Jumat, 18 Juni 2010

ANAK TANGGA TERAKHIR - PART - 4

“ Bandung memberikan banyak pelajaran hidup berharga buat gw,banyak kejadian kejadian yang terjadi di luar dugaan gw,dari mulai Gadis bernama April yang sudah membuat merusak pertemanannya dengan Radit,sampai dengan pertemuan gw sama Hilda,seorang gadis sexy yang ternyata mempunyai nafsu birahi yang cukup besar,dan hampir merenggut keperjakaan gw.Andai saja pada malam itu gw ikut kebawa nafsu setan,dan gw sama sekali ga melakukan penolakan keras terhadap perlakuan Hilda yang ternyata memang terkenal suka melakukan free sex dengan lawan jenisnya,mungkin saat ini gw ga akan pernah bisa berhenti mikirin kejadian yang hampir saja terjadi tersebut.Huufffftt…..Semua itu terjadi karena gw salah mengambil keputusan dengan apa yang sedang gw hadapin.Semua karena kecerobohan gw untuk mencoba mempunyai teman dekat,mencoba untuk bersikap baik kepada orang yang baru gw kenal,gw yakin kalo itu semua salah,dan gw ga akan ngulangin hal hal yang bikin semua itu terjadi.Sekarang semuanya sudah harus berakhir,gw harus memulai dan memperbaiki kehidupan gw,di kota baru ini,Jogjakarta.Sebuah kota dengan sebutan kota pelajar dan kota seni,yang mungkin dapat memberikan semua yang gw impikan.”




Jogjakarta 2006



Dihari kedua mereka di Jogja Ayah sudah mulai masuk kerja,Fynta memulai harinya dengan berjalan jalan mengitari kota itu dengan menggunakan becak maupun delman,Bunda terlihat sedang asik dengan tanaman tanaman barunya,sedangkan Rama,tetap diam di kamar dan melakukan aktivitas seperti biasanya sampai malam tiba,Mereka pun akhirnya tidur,mempersiapkan energi untuk esok hari. Keesokan harinya Rama dan Fynta mulai menginjakkan kakinya ke sekolah barunya,dan hal ini bukan suatu yang baru bagi mereka.Sepulangnya dari sekolah Fynta sibuk menelponi Ayah untuk menagih janjinya mengajak mereka sekeluarga berbelanja,dan ayah menepati janjinya itu setelah pulang kerja.
Mereka semua mengunjungi sebuah mall besar di pusat kota,dengan sangat bersemangat Fynta mulai menguras duit Ayahnya,hampir semua yang ia mau dibelinya.dari mulai baju,sepatu,parfum,sampai pada barang barang yang tidak terlalu penting baginya seperti accessories yang katanya sangat mendukung penampilannya.Tapi tidak dengan Rama,ia hanya membeli dua buah topi pancing dan sepasang sepatu skate keluaran terbaru yang baru beberapa hari yang lalu ia lihat di sebuah situs merk sepatu ternama.Ia melihat sebuah toko yang sangat unik,ditempat itu ternyata menyediakan jasa tattoo dan pierching.Ia sempat menghentikan langkahnya di depan toko itu dan berniat masuk ke dalamnya,akan tetapi semua itu tidak dilakukannya karena berpikir orangtuanya akan berpikiran macam macam jika ia melakukan hal itu.Mereka lalu pulang meninggalkan mall itu untuk menuju sebuah tempat makan siap saji yang terletak tepat di depan mall yang sedang mereka kunjungi tersebut.

“Yah,boleh makan di tempat yang lain ga? “ Rama mencoba memberikan usul kepada Ayahnya.

“Kamu memang mau makan dimana? “ Ayah mengurangi kecepatan langkahnya.

“Angkringan.” Jawab Rama.

“Itu dimana,tempat makan apa? “ Tanya Ayah.

“Aku juga ga tau lokasi persisnya dimana,tapi aku tau patokan jalannya.Aku pernah baca di sebuah majalah tentang tempat makan itu.” Rama berusaha menjelaskan.

Ayah melirik Bunda dan Fynta,mereka berdua menganggukan kepala sebagai jawaban jika mereka setuju dengan usul Rama.Mereka langsung menuju tempat yang dimaksud Rama tersebut.
Setelah mencari cari tempat yang dimaksud Rama selama hampir satu jam mereka akhirnya sampai juga di Angkringan.Semuanya terlihat heran dengan situasi dan kondisi tempat makan yang direkomendasikan Rama tersebut.Sebuah tempat makan sederhana,yang jauh dari bayangan mereka,tapi Rama tampak sangat menyukai suasana seperti ini.

“Ini tempat apa Rama,mau makan apa disini? “ Tanya Bunda.

“Bunda tenang aja,Rama yakin Bunda suka sama makanan disini.” Rama menenangkan Bundanya yang heran dengan tempat tersebut.

“Iya Bunda,kita ikutin Bang Rama aja,kan seru Bunda makan ditempat kayak gini.” Fynta tampak mendukung Rama,ia juga terlihat menyukai suasana angkringan.

Bunda dan Ayah pasrah dengan pilihan Rama,mereka lalu menuju suatu tempat,dituntun oleh seorang pelayan yang tidak berseragam,tidak bersepatu,dan tidak menggunakan nam tag seperti pelayan restoran pada umumnya..

Rama lalu menghampiri pedagang yang menjajakan makanan dan minumannya disana.Setelah memesan makanan seseorang pelayan yang bergaya tidak seperti pelayan tadi menggelarkan sebuah tikar di trotoar yang terletak persis di depan tempat para pedagang itu menjajakan dagangannya.Mereka pun langsung duduk dengan perasaan bingung.

“Tempat kayak gini Cuma ada di Jogja Bunda,dan kita ga boleh nyia nyiain selagi dapet kesempatan tinggal disini.” Rama terlihat sok dewasa dan berusaha mendikte Bunda.

“Terserah kamu aja deh.” Bunda pasrah,dan mereka mengobrol sambil menunggu makanan mereka datang.

Beberapa menit kemudian makanan yang Rama pesan datang.Setelah melihat dan meneliti makanan tersebut Bunda dan Ayah langsung menyantapnya.Dan sangat luar biasa,baru kali ini mereka merasakan makanan yang sangat nikmat seperti ini.Bahkan Ayah sempat menambah beberapa kali,karena selain lapar,porsi makanan di tempat itu sangatlah dikit.
Tidak sampai satu jam makanan yang didepan mereka ludes,hanya tersisa piring piring plastik dan gelas kosong.Mereka sangat menikmati makanan itu.Dan tidak lama kemudian akhirnya pergi meninggalkan tempat yang baru mereka datangi itu dengan perasaan puas.Sebuah tempat makan yang sederhana,nikmat,dan sangat murah.

Sudah lebih dari satu bulan mereka menghabiskan hari hari di Jogjakarta.Semua itu mereka jalani dengan perasaan senang dan ikhlas.Begitupun dengan Rama,walaupun tidak ada yang istimewa dalam kehidupannya di Jogja,ia tetap merasa senang dan sangat ikhlas dengan semua yang ia jalani.Tapi tampaknya tidak pada malam ini,karena ia terpaksa mengantarkan Fynta ke sebuah tempat yang bernama menara Saidan untuk menemui teman teman sekolah Adiknya itu.Sebenarnya ia sudah menolak permintaan Fynta itu,akan tetapi karena bujukan Bunda ia akhirnya mau tidak mau harus melakukan hal ini.Mereka berdua akhirnya menuju tempat itu dengan menggunakan vespa tua kesayangan Rama.Tempat itu tidak terlalu jauh dari rumah Rama,hanya dengan hitungan menit mereka akhirnya sampai disana.
Setelah memarkirkan vespanya Rama mengantar Fynta untuk mencari tempat dimana teman temannya berkumpul.Keramaian tempat itu membuat mereka sedikit sulit untuk teman teman Fynta,sampai terdenga suara seorang wanita yang memanggil nama Fynta.Ia adalah salah satu teman Fynta yang mengajak ia untuk berkumpul bersama di tempat ini.Rama lalu berjalan kaki untuk mencari sebuah kedai kopi setelah menolak untuk ikut berkumpul bersama teman teman Adiknya itu.
Ia berjalan dalam keramaian kota Jogja,banyak sekali anak muda yang menghabiskan malam minggu mereka di tempat ini,dari mulai sekadar ngobrol,pacaran,sampai mabuk mabukan.Ketika melewati beratus ratus manusia disana,Rama melihat sebuah pertunjukan yang sangat menarik perhatiannya.Ia lalu melanjutkan langkahnya untuk melihat lebih dekat pertunjukan yang sedang berlangsung itu.Sebuah pertunjukan yang sangat dasyat.Puluhan anak muda yang mengaku sebagai seniman jalanan Jogja sedang beraksi menunjukkan karya mereka masing masing.Ada yang sedang melakukan pertunjukan drama,pantomim,berakustik ria,bahkan ada pula yang menggambar sebuah dinding kosong dengan gambar gambar dan tulisan bermakna sosial.Karya mereka sangat indah untuk dinikmati.Tiba tiba seseorang anak muda seusianya mengadahkan sebuah kardus berisi duit yang bertuliskan “Sedikit uang receh anda dapat merubah masa depan mereka”.Rama mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan kembali menikmati hiburan tersebut.Tidak lama kemudian pemuda yang baru saja meminta sumbangan kepadanya kembali menghampirinya dan memberikan sebuah pamflet yang di design dengan sangat menarik.Rama menerimanya,membacanya lalu memasukkannya ke dalam saku celananya.
Sudah saatnya acara itu berakhir,semua pengunjung memberikan sambutan meriah dengan bertepuk tangan,begitu pula dengan Rama.Ia lalu sadar jika Fynta belum memberi kabar kepadanya sedangkan waktu sudah menunjukan pukul 12 malam.Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Fynta.Mereka lalu pulang meninggalkan tempat itu setelah sebelumny Rama sempat memaksa Fynta yang belum mau pulang karena merasa sangat nyaman berkumpul dengan teman teman barunya.Pada malam ini,untuk pertama kalinya Rama merasakan sebuah keceriaan yang tak terkira.Sebuah pertunjukan yang sangat istimewa itu telah menghiburnya,bahkan membuatnya mulai merasakan jika Jogjakarta memang indah untuk dinikmati.Bukan sebagai kota pelajarnya,akan tetapi sebagai kota seninya.


Rama sibuk mencari celana jins pendeknya yang baru ia pakai satu minggu yang lalu.Dan ia menemukan celananya di gantungan baju tempat ia biasa menaruh pakaian yang belum harus dicuci.Saku celana itupun dirogohnya,mencari suatu barang yang ternyata adalah sebuah lipatan kertas pamphlet sebuah acara pergelaran seni yang ia dapat ketika menonton performance art dari anak anak muda Jogja di dekat Menara Saidan,satu minggu yang lalu.kali ini ia membaca dengan seksama,lalu berjalan menuju kamar Fynta.

“Fyn,temenin gw yuk.” Rama masuk kedalam kamar Adiknya yang sedang mengerjakan tugas dengan komputernya.

“Kemana Bang? “ Tanya Fynta sambil terus mengerjakan tugasnya.

“Kesini.” Rama menunjukkan pamflet tersebut.

“Waw…kayaknya seru nie bang acaranya” Ia tertarik dengan selembar kertas yang diberikan Rama,dan meninggalkan tugasnya sejenak.

“Yuk..” Rama duduk dikasur yang bernuansa polkadot itu.

“Ini kan sekarang Bang.”

“Emang,terus kenapa kalo sekarang,lo ga bisa? “ Rama merenahkan tubuhnya.

“Bisa….kaget aja kok ngajaknya dadakan.” Jawab Fynta

“Gw aja baru inget engeh kalo acaranya ternyata sabtu ini,gw kira minggu depan.”

“Mau jalan jam berapa? “

“Abis magrib,ga pake lama dandannya,disana isinya seniman semua,jadi tanpa dandan lo bisa tetep tampil pede.” Ucap Rama ketus.

“Yeee…emangnya aku dandan biar pede apa? “ Fynta mengelak dari tudingan Abangnya itu.

“Terus biar apa? “

“Itu udah kewajiban perempuan Bang,biar terlihat feminim,dewasa,dan cantik.”

“Halah,itukan alesan.Coba gw mau liat lo ga dandan malem ini.Gw yakin lo bakalan lebih cantik dari biasanya.Okay….” Rama lalu meninggalkan kamar itu.

“Loh…Bang….” Suara pintu yang ditutup Rama menghentikan suara Fynta.Ia lalu mematikan komputernya dan bersiap untuk menemani Rama ke acara pertunjukan seni tersebut.


Fynta membereskan mukenanya,ia lalu sedikit berkaca dan keluar dari kamarnya untuk menemui Rama yang sudah menunggu dari lima belas menit yang lalu.Mereka berdua lalu berangkat setelah mencium tangan Bunda.
Kini mereka terlihat seperti pembalap rally,Rama berperan sebagai driver yang mengendarakan kendaraannya agar dapat melaju dengan cepat,sedangkat Fynta duduk dibelakangnya sambil memegang pamflet acara,dan berusaha menunjukkan arah kepada Rama.Ia berpatokan kepada peta yang tertera di kertas yang sedang ia pegang.Mereka sudah menghabiskan waktu kurang lebih empat puluh lima menit dan acara itu akan dimulai lima belas menit lagi.Ia akhirnya mulai tidak percaya kepada Fynta,ia menepi dan mencoba bertanya kepada sebuah warung yang menjual wedang ronde.Setelah bertanya sambil menunduk nundukkan kepalanya ia akhirnya paham dengan jalur yang harus ia tempuh.Mereka memulai perjalanan lagi dan akhirnya sampai di sebuah bangunan etnik jawa dengan ukuran sebuah plang besar bertuliskan “SANGGAR RUMAH”.

“Cek lagi Fyn,bener ga ni tempatnya.” Rama mematikan vespanya

“Bentar bang….” Fynta membaca kembali pamflet yang dipegangnya.

“Bener bang..” Fynta meyakinkan Rama ,dan melipat kertas itu,lalu memasukkannya kedalam saku celananya.Mereka berdua akhirnya masuk kedalam bangunan tua itu.Dan melihat sebuah pertunjukan yang nampaknya baru saja dimulai.

Mereka berdua lalu mengelilingi tempat itu,melihat beragam ragam jenis pertunjukkan yang sangat spektakuler.Mulai dari teater,berbagai macam jenis tarian asli Indonesia,musik,pantomim,dan yang tidak kalah serunya adalah kelihaian kelihaian para tembok bomber untuk menghiasa tembok tembok sanggar mereka dengan bermacam macam bentuk gambar.

“Konsep mereka keren ya Bang.” Fynta menyedot minuman botol yang diberikan Rama.

“Iya,baru kali ini gw ngeliat pertunjukkan hebat kayak gini.Makanya gw kepengen banget dateng kesini.” Rama membakar rokoknya.

“Sebelumnya Abang pernah liat pertunjukan mereka? “ Fynta mengibaskan tangan di depan mukanya karena merasa terganggu oleh asap rokok Rama.

“Pernah sekali,waktu gw nganterin lo ke Menara Saidan kemaren meraka kebetulan juga lagi ngadain performance art kayak gini,tapi dijalanan deket Menara.” Jawab Rama seakan tidak perduli dengan asap yang menyerang hidung Fynta.

“Oh..” Fynta mulai mengerti darimana pamflet itu berasal.

“Fyn,gw kencing dulu ya.Lo jangan kemana mana,disini aja.Kalo gw balik lo ga ada,gw tinggalin pulang.” Rama memegangi resleting celananya.

“Siap bos.” Fynta melakukan gerakan hormat.Rama lalu buru buru meninggalkannya.

Rama mencari cari lokasi kamar kecil,ia bertanya kesana kemari dan akhirnya menemukan di ujung bangunan sanggar tersebut.Setelah mengeluarkan air seninya ia mulai merasa lega dan kembali menemui Fynta.Tapi tiba tiba ia kaget,matanya sedikit melotot,dan memperlambat langkahnya.

“Bang kenalin,ini para pengurus sanggar ini.” Disamping Fynta ternyata sudah ada tiga orang pria yang lebih tua beberapa tahun darinya.Mereka adalah pengurus sanggar yang menyelenggarakan acara ini,dan mereka juga termasuk dalam seniman seniman yang mengisi acara ini dengan karya karya mereka.

“Rama” Ia menyalami seseorang dari mereka.

“Keken” Rama lalu menyalami yang berada disebelah Keken.

“Rama”

“Panji” Lalu pindah ke tangan berikutnya dan..

“Rama”

“Rasyid” Kini ia sudah mengetahui nama ketiga teman baru Fynta tersebut.

“Abangku ini juga jago menggambar loh.” Celetuk Fynta

“Yang bener Ram? “ Tanya Keken.

“Ah..nggak..” Tepis Rama sambil melihat kearah Fynta.

“Kita masih punya satu lahan kosong lagi kalo kamu bersedia nyumbangin karya kamu di sanggar ini.” Ucapan Rasyid membuat Rama semakin gugup.

“Aduh..maaf deh,bukannya ga mau,tapi gw takut malah ngerusak tembok sanggar lo yang keren banget ini.”Rama berusaha membela dirinya.

“Yuk Ram,aku kenalin sama temen temen disana.” Panji merangkul Rama dan mengajak untuk mengikutinya,sedangkan Fynra,Keken dan Rasyid mengikuti di belakang mereka.

“Teman teman kenal kan ini Rama,dan ini Adiknya,Fynta.Mulai malam mini mereka akan ikut untuk saling berbagi bersama kita.” Rama terbelalak mendengar kalimat Panji barusan.Terpikir olehnya jika ini semua ulah Fynya,ia menatap Adiknya itu dan Fynta pun membalas tatapannya dengan senyuman malu.

Ada puluhan anak muda yang bertepuk tangan dengan berita tersebut,mereka menyambut Rama yang untuk kesekian kalinya berada dalam posisi terkecoh oleh Fynta.Tiba tiba di depan Rama sudah ada bebbagai macam alat mural,dan seseorang yang pernah ia lihat membawa kotak amal waktu itu memberikannya sebuah kapur dan kuas.Ia sudah tidak bisa mengelak lagi,dan akhirnya memulai mengisi tembok besar yang kosong itu dengan sebuah gambar.Ia memulai dengan membuat skets,dan akhirnya selesai dengan perfect dalam waktu 1,5 jam,cukup cepat untuk hitungan pemula sepertinya.
Ia membalikkan badannya dan ia melihat anak anak itu memandang kagum gambarnya itu,sebuah gambar yang penuh dengan tema social yang cukup kental dengan permainan garis dan warna yang begitu indah.

“Nice man…” Panji menyalaminya dan memberikan sebuah kain lap basah untuk membersihkan tangannya yang kotor karena tetesan cat air.Ia lalu mengajak Rama dan Fynta berkeliling melihat pertunjukan lainnya sekaligus mengenalkan asal usul sanggar mereka.Sedangkan para anggota sanggar yang lain kembali melakukan aktivitasnya masing masing.

Kali ini mereka sedang menonton sebuah atraksi pantomim yang dilakukan oleh seorang bocah berusia sekitar 10 tahun yang dididik disanggar ini.Rama semakin terpukau dengan kehebatan para seniman Jogja itu.

“Setelah acara ini kita semua berniat untuk membuat acara yang lebih besar dan meriah dari acara kali ini Ram,dan aku harap kamu bisa ikut andil bersama kami.” Panji memberikan tawaran kepada Rama.

“Aku juga mau” Celetuk Fynta yang berada bersama mereka.

“Iya ..kamu juga tak ajak..” Jawab Panji dengan logat yang sedikit medok.

Fynta tersenyum,dan tidak bertanya lagi setelah dipelototi Rama.Rama merasa penasaran dengan ajakan Panji,ia lalu kembali melihat Panji dan menunggu pria itu meneruskan omongannya.

“Tema kita tetap sama,cuma untuk acara mendatang kita berencana untuk mengundang para pejabat kota ataupun keraton,juga para pengusaha pengusaha kaya yang membuka bisnisnya di Jogja ini.Soalnya dengan mengundang mereka kemungkinan besar target kita bakalan tercapai.” Panji melanjutkan penjelasannya.

“Targetnya emang apa mas Panji? “ Fynta menutupi rasa sakitnya karena baru saja Rama menginjak kakinya karena sudah lancang bertanya hal seperti itu.

Panji tersenyum dengan ulah kedua kakak beradik ini,ia lalu memegang pundak Rama dan berkata…

“Aku berharap kamu dan Fynta mau bantu kami,targetnya adalah dapat menyekolahkan 100 anak anak Jogja yang kehilangan masa masa belajarnya karena keterbatasan biaya orangtua mereka.Sebelumnya niat kami ini sudah pernah kami laksanakan,tapi kami hanya mampu menyekolahkan 15 anak saja,oleh karena itu kami memutuskan untuk membuat sebuah pergelaran yang baru saja aku jelaskan ke kamu Ram.” Panji mengakhiri ucapannya.

Rama sangat merasa simpati dengan mereka,informasi yang diberikan Panji sangat menyentuh hati Rama dan ia pun memutuskan untuk bersedia menjadi bagian dari mereka,para seniman jalanan yang sangat peduli dengan kehidupan sosialnya dan tidak tinggal diam membiarkan sebutan kota pelajar menjadi sedikit tercoreng dikarenakan banyaknya warga kota ini yang tidak mendapatkan status pelajarnya dikarenakan biaya pendidikan yang lumayan mahal.Fynta bangga dengan keputusan Rama tersebut,ia yakin untuk kali ini Rama bertindak menurut kata hatinya,bukan lagi menurut Bunda,seperti yang ia lakukan sebelumnya terhadap Gita.Mereka lalu menikmati acara itu sampai selesai dan pulang dengan perasaan yang begitu senang.Dalam hati Rama,ini adalah pengalaman baru yang harus ia coba.


Mulai saat ini segala aktivitas Rama banyak mengalami perubahan,sepulang sekolah ia tidak lagi langsung mengunci diri di ruangan pribadinya.Kini ia selalu menyempatkan waktunya untuk datang ke Sanggar Rumah,sebuah tempat dimana terdapat komunitas para seniman seniman Jogja yang mempunyai visi dan misi yang sama.Sesekali Fynta ikut dengannya,dan semakin lama ia semakin sering menghabiskan waktunya di sana.
Kali mereka mengadakan rapat untuk membagi tugas untuk persiapan pelaksanaan pergelaran seni yang sudah mereka rencanakan jauh jauh hari yang lalu.Semua anggota terlibat di dalamnya.Pada saat ini Panji yang merupakan orang yang dituakan di sanggar itu bertindak sebagai pemimpin rapat.

“Selamat malam teman teman,pada hari ini kita akan membentuk sebuah susunan kepanitiaan yang nantinya akan dikerahkan untuk mempersiapkan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan rencana pertunjukan seni kita.” Semua peserta rapat dengan sangat khusus dan penuh keseriusan mendengarkan ucapan ucapan Panji.

“Walau pada dasarnya kita akan saling bahu membahu untuk mewujudkan cita cita kita ini,akan tetapi saya mohon kita dapat mulai dengan tugas tugas yang menjadi tanggung jawab setiap departemen terlebih dahulu.saya yakin teman teman semua dapat mengerti,dan akan bekerja dengan baik,ikhlas dan juga maksimal.” Panji mengutarakan harapan harapannya.

Panji mulai membagikan tugas tugas menurut keahlian mereka masing masing.Rama mendapat tugas sebagai seksi dokumentasi karena selain mempunyai camera video amatir,ia juga memiliki sedikit keahlian editing video yang pernah dipelajarinya ketika tinggal di Singapura waktu itu.Dengan ilmu yang ia miliki ini,mereka berharap Rama dapat membuat sebuah karya audiovisual yang berisi berbagai macam kegiatan mereka dari mulai persiapan sampai acara berlangsung yang akan ia rekam lalu diedit sehingga dapat menjadi sebuah tontonan yang menarik.Dan mereka sangat mempercayai jika Rama dapat melakukan hal itu.
Rama menerima tugasnya dengan senang hati,ia berjanji akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik baiknya.Begitu pula dengan para anggota sanggar yang lain.Mereka sepakat untuk menjalankan kewajiban mereka dengan penuh rasa tanggung jawab.
Seluruh tugas sudah dibagikan kepada setiap anggota,rapat pun ditutup dengan doa dan sebuah harapan,harapan agar acara ini akan berjalan dengan lancar dan dapat mendapatkan hasil sesuai target yang diinginkan.Pada saat itu juga Rama mengeluarkan camera video miliknya yang sudah lama tidak ia pergunakan.Ia mulai merekam segala macam aktivitas yang sedang terjadi dilingkungan sanggar tersebut.

“Ram,kamu punya konsep apa buat dokumentasi acara kita ini.” Panji menghampiri Rama dan mengajaknya untuk mengobrol.

“Lo ada ide? “ Rama balik bertanya.

“Biarpun aku ada ide,ga akan juga aku kasih ke kamu,itu kan tugas mu toh.” Panji sedikit bercanda.

Rama sedikit tertawa,begitu pula dengan Panji.

“Gw mau coba bikin sebuah video yang berisi tentang perjuangan kita untuk mengadakan acara ini,mulai dari persiapan sampai pada waktu dimana acara itu berlangsung.Gw juga berniat nyisipin dialog dialog dengan para pendukung acara,dan tentunya wawancara dengan lo,sang pemimpin.” Rama menjelas sedikit konsep dokumentasi yang ingin ia buat.

“Hahaha…aku ga mau dibilang pemimpin,aku bukan pemimpin,aku penggerak..hahahaha….nggak Ram,aku cuma berusaha untuk mewujudkan impian mereka.Karena aku yakin,semua yang mereka inginkan,bukan hanya sekedar dari mulut mereka saja,melainkan benar benar ada sebuah niatan baik di dalamnya,yang dating dari hati mereka,dengan ikhlas.

“Terserah lo kalo emang ga mau disebut pemimpin,tapi kehebatan yang ada di dalam diri lo udah membuat kita semua merasa senang punya leader kayak lo.” Rama kembali memainkan handycamnya.

“Terima kasih Ram,kamu sudah bersedia ikut andil di acara ini,kita semua senang dan sangat berharap kamu bukan hanya menjadi anggota panitia acara kita,melainkan juga bersedia untuk menjadi anggota sanggar ini.” Panji melanjutkan ucapannya.

“Bukannya gw ga mau Nji,gw itu cuma penikmat seni,bukan seniman seperti kalian.” Rama berusaha menolak.

“Tapi,bukannya waktu itu Adikmu bilang kalo kamu ingin sekali menjadi anggota sanggar ini Ram? “ Panji teringat dengan perkataan Fynta waktu mereka baru saja berkenalan.

“Itu bisa bisanya si bawel itu aja,dia emang orangnya gitu,suka asal,suka ngambil keputusan sendiri,padahal ga tahu apa apa.” Rama sedikit membongkar sifat Fynta karena kembali meras kesal karena mengingat ulahnya waktu itu.

“Tapi tampaknya sayang sekali sama kamu.Ia begitu memperhatikanmu.” Panji lalu meninggalkan Rama yang sedang asik dengan handycamnya.

Senyuman Rama merekah,ia juga sangat yakin jika adiknya yang sudah sangat sering membuatnya naik darah itu sangat menyayanginya,begitu pula dengannya.Ia sangat menyayangi keluarganya lebih dari apapun juga.Ia melanjutkan kesibukannya dengan alat perekam gambar itu sampai ia merasa harus pulang,ia harus segera belajar karena beberapa hari lagi ujian akhir tingkat nasional yang akan menentukan berhak atau tidaknya para siswa kelas 3 untuk melanjutkan pendidikannya ditingkat perguruan tinggi akan segera berlangsung.

Ujian Akhir nasional pun tiba,para siswa kelas tiga yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi diharuskan lulus dalam ujian ini.Rama terlihat sangat mempersiapkan ujiannya dengan matang,ia ingin cepat cepat meninggalkan bangku sekolah yang menurutnya hanya sebuah syarat untuk menuju perguruan tinggi.Dan Institut seni itulah tujuan Rama berikutnya.Disanalah ia akan memulai melangkah untuk menggapai sebuah mimpi,sebuah harapan,dan sebuah cita cita yang sudah ia miliki sejak kecil.

****


Beberapa hari sudah dilewati para anggota sanggar dengan berbagai macam aktivitas mereka,ada yang membuat undangan yang mereka tujukan kepada para pejabat daerah dan juga pengusaha penguasaha kaya Jogjakarta,ada pula yang menyiapakan berbagai macam keperluan untuk keperluan dekorasi panggung,peralatan peralatan pentas,sampai mulai menyebarkan pamflet acara di berbagai tempat.Sebagian besar anggota sanggar tampak sedang berlatih menurut jenis pertunjukkan yang ingin mereka ditampilkan dengat sangat serius.Setelah berkeliling untuk membantu kesibukan dari setiap divisi dan juga mendokumentasikannya,kali ini Rama berada di antara para pemeran pertunjukan teater yang sedang berlatih,ia sangat serius memperhatikan adegan demi adegan yang sedang mereka lakukan.Sesekali ia mengarahkan handycamnya kearah mereka,dan semakin lama ia mulai tertarik dengan hal yang sedang ia saksikan tersebut.Sebuah seni peran yang sangat membutuhkan kreativitas,olah tubuh,dan olah vocal dari setiap anggota yang terlibat di dalamnya.Tiba tiba matanya terpaku pada Keken,salah seorang penggerak sanggar yang kali ini berperan sebagi sutradara dalam pertunjukan yang mereka beri judul menggapai mimpi tersebut,sebuah skenario cerita yang dibuat oleh sang sutradara tersebut.Kali ini keken sedang mengatur gerakan ataupun bloking para pemain,ia juga memberikan sedikit tata cara berdialog kepada setiapa pemeran.Rama memperhatikan setiap instruksi instruksi yang diberikan Keken kepada para pemainnya.Sekilas hampir mirip dengan gaya sutradara sutradara film yang sering ia lihat dalam acara behind the scene di televisi swasta.Perbedaannya,teater tidak memerlukan kamera sebagai media rekanm untuk mempertunjukkan karya mereka,karena mereka akan menampilkan karya mereka secara langsung,tanpa editan,dan tanpa “cut”,sebuah sebutan untuk menghentikan adegan karena sebuah kesalahan pemain atau pun kesalahan kesalahan teknis lainnya.Semua itu memberikan banyak ilmu yang sangat bermanfaat bagi dirinya dan juga bagi cita citanya.


Rama tempak terburu buru di dalam kamarnya,ia harus segera berada di sanggar karena tepat pukul tiga sore akan diadakan rapat anggota untuk membahas acara mereka yang akan mereka laksanakan 1 minggu lagi.Ia bergegas keluar kamar,menyalami Bunda dan langsung memacu vespanya menuju sanggar.Bunda yang sebenarnya ingin memberitahu Rama akan suatu hal penting terpaksa menunda rencananya itu karena melihat Rama yang terlihat terburu buru.Mulut Bunda hanya bisa menganga,menahan sebuah perkataan yang ingin ia sampaikan,karena Rama sudah menghilang dari pandangannya sebelum ucapan itu keluar dari mulutnya.Bunda lalu memutuskan untuk memberitahu berita tersebut ketika Rama pulang nanti malam.Ia lalu memutuskan untuk kembali menyirami tanamannya.


Rama baru saja sampai di tempat komunitas barunya bekumpul,ia memarkirkan vespanya dan buru buru masuk ke dalam aula tempat diadakannya rapat anggota karena merasa sudah telat sepuluh menit dari waktu yang sudah disepakati bersama.

“Maaf ya,gw telat…”Rama memberikan gerakan tangan seperti orang yang sedang memohon maaf.Ia lalu duduk di samping tepat di samping Keken yang bergeser untuk memberikan ruang untuk Rama.Ia lalu mengeluarkan handycamnya dan mulai merekan setiap kejadian yang sedang berlangsung.

“Gpp Ram,kita lanjut ya.” Ucap Panji.

“Pamflet kita sudah jadi,dan mulai malam ini kita dapat segera bergerak untuk menyebarnya kepada masyarakat luas.” Panji menunjukkan selembar kertas yang sudah di design semenarik mungkin oleh Rasyid.

Mereka bertambah antusias setelah melihat pamflet tersebut,muncul sebuah gairah yang cukup besar dari setiap panitia acara yang tidak lain adalah anggota sanggar tersebut.Panji lalu membagi bagikan kepada setiap anggota,dan sisanya ia berikan kepada seksi komunikasi untuk segera disebarkan.Rama berdecak kagum melihat design pamflet yang baru saja ia terima,ia berniat untuk segera menunjukannya kepada Fynta,yang sebenarnya termasuk dalam susunan kepanitiaan sebagai penggalang dana,tetapi karena ia sedang sibuk dengan tugas tugas sekolahnya ditambah merasa harus bertanggung jawab untuk menemani dan membantu Bunda di rumah ia kerap kali tidak dapat hadir diantara mereka.Tetapi kondisi itu sangat dipahami oleh teman teman sanggarnya,karena ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sehingga acara ini dapat dipastikan akan terlaksana sesuai waktu sudah direncanakan.
Setelah mengikuti rapat tersebut,Rama kembali melihat anak anak teater yang sedang berlatih,tentunya dengan arahan Keken.Ia semakin menyukai seni peran tersebut,berjam jam ia habiskan di tempat itu.Ia lalu ikut membantu seksi komunikasi untuk menyebar selembaran pamflet acara mereka di jalan jalan dan juga sarana sarana umum lainnya,sampai akhirnya waktu mengharuskannya untuk pulang ke rumah karena sudah berjanji dengan ayah untuk pulang sebelum pukul dua belas malam karena ada suatu hal yang ingin disampaikan Orangtuanya.

Ayah,Bunda,dan Fynta sedang duduk di ruang keluarga,mereka sedang menunggu Rama untuk menyampaikan suatu hal penting yang harus diketahui anak sulungnya itu.Setelah menunggu hampir satu jam Rama akhirnya sampai dirumah,ia lalu duduk dan ikut bergabung dengan mereka.

“Kamu udah makan nak? “ Tanya Bunda dengan raut wajah yang tampak serius.

“Udah Bunda,ada apa sih,kok kayaknya penting banget.” Tanya Rama penasaran.

“Ini masalah kepindahan kita, besok malam kita semua harus sudah berada di Bandung.” Ayah langsung memulai ke titik pembicaraan.

“Loh kenapa Yah,bukannya kita masih ada waktu dua bulan untuk tinggal disini.” Rama sama sekali tidak menyetujui rencana tersebut.Ia tetap berpegangan kepada janji yang ducapkan Ayahnya ketika mereka baru saja sampai di Jogja waktu itu.

Ayah,Bunda,dan Fynta saling bertatapan,tampak dari wajah mereka jika persoalan ini sangat sulit untuk mereka terima.

“Ayah dipecat secara tidak hormat dari kantor,ada beberapa oknum tidak bertanggung jawab yang mempunyai posisi kuat di kantor ayah tidak menginginkan kehadiran Ayah di perusahaan tersebut,dan mereka memfitnah Ayah.Ayah dituduh korupsi,menggelapkan uang perusahaan,dan sekarang,selain Ayah harus angkat kaki dari perusahaan itu,ayah juga diharuskan untuk membayar semua kerugian kantor yang di klaim mereka terjadi karena ulah Ayah.Semua tabungan dan harta Ayah disita,bahkan mereka hampir saja menyita barang barang pribadi kalian jika saja kepala perusahaan yang di Jakarta tidak memberikan keringanan kepada Ayah.Mereka sebenarnya berat untuk mengeluarkan keputusan tersebut,akan tetapi,orang orang yang sudah memfitnah ayah sangat mempunyai andil yang cukup besar didalam perusahaan.”

Rama seperti disambar petir,ia tidak menyangka jika nasib akan membawa mereka kedalam tahap yang sesulit ini.Ia berusaha pasrah dan sabar.Ia bahkan sama sekali tidak menegeluarkan air mata.Di pikiran cuma satu,kejadian ini bukanlah hal yang dapat menggagalkan cita citanya,hanya Tuhanlah yang berhak untuk menggagalkan mimpi mimpi indahnya,cita citanya harus tetap berjalan,dan ia harus berhasil meraih mimpi mimpinya tersebut,agar dapat membahagiakan keluarganya yang saat ini sedang berada di bagian roda yang paling bawah,yang menahan beban,dan menempel ke aspal ataupun batu batu yang keras dan tajam.Tapi nampaknya langkahnya akan sedikit terhambat,karena ia tidak mau menambah beban Ayah dengan rencana kuliahnya yang akan membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Terus,apa yang harus kita lakukan sekarang yah?”Tanya Rama,tetap dengan menahan rasa sedih dan kecewa.

“Kita harus berangkat ke bandung nanti pagi” Jawab ayah

“Kenapa Bandung Yah?” Rama mempertanyakan mengapa mereka harus kembali ke kota yang sudah memberikan kejadian kejadian buruk,yang sudah hampir berhasil ia lupakan.


“Ingat sama Pak Suryo,atasan Ayah ketika bekerja di Bandung,beliau menawarkan Ayah untuk membantunya mengelola usaha yang baru ia rintis di daerah Sulawesi Utara.Dia percaya jika Ayah sama sekali tidak bersalah dengan kejadian ini,akan tetapi ia tidak dapat berbuat pembelaan apa apa,karena jabatannya masih dibawah oknum yang sudah menjatuhkan ayah tersebut.” Ayah menjelaskan alasan mengapa Bandung menjadi kota tujuan mereka berikut.

“Tapi,bukannya Fynta sebentar lagi ujian Yah? “ Tanya Rama,ia tetap belum bisa sepenuhnya untuk menerima kenyataan ini.

“Urusan sekolah kalian sudah diatur sama anak buah Pak Suryo,dan sampai saat ini semuanya tidak ada masalah.” Ayah kembali menjelaskan.

Rama terdiam,terlihat jelas dari raut wajahnya jika ia sedang memikirkan sesuatu hal yang sangat penting bagi dirinya.

“Bunda tau kalo kamu merasa berat meninggalkan teman teman senimanmu itu.” Bunda yang sejak tadi hanya menangis mulai ikut berbicara.

Rama heran dengan kalimat Bunda,ntah dari mana Bunda tahu dengan apa yang sedang ada dipikirannya tersebut.

“Aku udah ceritain semuanya ke Bunda.” Ucap Fynta yang juga menangis sebelumnya.

“Paling tidak sampai minggu depan Yah,aku mohon.Izinin aku untuk ngerasain indahnya kebersamaan untuk sekali ini saja,Rama merasa nyaman dengan mereka,mereka sudah membuka mata Rama akan indahnya kebersamaan.” Rama memohon.

“Maaf Ram,anggap saja perubahan kamu tidak datang pada waktu yang tepat.” Sebenarnya Ayah sangat tidak ingin mengeluarkan kalimat terakhirnya itu,akan tetapi itu semua terpaksa dilakukannya,karena ia sudah berjanji dengan dirinya,tidak akan membiarkan keluarganya hidup terpisah dari dirinya.

Rama hanya dapat menunduk,ia tidak bisa memaksakan kehendaknya,ia kembali pasrah,lalu pamit untuk menuju kamar dan membereskan barang barang pribadinya.

Mereka sekeluarga kembali ke Bandung,kota yang mereka pernah tinggali sebelumnya.Kali ini mereka hanya berencana untuk tinggal selama lima hari,menginap di sebuah villa milik Pak Suryo di daerah Bandung atas sampai dengan waktunya untuk berangkat ke Sulawesi tiba.

******

Sudah hari kelima mereka di Bandung,dan Rama tetap dengan laptopnya,sedangkan Bunda dan Fynta sibuk membereskan barang barang mereka,karena malam ini mereka akan berangkat menuju Sulawesi.Sebuah pesan masuk kedalam email Rama,ia membukanya dan terkejut membaca isi dari pesan tersebut.Disitu tertulis jika baru saja ada sebuah musibah gemba bumi yang menimpa kota Jogjakarta dan sekitarnya.Rama berusaha mencari kebenaran dari berita tersebut,ia mencari cari di beberapa web,ia juga menyalakan tv di ruang keluarga,dan akhirnya kebenaran itu terungkap,mutlak,dan benar benar terjadi.Gempa berkekuatan 7,6 skala rickter tersebut sudah meluluh lantakan kota pelajar tersebut.Banyak sekali bangunan yang hancur,korban pun bergelimpangan.Rama berusaha menelpon teman teman sanggarnya,akan tetapi seluruh jaringan telepon putus,dan tidak satupun ada yang dapat dihubunginya.Ia hanya berharap informasi dari siaran televisi yang saat ini sedang ia pelototi.
Sebuah gambar yang memperlihatkan salah satu bangunan yang hancur,rata dengan tanah.Rama memperhatikan rekaman itu dengan seksma,sampai akhirnya ia yakin jika yang barun saja ia lihat adalah Sanggar Rumah,tempat bernaungnya para teman teman seniman jalanannya di Jogjakarta.

“Diberitakan sebuah bangunan yang merupakan sanggar seni milik salah satu seniman idealis Jogja rubuh,diketahui pada saat kejadian ini berlangsung para anggota sanggar sedang berada di dalam,dan dipastikan mereka menjadi korban bencana alam tersebut.Sampai saat ini belum diketahui jumlah korban tewas maupun luka luka,akan tetapi,dipastikan hamper seratus persen korban tewas,” Sebuah tagline yang dibacakan presenter berita tersebut membuat Rama seakan ingin menangis,di satu sisi ia merasa bersalah karena telah meninggalkan tanggung jawabnya kepada teman teman sanggarnya,akan tetapi ia juga merasa beruntung karena Tuhan selalu melindungi keluarganya,walaupun semua ini diberiNya dengan cara pemecatan Ayah dari perusahaan tempatnya bekerja.Pikirannya semakin terbuka,ia pun menunduk,berdoa untuk teman temannya itu dengan batin yang menahan tangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar