama
“ Bang,tega banget sih,aku yakin pasti ada yang disembunyiin.Cerita dong bang,mau apa ade tersayang mu ini mati penasaran” Rayu Fynta
“Asal ga gangguin gw gpp.” Jawab rama padat sambil memakai earphone itu lagi,tapi ditahan Fynta.
“Bang,sama siapa lagi Abang bisa curhat selain sama aku.” Fynta memberikan senyuman sok asiknya,sambil memegangi tangan Rama agar tidak berusaha memakai earphone itu kembali.
“Gw masih punya beratus ratus halaman di blog pribadi gw yang bisa gw isi sama curhatan curhatan gw kapanpun gw mau” Rama melotot kearah Fynta yang terus menerus memaksanya.
Fynta memalingkan wajahnya,dan mengambil majalah yang tadi sempat ia baca.Ia membiarkan Rama untuk memasang kembali earphonenya.Dan percakapan mereka pun usai.
“Sekitar satu minggu yang lalu Bunda telepon gw,dia bilang dia ada perlu sama gw dan mengharuskan gw untuk datang ke rumah sakit,tempat dia menjenguk anak salah seorang kerabat Ayah.” Fynta perlahan mengarahkan tubuhnya kearah Rama,ia menaruh kembali majalahnya dan bersiap untuk menjadi pendengar yang baik.
“Terus terang gw ngerasa aneh sama telepon Bunda,gw ngerasa ada suatu hal penting yang sedang dihadapi Bunda,dan gw sangat siap untuk membantunya.Gw langsung membelokkan vespa gw kearah rumah sakit,padahal awalnya gw berniat mau membeli kopi kaleng di minimarket terdekat.” Rama membuka earphonenya,dan kembali melanjutkan penjelasannya.
Flashback
“Ada apa Bunda? “ Rama berusaha menahan rasa paniknya yang ia rasakan sejak Bunda meneleponnya tadi.
“Bunda sangat mengerti kamu,bahkan lebih dari semua orang yang mengenalmu.Betul begitu? “ Bunda mengajak Rama untuk duduk di kursi tunggu yang terletak di depan apotik rumah sakit tersebut.
“Iya Bunda,ada apa sih Bunda,jangan bikin aku penasaran dong.” Rama semakin penasaran dan memaksa Bunda untuk langsung masuk pada inti permasalahan.
“Kamu pasti kenal dengan gadis cantik yang bernama Gita? “ Pertanyaan Bunda membuat mata Rama terbelalak.
“Bunda tau dari mana ? “ Rama kembali bertanya.
“Gadis itu berada sekarang sedang berada di dalam ruang inap rumah sakit ini.” Rama mulai mengerti dari mana Bunda mengenal Gita.
“Terus,apa hubungannya aku sama dia nda? “ Rama masih tidak mengerti dengan maksud bunda memanggilnya kesini dan apa hubungannya dengan Gita.
“Setau Bunda kamu ga pernah deket sama cewe selain dengan Bunda dan adikmu Fynta.” Bunda tetap mengulur pembicaraan dan membuat Rama semakin penasaran.
“Emang…terus kenapa Nda? “ Rama kembali memberikan pertanyaan.
“Bunda yakin kamu sangat spesial dimata Gita.” Ucapan Bunda barusan membuat Rama semakin bingung,ia lalu diam dan berharap Bunda meneruskan maksud pembicaraannya sampai ia mengerti dengan ini semua.
“Dia sakit parah,dan sampai saat ini belum ada dokter dan obat yang bisa menyembuhkannya dengan total.Sudah lama sekali bunda mendengar tentang penyakit Gita bahkan sebelum bertemu dengannya.Ayah Gita adalah sahabat akrab Ayahmu ketika kuliah dulu,mereka berdua selalu saling membantu untuk mendapatkan yang mereka mau.Dan sampai saat ini hubungan itu sangat berjalan dengan baik.Dia pernah datang bersama istrinya kerumah beberapa hari setelah kita tinggal di Bali.Waktu itu kamu dan Fynta sedang sekolah sehingga kami tidak sempat mengenalkannya.Pada intinya Bunda dan Ayah sangat kasihan kepada Gita,dan berniat memberikan bantuan apapun demi kesembuhan Gita,setidaknya dapat memberikan sebuah hal yang dapat membuat anak gadis teman seperjuangan Ayahmu itu merasa berguna dan bersemangat untuk tetap menjalankan hidup dan berusaha bertahan dari penyakit yang sewaktu waktu dapat membunuhnya.” Bunda mulai menjelaskan maksud dan tujuannya menelepon Rama
“Terus? ” Ucap Rama singkat,ia mulai merasakan suatu hal yang ganjil.
“Ga tau kenapa,naluri bunda sebagai wanita mengatakan jika kamu bisa mewujudkan semua harapan kita semua,Bunda,Ayah,dan tentunya kedua orangtua Gita untuk dapat membuat Gita merasa seperti anak anak remaja pada umumnya,yang selalu ceria,bahagia,dan bersemangat.
Rama merasa dirinya sedang menjadi korban pada saat ini,baginya Bunda terlalu berlebihan untuk memintanya berbuat seperti itu.
“Maksud Bunda…..? “ Rama menahan ucapannya karena Bunda melanjutkan tiba tiba melanjutkan penjelasannya.
“Bunda Mohon,untuk kali ini saja kamu bersedia sedikit membohongi diri kamu untuk berperan layaknya seorang pemuda sejati yang datang untung menyenangkan hati pujaan hatinya.Dan orang yang dijadikan pujaan hatimu itu adalah Gita.” Dengan sangat terpaksa Bunda memohon kepada Rama.
“Tapi gimana caranya Nda? “ Rama mulai sedikit luluh dengan ucapan ucapan Bunda.
“Tadi,ketika kami sampai,ia langsung berpelukan dengan Fynta,Bunda sempat kaget dengan perkenalan mereka,apalagi setelah Fynta memberitahu Bunda jika Gita adalah temanmu.Setahu Bunda ia mempunyai sifat yang hampir sama sepertimu,ia tidak mudah dekat dengan orang yang baru ia kenal,apalagi seorang pria.Dan hampir semua hal mengenai Gita sudah diceritakan orangtuanya kepada Ayah dan Bunda.Awalnya Bunda tidak terlalu berpikir untuk melibatkanmu di dalam rencana kami,akan tetapi semua ini tiba tiba terencana ketika Bunda mendengar kalimat pertama yang diucapkan Gita,yaitu menanyakan keberadaanmu.Bunda yakin kamu sangat mengerti dengan maksud Bunda,dan mau untuk membantu rencana ini.” Kebaikan orangtua Gita membuat Ayah dan Bunda tidak bisa tinggal diam dengan penyakit yang sedang diderita Gadis malang itu.
“Tapi Bunda….” Rama kembali menahan ucapannya karena dipotong oleh Bunda
“Untuk kesekian kalinya Bunda mau bilang kalo Bunda sangat mengerti kamu,Bunda tau jika kamu tidak akan mudah untuk melakukan ini semua,tapi ini hanya sebuah rekayasa yang biasa dilakukan di film film ataupun sinetron.Kamu hanya berperan Ram,dan Bunda tidak memaksa kamu untuk merubah hatimu.” Bunda memegang kedua tangan Rama,ia yakin jika Rama akan menuruti permintaan tolongnya.
“Tapi Bunda,Aku takut Gita malah terlalu berharap sama aku,dan semakin membuat keadaan semakin rumit.” Ujar Rama
“Bunda yakin kamu cukup cerdas untuk membuat semuanya menjadi lebih baik,dan Bunda juga yakin jika kamu dapat membuat Gita akan lebih membuka matanya terhadap hidup yang harus tetap ia jalani.
Bunda lalu meninggalkan Rama dalam posisi yang sangat sulit,ia terdiam tanpa kata,sebenarnya permintaan Bunda ini bukanlah suatu hal yang menyenangkan baginya.Ia tetap terdiam dan mulai berpikir.Ia lalu berdiri dan melangkah dengan sebuah harapan.
Mata Fynta tak berkedip menatap wajah Rama,ia tidak menyangka dengan ini semua,apalagi dengan peran Bunda sebagai dalang dari sandiwara ini.
“Dengan awal yang sangat terpaksa,gw berusaha untuk menjadi orang terdekatnya,yang selalu memberikan motivasi dan semangat dalam dirinya untuk menghadapi hidup.Dan semuanya berjalan seperti yang lo tau,dan jujur semua yang gw lakuin ini bukan semata mata cuma untuk berusaha mewujudkan keinginan Ayah dan Bunda,akan tetapi sebuah rencana yang belum bisa gw certain sama lo.” Rama mengakhiri ceritanya.
“Tapi kan Bang,perbuatan Bang Rama itu malah bikin dia semakin sedih,Bang Rama udah ngasih dia harapan yang besar, dan menurut aku lebih baik Abang jauhin dia dari awal,daripada ngikutin kemauan Bunda yang pada akhirnya tetep aja bikin Gita sedih.” Fynta mengkritik hal sudah dilakukan Rama.
“Gita ga seperti cewe cewe lain,dia cukup cerdas untuk memahami ini semua,dan gw yakin peristiwa ini akan membuat hidupnya akan lebih baik.” Rama menepis pemikiran Fynta
“ Aneh…bikin orang sedih kok malah kekeh ngerasa sebagai pahlawan.” Fynta tetap tidak setuju dengan semua ini.
Rama tersenyum,seakan menyindir pemikiran Fynta yang amat sempit.Ia merangkul adiknya itu dan membisikkan sesuatu.
“Setidaknya ia akan merubah semua pemikirannya akan hidup,ia akan merasa jika tidak semua yang ia mau dapat dimilikinya,menerima dengan ikhlas penyakit yang diberikan Tuhan kepadanya dengan tetap bersemangat untuk menjalani hidup dan selalu berusaha untuk tetap bertahan hidup.” Rama kembali memakai earphonenya dan memejamkan matanya,berharap perjalanan ini tidak terasa dan cepat sampai di kota tujuan mereka yang baru,Bandung.
Sedangkan Fynta hanya menggelengkan kepalanya,dan tetap merasa jika Rama sudah melakukan hal yang salah,walaupun itu semua adalah rencana Bundanya.Ia mencolek Rama dan mempersilahkan Rama untuk duduk dikursinya karena ia merasa harus menepati janjinya.
****
Bandung 2006
Suasana dingin Bandung yang biasa disebut kota kembang membuat Rama tidak berniat untuk melepaskan flanelnya.Sebuah mobil mengantar mereka kesebuah rumah berlantai dua dengan bangunan minimalis dan barang barang minimalis di dalamnya,mereka semua lalu memasuki kamar masing masing dan mulai membereskan barang barang pribadi mereka.
Rama mulai menata kembali ruangan barunya itu,ia membongkar barang barang yang ia bawa dan juga beberapa barang yang dikirim melalui jasa kargo.Setelah menata kamarnya dengan sangat rapih,ia lalu berniatan untuk kembali bergelut dengan laptopnya
Ketika sedang asik berkutat dengan laptopnya,ia teringat suatu hal,ia lalu bergegas keluar kamar dan mencari sesuatu di dalam celah celah vespanya yang masih terbungkus rapih dengan karton yang ikut dikirim melalui jalur darat dengan menggunakan jasa kargo.Ia lalu menemukan sebuah bungkusan berwarna hitam yang isinya adalah beberapa paket ganja dalam ukuran cukup besar dan juga belasan butir obat penenang yang biasa ia pakai.Bungkusan itu dibawanya kedalam kamar dan ia mulai berkarya untuk merubah segumpalan daun itu menjadi beberapa lintingan dan mengisapnya.tak lama kemudiam fynta mengetuk kamarnya,dan masuk dengan membawa segelas kopi hitam.Ia menutup hidungnya dan bergegas keluar dari kamar itu.Suasana di dalam kamrnya tidak jauh berbeda dengan kamar kamarnya sebelumnya,hanya terdapat perbedaan beberapa furniture seperti lemari,tempat tidur,dan meja belajar,ditambah satu lagi barang pribadinya yang ia dapat dari Gita,yaitu sebuah pajangan hasil karya seniman Bali yang berbentuk sepasang manusia yang sedang bergenggaman tangan dengan pakaian adat kota tersebut.Ia tersenyum melihat barang barunya itu,sejenak pikirannya kembali pada hal yang baru saja terjadi kemarin dan akhirnya ia teringat dengan sebuah aktivitasnya yang sudah berminggu minggu tidak ia lakukan,sebuah permainan balapan mobil online,dimana ia dapat saling chating dengan para pemilik ID di permainan itu melalui dunia maya.
Ia mulai membuka aplikasi permainan itu dan mulai memasukkan Id nya sebagai syarat untuk memulai permainan.Tidak banyak yang dapat dilakukannya selain bermain untuk memenangkan sebuah ajang balap mobil,akan tetapi ia mempunyai seorang kenalan yang biasa bermain satu tim dengannya didalam game tersebut. Sampai saat ini baik Rama maupun teman dunia mayanya itu belum memberikan nama asli mereka masing masing,dan hanya nama Id merekalah yang dipakai untuk saling bertegur sapa.Mereka juga tidak pernah menceritakan kehidupan mereka,hubungan mereka hanya sebatas teman dalam sebuah permainan itu.
Kucing Anggora : “Hi…kok baru main sih? “ Tiba tiba seseorang menegurnya melalui permainan itu,ia adalah kenalan Rama dengan memakai nama kucing angora sebagai ID nya.
Anaktangga : “Iya,kemarin kemarin sibuk sekolah.” Jawab Rama dengan alas an palsu.
Kucing Anggora : “Oh…main yuk,udah lama nie ga tempur bareng lo”
Anaktangga : “Boleh,mau main tim atau solo? “
Kucing Anggora : “Gw mau nantangin lo duel,kita by 1,gimana? “
Anaktangga : “Siapa takut.” Mereka berdua lalu memulai permainan.
Balapan dimulai,berbagai rintangan berusaha meleka lewati,bermacam macam cara dilakukan untuk menambah kecepatan mereka,dari mulai memakai NOS,sampai saling menjebak dengan sebuah pisang,ataupun roket,petir dan senjata lain yang disediakan oleh server permainan tersebut sebagai alat untuk saling mendahului dan tentunya juga sebagai inventori untuk menambah kenikmatan dalam bermain.Dan Rama memenangkan permainan itu.Mereka lalu mengulangi lagi,dan tetap dimenangi Rama dalam lima pertandingan berturut turut.
Kucing Anggora : “Wah..lo makin jago aja.padahal udah lama ga main” Si Kucing Anggora mengakui kehebatan Rama.
Anaktangga : “Hahahaha…..” Rama terlihat puas karena ternyata ia masih menguasai permainan itu.
Kucing Anggora : “Teman,boleh tau ga nama asli lo siapa? “ Orang itu menanyakan nama asli Rama yang belum ia ketahui,padahal sudah berbulan bulan berkenalan dan menjadi rekan dalam setiap pertandingan.
Anaktangga : “Muhammad.” Jawab Rama,entah kenapa ia enggan memberikan nama yang biasa ia pakai dalam kehidupan sehari harinya.
Kucing Anggora : “Kayak nama Nabi,nama gw Dzaki.” Orang itu menyebutkan namanya.
Mereka lalu kembali melanjutkan permainan,kali ini mereka masuk ke dalam permainan tim,dan mengalahkan lawan lawan mereka dengan kemenangan yanga sangat telak.Sejak saat ini Rama mulai sering memainkan permainan itu kembali.Walaupun tidak saling mengenal dekat,ia dan Dzaki tetap menjadi teman satu tim.
****
Tepat dihari ketiga mereka di Bandung,semua aktivitas sudah berjalan seperti biasanya,Ayah sudah mulai masuk kantor,Rama dan Fynta juga sudah menginjakkan kaki disekolah baru mereka,dan Bunda tetap dengan pekerjaan rumah dan tanaman tanaman barunya.Rama melewati hari hari seperti biasanya,menonton film,menulis blog pribasi,bermain games online,dan tidak ketinggalan juga menikmati sisa ganja dan beberapa butir dumolic,obat yang selalu ia konsumsi jika dirinya sedang mengalami kepenatan.
Kali ini Rama berniat untuk menonton bioskop sendirian,permohonan Fynta untuk ikut tidak digubrisnya,ia akhirnya pergi ke sebuah bioskop terbesar di kota kembang tersebut dengan menggunakan kendaraan tercintanya.
Setelah beberapa menit mengantri ia akhirnya mendapatkan tiket sebuah film yang ingin ditontonya.Ia akhirnya masuk ke dalam teater setelah bagian informasi bioskop tersebut mempersilahkan para penonton untuk segera masuk karena pertunjukan akan segera dimulai.Tidak lupa segelas kopi hitam ikut menemaninya menikmati sebuah film karya seniman Indonesia tersebut.Ia menikmati tontonannya itu,dan ia semakin bersemangat untuk menggapai cita citanya menjadi seorang sutradara film,yang karyanya akan dipertontonkan kepada masyarakat luas,baik dalam maupun luar negri.
Setelah dua jam berada di dalam ruanagan itu ia akhirnya berniat untuk segera pulang kerumahnya.
Rama dan vespanya melintasi jalanan kota Bandung yang belum pernah ia lewati sebelumnya.bahkan ia juga tidak tau apakah ia sedang tersasar atau tidak,ia hanya berjalan mengikuti arah yang ia mau,dan tiba tiba ia melihat sebuah plang sebuah studio tattoo dan pierching yang design logonya pernah ia lihat di sebuah situs internet.Timbul rasa penasaran dirinya akan tempat itu,ia lalu membelokkan vespanya kea rah panah yang tertera di bawah plang tersebut.Ia melewati gang demi gang,lalu melintas melewati kali kecil,jembatan,dan akhirnya ia sampai kesebuah tempat dengan bentuk bangunan yang menarik.Setelah memarkirkan vespanya ia lalu masuk kedalam studio itu,di dalm ia disapa oleh seorang wanita cantik,putih dan bertubuh seksi.Ia adalah pegawai yang bekerja sebagi kasir di studio tersebut.
“Silahkan lihat lihat aja dulu a’ ” Ucap si gadis itu dengan lembutnya.
“Terima kasih.” Rama memperhatikan gambar gambar yang dipajang di dinding,ia juga mengambil beberapa majalah yang berisikan contoh contoh tattoo dan juga pierching,dengan sangat antusias ia melihat gambar gambar itu.
“Mau bikin tattoo apa pierching a’? “ Tanya si gadis itu lagi
“Eh..Cuma liat liat aja kok,boleh kan? “ Rama sedikit gugup.
“Hilda..” Gadis itu memberikan tangannya sebagai tanda mengajak berkenalan.
“Rama.” Balas Rama dengan sebuah senyuman kecil.
“Udah pernah bikin tattoo? “
“Belum”
“Tinggal di Bandung” Tanya Gadis itu yang bernama Hilda itu.
“Iya,baru pindah.” Jawab Rama.
“Dari Jakarta ya? “ Pertanyaan pertanyaan Hilda membuat konsentrasi Rama untuk melihat majalah majalah itu menjadi terganggu.
“Nggak,dari Bali.” Jawab Rama singkat.
“Tapi kok ga kayak orang Bali.” Hilda tersenyum heran.
“Aslinya dari Jakarta,tapi kebetulan kemarin tinggal beberapa bulan di Bali.”Rama menutup majalahnya.
“Oh…disana bukannya banyak studio tattoo yang bagus bagus,kenapa ga bikin ? “ Hilda duduk disebelahnya.
“Belum berani.” Jawab Rama polos.
“Masa cowo takut sih bikin tattoo,ga sakit tau,aku aja uang cewe berani.” Hilda Nampak mulai menghasut Rama untuk membuat tattoo sambil memperlihatkan sebuah tattoo bergambar bunga di area dadanya.
Rama hanya menjawab dengan senyuman,ia lalu menjawab pertanyaan pertanyaan yang terus menerus mengarah kepadanya.Sifat Hilda yang sangat bersahabat membuat mereka bedua terkihat seakan akan sudah berkenalan lama.Rama sempat merasa risih dengan sikap Hilda,akan tetapi itu semua ditepisnya dengan alas an ingin mengetahui banyak informasi mengenai pembuatan tattoo yang sudah sangat lama ia idam idamkan.Selama ini ia hanya menyukai salah satu seni menghias tubuh tersebut,tetapi belum berani untuk membuatnya karena merasa belum siap untuk memberikan hiasan seumur hidup itu hinggap di tubuhnya.
Fynta sedang duduk di bangku teras rumahnya,sekadar menikmati udara bandung yang sangat segar.Ia menghirup nafas dalam dalam,lalu membuangnya.Tidak jauh darinya ada Bunda yang sedang sibuk dengan tanaman tanamannya.
“Kamu nungguin apa Fyn? “ Tanya Bunda sambil menyemprotkan air ke sebuah pot yang ada di depannya.
“Nunggu bang Rama,mau ngomel,tadi aku ditinggali nonton.” Gerutu Fynta.
“Kok bisa,emangnya kamu ga bilang kalo mau ikut? “ Bunda menyemprot pot pot yang lainnya.
“Bilang Bunda,emang sih dia bilang lagi mau sendiri,tapi masa ga mau sih ngajak adiknya sendiri.” Fynta terlihat seperti sedang mengadu kepada Bundanya.
“Oalah..udah tau sifat abangmu kayak gitu,masih aja ga ngerti ngerti.” Bunda tertawa kecil mendengar aduan dari Fynta.
“Tapi aku kan juga mau nonton.”
“Udah ah,ga usah kayak anak kecil gitu,kamu kan bisa ngajak temen temen sekolahmu.” Saran Bunda.
“Maunya sama Abang,temen temenku ga ada yang ngerti film,kalo nonton sama Bang Rama aku bisa makin ngerti sama film yang aku tonton.” Wajah Fynta semakin memelas.
“Udah sana mandi,sebentar lagi maghrib.” Bunda membereskan alat alat berkebunnya lalu masuk kedalam rumah.
“Iya,sebentar lagi.” Tak lama kemudian Rama pulang,ia bingung dengan apa yang dilakukan adiknya di kursi teras,sendirian,dengan muka ditekuk seperti abis kalah judi.
“Kenapa lo? ” Rama duduk disamping Fynta.
“Jahat.” Fynta menepuk pundak Rama.
“Auw…” Rama mencoba menghindar dari pukulan Fynta yang kedua.
“Lebay,,dipukul gitu aja kesakitannya kayak dipukul pake kayu.” Fynta kembali memukul Rama,tetapi Rama menghindar.
“Lo kenapa sih? “ Rama membakar rokoknya.
“Abang jahat,ninggalin aku.” Rengek Fynta.
“Lah..kan gw udah bilang kalo lagi mau nonton sendiri.” Elak Rama.
“Bohong..pasti sama cewe ya? “ Tebak Fynta asal.
“Sok tau,cewe dari mana,baru juga seminggu tinggal disini,masa udah dapet cewe aja.” Rama mencoba mengajak Fynta bercanda.
“Halah…mau 10 tahun juga tinggal disini Abang ga bakalan dapet cewe,siapa juga yang mau sama orang aneh kayak Bang Rama.” Suara Fynta sedikit meninggi ketika menyebut kata aneh.
“Masa??” Rama lalu meninggalkannya,dan masuk kedalam kamarnya.
Fynta semakin kesal dengan Rama,ia lalu berniat melakukan sebuah rencana untuk membalas sikap Rama tersebut.Ia masuk ke dalam rumah,dengan sebuah pemikiran picik di otaknya.Ia menghampiri Bunda dan berpura pura membantu pekerjaan Bunda.
“Nda,katanya Bang Rama mau ikut kerumah bos Ayah,siapa namanya Nda? “
Fynta memulai aksinya.
“Pak Suryo,tau dari mana kamu Rama mau ikut,tumben,setau Bunda dari dulu dia paling ga suka ikut ikutan acara keluatga,apalagi ikut berkunjung ketempat Pak Suryo yang sama sekali tidak ada hubungan saudara dengan kita.Emang udah kamu tanyain ke orangnya.” Bunda tidak percaya dengan informasi yang diberikan Fynta.
“Udah,barusan dia bilang mau ikut kesana,lagi pula kan dia harus ikut Nda,yang diundang Ayah dan keluarga,berarti kita sekeluarga harus ikut.Kalo dia ga ikut berarti Ayah tidak mengindahkan undangan makan malam tersebut.” Fynta terus menghasut Bunda.
“Kadang kadang kamu pinter juga ya,tapi kamu yakin dia mau.” Bunda tetap dengan kesibukannya menyiapkan makan malam karena sebentar lagi Ayah akan pulang.
“Yakin..kalo dia ngerubah pikirannya,Bunda harus ngomel.Ini kan demi nama baik Ayah Nda.” Fynta membantu Bunda menyiapkan makanan di piring piring yang sudah disiapkan Bunda.
“Yaudah nanti kita omongin pas makan malem baren sama Ayah.” Ucap Bunda sambil membawa beberapa piring dan mangkuk yang berisi makanan menuju meja makan.
Fynta tersenyum,walaupun sedikit membohongi Bunda,ia yakin jika rencananya untuk membuat pelajaran kepada Rama akan berhasil.Apalagi Rama bukan type anak yang suka melawan keputusan Ayahnya,dipikirannya tinggal satu langkah lagi,yaitu kembali menghasut Ayahnya untuk memaksa Rama ikut dengan mereka.
Azan maghrib berkumandang,suasana di dalam rumah Rama sangat sunyi,Bunda dan Fynta sedang menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim,sedangkan Rama tetap asik dengan laptopnya,ia sering sekali meninggalkan ibadah yang juga merupakan kewajibannya.
Diatas meja makan sudah terseia berbagai macam makanan,hari ini Ayah pulang cepat karena sudah berjanji kepada Bunda untuk makan malam dirumah.Fynta yang sudah lebih dulu berada di meja makan bersama Ayah dan Bunda bergegas memanggil Rama yang masih mengurung diri di dalam kamarnya.Rama akhirnya keluar kamar setelah Fynta mengancam akan melaporkan ke Ayah jika ia malas malasan untuk makan malam bersama.Mereka lalu mulai menikmati masakan Bunda yang terkenal sangat lezat itu.
“Kamu beneran mau ikut Ram untuk datang ke undangan makan malam bos Ayah besok.” Ayah membuka pembicaraan.
Rama menghentikan mulutnya yang sedang asik mengunyah,ia meminum segelas air putih yang sudah disediakan Bunda.
“Hah,,Rama….”
“Inget loh Ram,kalo janji itu ga boleh diingkari.” Ucapan Bunda menghentikan suara Rama yang baru saja ingin menjelaskan jika ia baru tahu dengan kabar undangan itu saat ini.
“Pak Suryo itu orangnya baik banget loh,dia yang selalu nge backup Ayah ketika ada masalah masalah yang datang dikantor.” Lanjut Ayah.
“Iya Ram,yang diundang kan Ayah dan keluarga,kalo kamu sampe ga ikut,nanti Ayah bisa dibilang ga mengindahkan undangan tersebut,sedangkan Pak Suryo sudah tau jika Ayah mempunyai dua orang anak.Masa yang datang Cuma Fynta aja.” Bunda melanjutkan omongan Ayah.
“ Kan Ayah sama Bunda tau kalo Rama ga suka…”
“Iya,Ayah yakin kamu ga suka bikin keluarga kita merasa malu,tadi juga Fynta udah bilang sama Ayah dan Buna kalo kamu bersedia ikut besok malam.” Sekali lagi ucapan Rama terputus karena dipotong oleh ucapan Ayah.kali ini ia menatap Fynta,ia yakin jika ini semua adalah perbuatan Fynta,sedangkan Fynta seakan tidak mau ikut ikut campur dengan obrolan ini,ia tetap menikmati makanannya dan tidak sedikit pun menoleh kearah Rama.
Rama menjadi sedikit kesal,dari dulu Ayah dan Bunda selalu memahami sifat Rama yang tidak pernah mau ikut berkumpul,baik dengan keluar besar ataupun kerabat kerabat Ayah.Hanya pada saat Gita dirawat di rumah sakitlah ia mengalah dengan Bunda,dan ia berjanji kepada dirinya untuk tidak mau mengulangi hal seperti itu lagi.Ia lalu melanjutkan makannya walaupun nafsu makannya sudah sedikit berkurang karena hal tersebut.
“Jangan make baju seenak jidatmu ya nak,Pak Suryo itu orang terpandang,dan orang seperti dia selalu menilai orang dari mulai cara berpakaian.” Nafsu makan Rama semakin berkurang,sedang Fynta terlihat sedang menahan tawanya.
“Iya Ram,Ayahmu bener,nanti biar Bunda yang milihin baju buat kamu.” Ucapan Bunda menambah keinginan Fynta untuk tertawa,ia lalu tersedak dan buru buru meminum air putihnya.
“Kamu kenapa Fyn,makanya kalo makan ya jangan buru buru.” Omel Bunda.
“Maaf Bunda,ga sengaja.” Fynta melanjutkan makan tanpa sedikitpun menatap Rama yang baru saja merasa dibuat mengalah oleh dirinya.
Seusai menikmati makanan Bunda,Ayah dan Rama masuk kedalam kamar mereka masing masing,sedangkan Bunda membereskan piring piring kotor dibantu oleh Fynta.
Rama duduk diatas kasurnya,untuk kesekian kalinya ia terpaksa harus mengikuti kemauan orangtuanya yang sama sekali tidak membuatnya nyaman.Ia merebahkan badannya,lalu kembali duduk karena merasakan sakit di punggungnya.Ia tersadar,lalu berdiri menghadap cermin kecil yang tergantung di dinding kamarnya.Ia membuka bajunya dan tampak jelas ada sebuah gambar vespa di punggungnya.Ternyata hasutan Hilda berhasil,dan ia akhirnya membuat sebuah tattoo permanent ditubuhnya dengan kocek yang tidak sedikit.Harga gambar ditubuhnya itu hamper sebanding dengan uang jajannya selama satu bulan penuh.Dan ia rela menguras tabungannya,bukan untuk sekadar gaya gayaan,melainkan ada sebuah kepuasan yang ia rasakan dengan memiliki tattoo itu.Ia lalu membersihkan tattoo barunya.Tiba tiba Fynta masuk dengan membawa secangkir kopi panas,ia lalu buru buru memakai bajunya.
“Mau baik baikin gw lo ya? “ Celetuk Rama dengan kehadiran Fynta.
“Kok Abang punya pikiran kayak gitu sih,aturan mah seneng punya Ade yang perhatian kayak aku.” Fynta meletakkan kopi itu diatas meja belajar Rama.
“Terus punya rencana jahat apalagi lo ke gw? “ Tambah Rama dengan peasaan sedikit kesal.
“Hehehe….gitu aja marah,niatku kan baik Bang.” Fynta sama sekali tidak terlihat seperti abis berbuat salah.Ia lalu membuka lemari Rama.
“Tawa lagi,bukannya mikir.Eh apa apaan lo bongkar bongkar lemari gw.” Rama menahan Fynta.
“Aku disuruh Bunda buat milihin baju yang bakal dipake Abang besok malem.” Fynta meneruskan membongkar lemari Rama.
“Ga bisa ya kalo pake izin du,bilang dulu kek,atau permisi,masuk kamar aja lo dah selonongan kayak gini,terus bongkar lemari gw juga ga pake permisi,dimana sih sopan santun lo.” Rama mulai mengomel.
“Maaf,galak banget sih Bang,aku aja udah ngelupain masalah Abang yang ninggalin nonton tadi siang,masa Bang Rama masih dendam aja sih sama Aku.” Ujar Fynta lagi,kali ini wajahnya sedikit memelas.
Rama terlihat takluk dengan wajah Fynta,ia lalu membiarkan Adik yang paling ia sayang itu untuk membongkar lemarinya,memilihkan baju dan celana untuk ia pakai esok hari.Setelah rama sepakat dengan baju yang dipilihkannya,Fynta akhirnya keluar kamar Rama.
Rama mengunci pintunya,ia lalu mencoba pakaian yang baru saja dipilihkan Fynta,setelah sedikit berkaca ia akhirnya melepaskan baju dan celana yang sedang ia coba dan langsung merebahkan kembali tubuhnya diatas kasur,kali ini dengan posisi telungkup.Ia kembali bangun,meminum kopi buatan Fynta dan membuka laptopnya.
Memang sering kali Fynta membuatnya mengurut dada karena perbuatannya yang selalu melakukan hal yang bertolak belakang dengan kemauannya,akan tetapi baginya gadis kecil itu tetaplah seorang adik yang sangat ia sayangi.
Kali ini Bunda dan Fynta sedang berada di kamar Rama,sekadar memastikan jika Rama memakai pakaian yang sudah disepakati tadi malam.Sedangkan Rama terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang memakai baju lebarannya.Sebenarnya pakaian pilihan Fynta itu sangat membuatnya terlihat tampan,rapih,dan berwibawa,akan tetapi ia tidak biasa memakai pakaian se formal ini,sebuah kemeja tangan panjang berwarna hitam dengan celana jeans panjang yang menjadi bawahannya.Bunda dan fynta pun terlihat menahan tawanya karena merasa berhasil membuat Rama terlihat sangat rapih pada mala mini.Panggilan Ayah membuat mereka bergegas keluar kamar dan segera masuk kedalam mobil,karena tepat pukul setengah delapan mereka harus sudah sampai di kediaman Pak Suryo.
Sebuah rumah yang sangat besar,dengan lahan parker yang dapat menampung belasan mobil didalamnya,merka lalu memarkirkan mobil dan segera masuk kedalam rumah dengan bangunan Eropa tersebut.
Kedatangan mereka disambut baik oleh Pak Suryo dan istrinya,mereka dipersilahkan duduk setelah Ayah memperkenalkan mereka kepada pak Suryo dan istrinya itu.Mereka lalu terlibat dalam sebuah perbincangan,yang menurut Rama adalah sebuah basa basi yang biasa dilakukan kebanyakan manusia.Rama hanya bisa menunduk,diam tanpa mengeluarkan kalimat apapun jika tidak ada pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
“Mah,si April mana? “ Pak Suryo menanyakan keberadaan sesorang yang namanya baru saja disebutkan.
“Masih dandan kali Pah,namanya juga anak gadis,kalo dandan lamanya ga ketulungan.” Ucap Bu Suryo.
“Sama dengan si Fynta,kalo udah urusan dandan ga ada yang bisa nandingin.” Bunda merespon ucapan Bu Suryo tersebut.
“Wajarlah,kalo Rama yang kayak gitu baru ga wajar,ya Ram? “ Pak Suryo baru saja mengajaknya mengobrol,dan ia hanya bisa tersenyum kaku.
Tiba tiba seorang anak gadis yang berdandan sangat cantik turun dari tangga rumah itu,ia adalah April,anak gadis Pak Suryo.Menurut cerita Pak Suryo dan istrinya April adalah anak yang manja,cengeng,dan masih sedikit seperti anak kecil.Sekilas tampak seperti sifat Fynta,Bu Suryo juga mengatakan pergaulan April yang dapat dikatakan lumayan luas tidak mengubahnya sebagai sosok wanita yang mandiri,melainkan tetap tidak bisa lepas dari pelukan kedua orangtuanya.Tapi semua keinginannya selau dituruti kedua orangtuanya,karena selain mereka termasuk keluarga yang kaya raya,April juga merupakan anak semata wayang Pak Suryo dan istrinya.
Pak Suryo memperkenalkan April kepada keluarga Rama,dan April pun duduk diantara mereka.Sekilas gadis itu terlihat pendiam,tidak banyak kata yang ia keluarkan,akan tetapi semakin lama dan karena pancingan pancingan yang diberikan Fynta barulah terlihat jelas jika sifatnya memang benar benar tidak berbeda jauh dengan Fynta.Bahkan ketika makan malam dimulai,ia dan Fynta terus menerus membuat suasana menjadi ramai,para orangtua mereka sangat menikmati berbagai macam jenis obrolan yang dilakukan mereka berdua,dari mulai yang serius sampai yang dapat dikategorikan hanya candaan candaan yang selalu membuat mereka tertawa,sedangkan Rama hanya mengikuti semua ini dengan senyuman yang sedikit maksa dan jawaban jawaban yang sangat singkat dan padat.Ia sangat berharap agar acara ini dapat segera berakhir.Tapi nampaknya harapannya itu tidak akan terjadi,Pak Suryo dan Ayah terlihat semakin nyaman dengan perbincangan yang sudah mereka semua lakukan dari tadi.
“Bang Rama juga suka nulis diblog loh Pril.” Lagi lagi Fynta membuatnya terpaksa harus terlibat dalam pembicaraan mereka.
“Oh ya…” April menatap Rama dengan sedikit malu.
“Iya..Tanya aja sama orangnya kalo ga percaya.” Tambah Fynta.
April memandang Rama,sebenarnya dari awal ia ingin mengajak Rama mengobrol,akan tetapi sikap Rama yang sangat pendiam dan sedikit dingin membuatnya untuk mengurungkan niatnya.Dan pancingan Fynta kali ini membuatnya sedikit berani untuk menegur Rama.
“Kamu punya blog juga Ram? “ Tanya April.
“Punya.” Jawab Rama dengan sangat singkat,seperti jawaban jawaban ia yang sebelumnya.
“Kita bisa bagi bagi info dan pengalaman dong lewat blog.” April memaksa dirinya untuk terus mengajak Rama mengobrol.
“Maaf..blog gw udah dikunci,ga bisa diliat sama orang lain.” Dengan jujur Rama menerangkan kondisi blognya.Bunda melirik kearah Rama karena terganggu dengan jawaban Rama barusan.
“Oh…Maaf deh,aku ga tau,privasi ya…? “ April merasa telah melakukan pertanyaan bodoh.
“Iya,lagipula ga penting kok untuk diketahui orang,makanya gw lock.” Ucapan Rama kembali mengganggu Bunda,Fynta yang sadar jika Abangnya telah berbuat semaunya menjadi merasa berkewajiban untuk menutup pembicaraan yang sudah ia mulai tersebut.
“Abang aku kayak cw Pril,blognya cuma buat curhat doang,makanya dikunci sama dia,malu kali dia kalo curhatannya dibaca orang banyak.” Ucap Fynta.Para orangtua mereka lalu melanjutkan obrolan mereka sendiri,seakan tidak mau terlibat dengan obrolan anak anak muda itu.Hanya Bunda yang masih terlihat memperhatikan gerak gerik Rama.
“Aku ngerti kok Ram,itu kan wajar.” Senyuman April mengingatkan Rama kepada Gita,seorang gadis asli Bali yang pernah mencintainya.Memang jika dilihat dengan mata terbuka wajah mereka berdua sangatlah berneda,akan tetapi senyuman yang penuh dengan ketulusan itulah yang membuat mereka terlihat sama di mata hati Rama.
Rama hanya membalas kalimat terakhir April dengan sebuah senyuman.Tidak lama kemudian mereka sekeluarga akhirnya izin pamit kepada keluarga Pak Suryo untuk segera pulang kerumah karena hari sudah semakin larut,dan mereka harus mempersiapkan segala sesuatu untuk menjalani aktivitas keesokan harinya.
Didalam mobil Bunda mengingatkan Rama untuk tidak mengulangi sifatnya seperti yang sudah ia lakukan di depan April tadi.
“Emang kenapa sih Nda,aku kan Cuma berusaha jujur.Apa karena dia anak bos Ayah makanya aku harus membongi diri dengan bahasa bahasa halus.” Rama menjawab omelan Bunda.
“Bukan begitu sayang,Bunda dan Ayah juga ga pernah ngajari kamu untuk bermuka dua,tapi setidaknya kamu bisa mengubah bentuk kalimat yang ingin kamu keluarkan,bukan hanya didepan April,melainkan di depan semua orang.Kita ini ga hidup sendiri di dunia Ram,banyak orang lain yang berada di sekitar kita,dan kita harus menghormati mereka,setidaknya dengan cara mengobrol dengan mereka.” Bunda memberikan sedikit wejangan keada Rama.
“Maaf Bunda,aku cuma menjalankan perintah yang seang ada diotakku,tidak lebih dari itu,apalagi berusaha membohongi hatiku sendiri.” Rama terlihat malas menanggapi omongan Bunda.
“Sekarang kamu bisa berbuat seperti itu,tetapi siapa yang tahu dengan masa depanmu,dan Bunda yakin kamu akan memerlukan orang lain selain keluargamu ini suatu saat nanti.” Omongan Bunda sedikit menyindir Rama yang memang ogah untuk bergaul dengan orang orang di sekelilingnya,bahkan dengan keluarga besar Ayah ataupun Bunda.
“Aku cuma ga mau ngulangin kejadian seperti yang aku pernah lakuin ke Gita waktu itu.” Ucapan Rama membuat Bunda terdiam dan merasa bersalah.Mereka semua lalu diam sampai mobil mereka tiba di halaman rumah.
“Ram…Bunda memanggil Rama yang sedang menuju ke kamarnya.
“Ya Bunda.” Rama menghampiri Bunda.
“Maafin Bunda ya,bukannya Bunda mau mengatur hidup kamu,tapi Bunda dan Ayah sangat bertanggung jawab dengan hidupmu.” Dengan suara yang sangat pelan Bunda memeluk Rama.
“Aku ngerti Bunda,dan hal ini yang selalu membuatku yakin jika hanya keluarga yang pantas aku hargai dan aku sayangi.” Ucap Rama.
“Ram,beberapa hari lalu Pak Wayan nelepon Ayah,ia mengatakan jika sekarang Gita sudah mendapatkan semangatnya lagi untuk melawan penyakitnya,ia juga menjadi semakin dewasa.Itu semua berkat kamu Ram” Bunda memberika sebuah informasi yang membuat Rama tersadar jika ia baru saja membuat Bunda merasa bersalah dengan menyinggung nama Gita.
“Itu semua berkat Bunda,bukan Rama,Aku kan Cuma berperan sebagai actor,dan Bundalah sutradaranya.” Rama tersenyum,lalu mencium Bundanya.Ia lalu masuk kedalam kamarnya dengan perasaan lega.
****
Hari ini adalah salah satu hari yang dibenci Rama,karena ia terpaksa harus berangkat kesekolahnya yang sedang melaksanakan acara pentas seni karena Bunda menyuruhnya untuk menemani Fynta karena selain ia belum hafal jalan di Kota barunya itu,Fynta juga sering kali lupa waktu jika sedang bersenang senang.Dengan muka ditekuk duduk di dalam kelasnya sambil membaca novelnya yang tinggal beberapa lembar lagi usai ia baca.Sedangkan Fynta sedang bersenang senang dengan teman teman barunya,menikmati salah satu hiburan yang diadakan pihak osis sekolahnya.Novel itu ditutupnya karena sudah selesai ia baca,ia lalu memikirkan hal apa yang dapat menghilangkan kepenatannya.Timbul keinginan untuk kembali membaca di perpustakaan sekolah,ia lalu berjalan menuju ke perpustakaan yang terletak di lantai satu sekolahnya.
Di dalam perpustakaan Rama melihat lihat bebrapa judul novel yang terletak di rak buku bertuliskan non-fiksi,ia lalu memilih sebuah novel karangan penulis Indonesia yang belum pernah ia baca.Ia menikmati novel tersebut,bahkan ia juga mulai menikmati berada di dalam perpustakaan yang sunyi,dan sangat membuatnya tenang.
“Lo suka baca novel lokal juga ya? “ Tiba tiba seseorang siswa laki laki menegurnya.
“Iya.” Jawab Rama sambil memperhatikan pria yang tiba tiba menegurnya itu.
“Berarti lo pasti punya banyak koleksi novel lokal,gw juga punya banyak,mungkin kita bisa tukeran.” Lanjut siswa itu.
Rama hanya tersenyum maksa.
“Radit.” Orang itu memperkenalkan namanya sambil mengajak Rama untuk bersalamann.
“Rama.” Ia membalas salam perkenalan itu.
“Anak baru ya? “ Tanya anak itu lagi menggangu konsentrasi Rama dalam membaca.
“Iya.” Rama meneruskan bacaannya.
“Pantesan baru lihat,yaudah selamat membaca deh.Novel yang lagi lo baca seru banget ceritanya.” Anak laki laki yang bernama Radit itu juga kembali melanjutkan bacaannya.
Rama melirik kearah buku yang sedang dibaca Radit,dan ia menjadi tidak percaya jika Radit adalah pecinta novel karena ia baru saja melihat tulisan “SERATUS CARA MEMIKAT WANITA IDAMAN” di cover buku yang sedang dibaca Radit.Ia lalu meneruskan membaca tanpa memperdulikan Radit sampai acara pentas seni usai.
Rama sedang menunggu Fynta di parkiran sekolahnya,tidak lama kemudia Fynta dating menemuinya.
“Bang Rama duluan aja deh,aku ada janji sama orang.” Ucapan Fynta membuat Rama menjadi geram.
“Gila lo,udah seharian gw nungguin lo,sekarang dengan entengnya lo nyuruh gw pulang,ga ada,nanti gw yang diomelin Bunda.” Omel Rama sambil menyalakan vespanya.
“Aku udah bilang Bunda kok,Bunda ngasih izin,tapi aku disuruh bilang dulu sama Bang Rama.”
“Hadoooh…Bunda bunda,dibaca bacain apa sih sama anak ini.…yaudah deh,hati hati lo,kalo ada apa apa,telepon gw.” Rama menaiki vespanya.
“Siap bos”Ucap Fynta, Rama lalu meninggalkannya.
Sampai dirumah Rama menghabiskan waktu berjam jam dengan permainan game online nya.Tentunya bersama Dzaki teman dunia mayanya.Keasikannya terganggu dengan ketukan pintu.
“Masuk aja Bunda.” Teriak Rama karena sedang asik bermain dengan laptopnya.
Pintu terbuka,dan bukan Bunda yang muncul,melainkan Fynta.Ia lalu masuk sambil mengibaskan tangannya karena merasa hidungnya terganggu oleh bau asap ganja yang baru saja dihisap Rama.
“Bang ada tamu tuh.” Fynta lalu terlihat seperti menyuruh seseorang untuk masuk kedalam kamar Rama.
“Tamu,sejak kapan gw punya tamu.” Ucap Rama sambiul terus memainkan game tersebut.
“Liat dulu dong.” Tiba tiba seorang gadis muncul di depan pintu kamr Rama,ia adalah April,anak gadis Pak Suryo.
“Hi…” Sapa April.
“Hey…” Rama membalas sapaan itu dengan perasaan agak kaget karena kemunculan April,tapi ia yakin jika ini adalah ulah Fynta.
“Masuk dong Pril.” Pinta Fynta sambil menarik tangannya.
“Kamarnya bagus.” Dengan malu malu April masuk kedalam kamar Rama,sedangkan Rama terpaksa harus menghentikan permainannya.
“Apanya yang bagus,ini tuh bukan kamar tapi sel penjara Abang gw.” Fynta membuang wajahnya ketika melihat wajah Rama yang sedang memelototinya.
“Duduk Pril.” Rama mempersilahkan April yang sedari tadi berdiri.
“Terima kasih.” April lalu duduk di sebuah sofa single berwarna hitam,tepat disamping Fynta.
“Gw bikinin minum dulu ya Pril.” Fynta melesat dengan cepat keluar dari kamar itu.
Tinggalah Rama dan April yang hanya terdiam,dan akhirnya mulai berbasa basi,sebuah peristiwa yang sangat dibenci Rama,ketika dirinya harus menjadi terlihat bodoh,bukan hanya dimata April,akan tetapi juga dimatanya sendiri.Mereka berdua akhirnya mengobrol sampai Fynta datang membawa sebuah nampan berisi tiga buah cangkir minuman hangat.Dan Rama mulai merasa sedikit lega karena Fynta hadir diantara kekakuan mereka berdua.
Pertemuan ini menambah rasa penasaran April akan diri Rama,yang dianggapnya dingin,dan sangat tertutup,akan tetapi itu semua dianggap April sebuah tantangan untuk menaklukan hati Rama.Karena selama ini ia selalu dengan mudah untuk mendapatkan pria pria yang ia mau,bahkan yang lebih tampan dan kaya daripada Rama pun dengan mudah ia dapatkan.Mulai hari ini memulai untuk menjalankan misinya itu,misi untuk mendapatkan cowok aneh itu dan ia yakin jika Rama akan bertekuk lutut kepadanya.
to be continue......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar