Kamis, 17 Juni 2010

ANAK TANGGA TERAKHIR - PART 3

Berbagai macam cara April lakukan untuk mewujudkan rencananya untuk memikat hati Rama,dari mulai menambah porsinya untuk bertandang kerumah Rama,memikat hati Fynta dengan sering mengajaknya jalan jalan mengelilingi tempat tempat yg mengagumkan di Bandung,bahkan sampai dengan memberikan barang barang kesukaan Rama yang ia tahu dari Fynta.Bahkan ia juga sudah mulai terlihat sangat akrab dengan Bunda dan Ayah Rama,semua itu dilakukannya dengan satu alasan,menaklukan hati Rama,dengan cara apapun.
Pada hari ini Rama sedang menikmati makan malamnya,hanya berdua Bunda,karena Ayah belum pulang kantor sedangkan Fynta sedang asik jalan jalan bersama April.

“Kamu ga ada acara kan hari Ram? “ Tanya Bunda.

“Ga ada Bunda,emang kenapa? “ Rama sangat menikmati makanannya.

“Tadi April telepon Bunda,dia bilang sebentar lagi mau datang kerumah,dia dan Fynta masih di perjalanan menuju kesini.” Rama tersedak,ia lalu meminum segelas air putih,dan buru buru menyelesaikan makanannya.

“Aduh..aku lupa Bunda kalo hari ini ada janji sama teman sekolahku buat ngerjain tugas.” Rama memberikan alasan yang sangat tidak masuk akal bagi Bunda,karena Rama sama sekali tidak pernah melakukan hal yang ia katakana barusan semenjak mereka meninggalkan Jakarta delapan tahun silam.

“Kamu ga lagi bohongin Bunda kan Ram.” Bunda memberikan sindiran dengan terus melanjutkan makannya.

“Please Bunda,aku ga mau ketemu April.” Rama akhir mengatakan hal yang sebenarnya sedang berada di otaknya.

“Terus Bunda nanti ngomong apa sama dia,tadi Bunda udah bilang kalo kamu ada dirumah.” Bunda sebenarnya sangat memahami alasan Rama,akan tetapi menurut Bunda tidak ada salahnya jika ia ingin merubah sifat dingin Rama terhadap wanita yang cantik,sopan, dan pintar.Bunda menilai jika sikap April selama ini menunjukkan jika ia akan sangat menyayangi Rama dan juga keluarganya.

“Terserah Bunda deh mau ngasih alesan apa sama dia,yang jelas aku lg ga mau ketemu…Dah Bunda…” Rama mencium pipi Bunda lalu pergi meninggalkan meja makan.

Bunda menjadi bingung memikirkan alasan yang akan dia berikan kepada April,ia merasa tidak enak hati kepada wanita yang terlihat sedang jatuh cinta kepada anak sulungnya itu.April ternyata sudah berhasil memikat hati keluarga Rama,terutama Fynta dan Bunda.

Tidak lama dari kepergian Rama,April dan Fynta tiba di rumah mereka,Bunda menyambut dengan sedikit perasaan bersalah karena sudah membiarkan Rama pergi.

“Aku manggil Abang dulu ya Pril.” Fynta berjalan menuju kamar Rama yang terletak di lantai dua rumahnya.

“Rama ga ada.” Ucap Bunda,langkah Fynta terhenti,ia memandang Bunda.

“Tadi bukannya Bunda bilang Bang rama ada dirumah? “ Tanya Fynta heran.

“Barusan dia pergi,katanya ada tugas yang harus ia selesaikan dirumah temannya.” Bunda berbohong,mengikuti permintaan Rama.

“Rumah temennya,sejak kapan dia punya temen?” Fynta tidak percaya,ia lalu berusaha menelpon Rama,tapi tak kunjung diangkat.

Bunda yang tidak mau berbohong lebih banyak lagi pergi meninggalkan mereka berdua,sekarang hanya ada Fynta yang masih sibuk menelepon Rama dan April yang merasa sedikit diabaikan Rama.Tapi itu semua tidak membuat gadis cantik dan kaya raya itu menyerah,dan ia masih mempunyai banyak cara untuk memuluskan rencana itu.

“Emang dia biasanya kemana Fyn,kalo keluar rumah? “ Dari wajahnya April sama sekali tidak terlihat kesal dengan kejadian ini.

“Palingan kalo ga ke coffee shop ya ke bioskop.” Fynta terlihat bete karena Abangnya baru saja membuatnya dan Bunda merasa bersalah kepada April.

“Kamu tau dimana tempatnya? “ Tanya April.

“Aku cuma tau namanya aja,tapi ga tahu tempatnya.” Jawab Fynta sedikit putus asa.

“Ayo kita susul Rama.aku tau semua tempat tempat nongkrong di Bandung.” Ucap april,setelah berpamitan dengan Bunda,mereka berdua lalu meninggalkan rumah untuk menyusul Rama.

Rama terlihat sedang memasuki sebuah minimarket 24 jam untuk membeli sekaleng kopi dingin,dan juga rokoknya yang sudah mau habis,ia lalu segera keluar dari toko itu setelah membayar.

“Rama..” Seorang wanita yang ternyata Hilda,karyawan studio tempatnya membuat tattoo menegurnya.

“Hi…” Rama lalu menghampiri wanita yang sedang duduk didepan minimarket itu bersama kedua teman lelakinya yang penuh dengan tattoo.

“Gabung atuh Ram.” Hilda lalu mengenalkan Rama kepada kedua temannya itu.

Rama lalu duduk di antara mereka,ia sangat merasa tidak enak dengan Hilda jika menolak ajakannya untuk bergabung,karena Gadis itu sudah banyak memberikan informasi mengenai tattoo,bahkan dengan alasan jika Rama adalah saudara sepupunya,si pembuat tattoo yang juga pemilik studio itu memberikan diskon yang lumayan besar ketika ia membuat tattoo yang sekarang menempel di badannya.

“Sendirian? “ Tanya Hilda sambil memberikan sebotol bir hitam kepada Rama.

“Iya…” Rama memberikan kode jika ia tidak mengkonsumsi alcohol.

“Oh maaf,ga suka ya? “ Hilda menarik kembali botol itu dari hadapan Rama.

“Ga pernah.” Ia membuka minuman kalengnya,lalu meminumnya.

Kedua teman Hilda memandang Rama dengan anehnya,karena ucapan Rama yang terakhir.Mereka berdua lalu tersenyum aneh dan saling bertatapan.Hilda tidak memperdulikan kedua temannya yang tampak sedang mengecilkan Rama tersebut,ia terus mengajak Rama untuk mengobrol sampai akhirnya ia harus pergi karena ajakan kedua temannya itu.Rama akhirnya juga meninggalkan mini market itu yang sudah mulai ramai dengan orang orang yang sedang nongkrong sambil menikmati berbagai macam beer yang dijual di mini market tersebut.

Ketika sudah sampai di ujung gang rumahnya,Rama mengurangi laju vespanya untuk memastikan apakah April masih ada dirumahnya atau tidak.Setelah dipastikan mobil April tidak ada di depan rumah,ia akhinya langsung melanjutkan laju vespanya dan masuk kerumah.Ia mengunci pintu kamarnya,karena yakin Fynta akan melakukan inspeksi mendadak ke dalam kamarnya.Sebatang ganja yang sudah dilinting dibakarnya sampai habis,ia lalu menyalakan I tunes di laptopnya,dan musik reggae pun mengalun,keluar melalu speaker aktifnya.

Fynta dan April sudah mulai putus asa untuk mencari keberadaan Rama,sudah berbagai tempat mereka kelilingi dan Rama tidak juga ditemukan.Mereka lalu memutuskan untuk pulang dengan perasaan kecewa.

“Kemana ya tuh orang,dia ga mungkin nonton bioskop malem malem gini,dan sangat mustahil kalo dia benar benar kerumah temannya untuk mengerjakan tugas.” Fynta menggaruk kepalanya,bertanya dalam hati.

Mereka masuk kedalam mobil April,dan mobil itu begerak meninggalkan tempat yang baru saja ia datangi itu.

“Fyn,kamu setuju ga kalo aku pacaran sama Rama? “ Dengan serius April mengendarai mobil mewahnya.

“Setuju lah.” Jawab Fynta setelah sebelumnya kaget dengan pertanyaan April tersebut,sebenarnya ia belum berpikiran sejauh itu,jika April ingin berpacaran dengan Abangnya,bahkan ia sangat yakin jika Rama sama sekali tidak tertarik kepada April,karena ia sangat mengerti dengan pola pikir Abangnya itu.Akan tetapi karena tidak ingin membuat April yang sudah sangat baik kepada keluarganya kecewa,dan dengan niatan membuat Rama membuka matanya akan keindahan wanita ciptaan Tuhan,ia terpaksa berbohong,dan seakan akan sangat menyetujui jika Rama menjalin hubungan serius dengan April.

“Berarti kamu bisa bantu aku dong? “ Lanjut april.

“Maksudnya? “ Fynta pura pura tidak mengerti.

April menjelaskan salah satu rencananya untuk memikat Rama,ia memberikan sebuah kertas yang diberikan oleh seorang spg sebuah produk rokok di depan coffee shop tadi kepada Fynta.Fynta menganggukan kepalanya sebagai tanda jika ia mengerti dengan apa yang harus ia lakukan,ia lalu melipat kertas itu dan memasukkannya kedalam saku celananya.
Fynta turun dari mobil April setelah sebelumnya cipika cipiki ketika mereka sudah sampai di sepan rumah Fynta. Fynta berjalan lemas,ia langsung bergegas masuk ketika melihat vespa Rama yang terparkir di dalam garasi rumahnya

“Bang..Bang..Bang..” Fynta mengetuk pintu kamar Rama sambil memanggil Abangnya itu karena pintu kamarnya dikunci.

Rama yang sedang menikmati efek ganja yang baru ia hisap memperbesar volume speakernya.Ia pura pura tidak mendengar panggilan dan ketukan pintu Fynta.

“Aku tau kalo Abang belum tidur” Fynta kembali berteriak.

“Bang…Buka dong,ada hal penting nie…” Fynta terus berusaha memaksa Rama untuk membuka pintu kamarnya.

Rama tetap sama sekali tidak memperdulikan Adiknya yang sedang berteriak di depan pintu kamarnya.Ia malah asik membakas satu batang ganja lagi.

“Bukan tentang April kok,sumpah.” Fynta sadar jika Rama pasti sudah menduga maksudnya untuk masuk kedalam kamar.

“Sumpah bang,kalo aku nyebut nama April,aku janji rela diusir keluar kamar pada saat itu juga.” Fynta menyenderkan tubuhnya di pintu.

Rama lalu memutar kunci dan membuka pintu kamarnya,dan spontan Fynta yang sedang bersender jatuh dan hampir menimpanya.

“Aduh…Bilang bilang kek kalo mau buka pintu.” Fynta lalu tersenyum senang karena merasa rayuannya berhasil.

“Apaan yang mau lo omongin,cepet ngomong terus langsung keluar.” Rama tidak memperdulikan Fynta yang hamper terjatuh karena ulahnya.

“Bulan depan ada pameran film independent karya sutradara sutradara terkenal seasia tenggara.” Fynta mulai mengutarakan maksud kedatangannya sambil menyerahkan selembar kertas bertuliskan informasi mengenai acara yang ia maksud itu kepada Rama.

Rama membaca yang tertulis di kertas itu,ia melihat beberapa nama sutradara favoritnya yang tercantum sebagai peserta pameran besar tersebut.Ia sama sekali tidak terlihat tertarik dengan informasi yang diberikan selembaran kertas itu,ia lalu meletakkannya diatas meja belajarnya dan meneruskan bermain dengan laptonya.

“Udah,ini doang yang lo mau kasih tau gw.” Pertanyaan Rama ini membuat Fynta terkejut,ia tidak menyangka jika Abangnya itu sama sekali tidak tertarik dengan informasi yang ia bawa,padahal setau Fynta Rama sangat mencintai film.

“Iya…” Jawab Fynta ketus,karena merasa kesal dengan respon Rama itu,ia lalu keluar dari kamar Rama.

Fynta ternyata tertipu,Rama sangat tertarik dengan informasi yang diberikan Fynta,setelah meyakinkan jika Adiknya tidak akan kembali masuk kedalam kamarnya,ia langsung menelepon hotline penyelenggara acara tersebut.Akan tetapi menurut seseorang yang ia mintai keterangan tersebut undangan tidak dijual bebas,hanya para pemenang undian yang diadakan produk penyelenggara acara itulah yang dapat memiliki tiket,selebihnya undangan diberikan kepada insan insan perfilman dan orang orang tertentu.Ia lemas mendengar keterangan yang diberikan panitia tersebut,ia sangat menginginkan datang di acara tersebut,bahkan ia berencana untuk mengikuti kuis yang diadakan salah satu produk yang merupakan sponsor utama acara tersebut.Ia membuka laptopnya,mencari informasi mengenai acara itu melalui dunia maya.
Rama akhirnya menemukan sederet persyaratan yang harus dilakukan jika ingin mengikuti kuis tersebut,ia sempat bimbang apakah ia mampu untuk memenangkan undian itu,tapi karena tekadnya untuk hadir dalam pameran tersebut,ia berniat untuk menjalankan semua persyaratan tersebut.

****



Membaca di perpustakaan sekolah sudah menjadi kebiasan Rama saat ini,dan ia sangat nyaman dengan hobi barunya itu.Ia dapat mengurangi pengeluarannya untuk membeli novel karena ia mendapatkan banyak bacaan di perpustakaan sekolahnya.

“Lagi baca apa Ram? “ Untuk kesekian kalinya siswa yang bernama Radit mengganggu kenikmatan bacanya.

“Novelnya Diana Puri yang baru.” Rama menyebutkan nama salah seorang pengarang favoritnya sambil terus membaca,seakan tidak memperdulikan anak itu.

“Oh…yang judulnya Cita itu ya? “ Ia kembali bertanya

“Iya…”

“Emangnya lo belum pernah baca? “

“Belum”

“Gw punya semua novel dia”

“Oh…”


“Eh Ram,Lo suka main game ga? “ Tanya Radit.

Rama yang terganggu dengan pertanyaan pertanyaan ga penting itu akhirnya menutup novelnya dan berniat untuk memberikan penjelasan kepada Radit jika ia sedang tidak ingin diganggu,akan tetapi emosinya itu tiba tiba lenyap karena melihat majalah yang sedang dibaca Radit.Sebuah majalah yang berisi berita berita games PC terkini,dan tampak tulisan dan gambar sebuah game favoritnya tepat dihalaman yang sedang dibaca anak itu.Radit yang sadar jika Rama sedang memperhatikan majalah yang sedang ia baca kembali bertanya.

“Lo tau game ini? “ Tanya Radit sambil menunjuk kearah majalahnya.

“Tau.” Jawab Rama.

“Lo pernah mainin? “ Tanya Radit lagi

“Pernah.”

“Sekarang masih main? “ Radit yang menjadi penasaran.

“Ga terlalu sering,tapi paling tidak hampir setiap hari gw mainin.”

“ID lo? “ Radit semakin menikmati topik pembicaraan mereka.

“Anaktangga…” Radit tampak terkejut,ia menahan tawanya dan mengajak Rama untuk kembali bersalaman seperti ketika mereka baru kenal dulu.

“Kenalin,gw Kucing Anggora.” Kali ini Rama yang kebagian merasa kaget.Mereka berdua lalu bersalaman.Mereka berdua lalu melepaskan tawanya.Bagi Radit,ini adalah sebuah hal sangat mengejutkan,karena tanpa disengaja ia sedang melakukan kopi darat dengan teman sepermainan dunia mayanya,sedangkan Rama,walaupun ini bukan sebuah hal yang begitu mengesankan baginya,ia tetap berusaha menyeimbangi sikap Radit.Dengan suara berbisik bisik,mereka melanjutkan obrolan sampai bel tanda istirahat berakhir.

Sebuah kamar yang penuh dengan buku buku dan juga lukisan lukisan amatir yang terpajang di hamper setiap sisi dinding,Radit yang berada di dalam kamar itu terlihat sedang menyalakan komputernya karena sudah membuat janji dengan Rama yang tak lain adalah teman dunia mayanya untuk memainkan game yang yang selalu mereka berdua mainkan.Koneksi internet tersambung,Radit menuliskan nama ID dan passwordnya,lalu dengan seketika ia masuk ke dalam sebuah loby permainan.Ia mencari nama Anaktangga di setiap room balapan yang tersedia,akan tetapi nama itu belum ditemukannya.Ia lalu memulai permain sambil menunggu Rama masuk kedalam permainan tersebut.
Sedangkan disebuah kamar yang lain,Rama terlihat sedang menulis diatas sebuah kertas,ia mematikan rokoknya yang baru saja ia habiskan setengah,itu bukan rokok yang biasa Rama hisap.Ia lalu melipat kertas itu yang ternyata adalah bungkus sebuah merk rokok yang dibentang Rama hingga membentuk sebuah lembaran kertas,tidak lagi berbentuk kotak sebagaimana mestinya.Ia lalu memasukkannya dalam amplop.
Rama ternyata jadi mengikuti kuis yang beberapa hari lalu sudah ia rencanakan.Dan kini ia sudah mempunyai 10 amplop dengan isi yang sama,ia lalu pergi menuju kantor pos dan lupa akan janjinya kepada Radit.
Sepulangnya dari kantor pos Rama teringat akan janjinya kepada Radit,ia lalu membuka laptop dan mulai masuk kedalam permainan itu.

Kucing Anggora : “Kemana aja lo? “ Radit langsung menyapa Rama ketika Rama baru saja login.

Anaktangga : “Sorry Dit,gw tadi keluar rumah sebentar.” Jawab Rama.

Kucing Anggora :” Abis dari mana lo? “ Nampaknya Rama sadar jika Radit adalah orang yang suka bertanya,atau bahasa kasarnya banyak nanya.

Anaktangga : “Dari kantor Pos.”

Kucing Anggora : “Abis ngirim apa Ram? “

Anaktangga : “Main yuk….” Rama mengalihkan pembicaraan.

Kucing Anggora : “Solo atau Tim? “ Tantang Radit.

Anaktangga : “Bebas..”

Kucing Anggora : “Gaaaassss….” Mereka bermain,mengalahkan setiap lawan,saling bekerjasama,tertawa,dan saling mengumpat lawan lawan mereka yang terkadang berlaku licik dengan menggunakan cheat yang dapat diakses gratis melalui banyak situs.

Ini memang hanyalah sebuah permainan,akan tetapi boleh percaya atau tidak,tingkat sosialisasi yang ditimbulkan oleh permainan ini hampir menyaingi beberapa jenis situs jejaringan sosial yang mulai merebah di Indonesia.Bahkan sering terjadi hubungan persahabatan,bahkan sampai dengan percintaan antara pemilik ID setelah mereka melakukan kopi darat.Dan Radit nampaknya mulai menemukan sosok yang sangat menakjubkan untuk dijadikannya seorang sahabat,karena ternyata nasibnya tidak berbeda jauh dengan Rama,yang hidup dengan keterbatasan hubungan social dengan orang orang disekitarnya.

****



Rama sedang sibuk dengan pertanyaan pertanyaan Radit,ia sedang menikmati air putih dinginnya di sebuah meja kantin sekolahnya bersama teman dunia mayanya yang sekarang sudah menjadi teman di dalam dunia nyatanya itu.Obrolan mereka masih sekitar buku bacaan dan permainan game mereka,tapi tiba tiba Radit mulai bertanya macam macam mengenai hal hal pribadi Rama.

“Oh,ade lo sekolah disini juga ya? “ Mungkin jika ditulis pertanyaan Radit ini sudah masuk di dalam lembaran kedua.

“Iya.” Rama mulai merasa bosan dengan pertanyaan pertanyaan itu.

“Namanya siapa? “

“Fynta.”

“Kenalin gw dong.”

Radit menatap aneh Rama karena pertanyaannya itu.

“Tenang aja Ram,gw ga bakalan ngegebet ade lo kok,gw udah punya gebetan.” Radit menepis pikiran negatif yang sempat menempel di otak Rama.

“Eh..ngomong ngomong lo udah punya pacar belum Ram? “ Sekarang Radit Nampak mengorek informasi mengenai Rama.

“Belum.” Walaupun tidak nyaman dengan perasaan itu ia tetap menjawabnya.

“Bohong lo,tampang kayak lo gini ga mungkin kalo ga punya pacar,malah gw denger denger banyak banget anak anak sekolah kita yang naksir berat sama lo,dari mulai anak kelas 1 sampai kelas 3.” Radit tetap dengan sikap sok asiknya,tanpa memperdulikan Rama yang mulai menunjukkan kebosanan dengan raut wajahnya.

Rama tidak menanggapi kalimat barusan,ia lalu pamit untuk masuk kelas duluan,tetapi Radit mengikutinya sampai kedalam kelas Rama,dan ia pun tetap menjadi tembok yang penuh dengan pertanyaan pertanyaan yang terkadang digolongkan Rama sebagai pertanyaan gak penting.Ia lalu meminta izin untuk berkunjung kerumah Rama,sekedar melihat lihat koleksi buku Rama sekaligus upaya untuk mencoba lebih bersahabat dengannya,akan tetapi dengan halus Rama menolaknya,ia beralasan jika ia harus mengantar Bundanya untuk berbelanja,alasan itu sangat dipahami Radit.

Alasan Rama bukanlah sebuah kebohongan belaka,karena ia benar benar berjanji untuk mengantar Bunda berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga.Akan tetapi ia berniat membatalkan janjinya karena menegetahui jika April yang saat ini sedang berada di kamar Fynta memaksa untuk mengantarkan mereka berbelanja.Awalnya Bunda menentang pembatalan janji Rama,segala alasan Rama sama sekali tidak membuat hati Bunda luluh karena ia paling tidak suka dengan orang yang suka membatalkan ataupun mengingkari janji,apalagi jika yang melakukan itu adalah anaknya.Rama pasrah,akan tetapi sebuah telepon membuatnya mempunyai sebuah alasan yang sangat masuk akal.


“Halo Dit,lo jadi kerumah gw? “ Tanya Rama dengan suara yang sengaja diperkeras.

“Loh,emang lo ga jadi nganterin nyokap lo Ram ? “ Tanya si penelpon itu yang ternyata adalah Radit.

“Alamatnya gw sms ya..”

“Oh..iya…” Radit bingung dengan perubahan pikiran Rama itu,padahal niat ia menelpon Rama hanyalah untuk menanyakan tentang suatu yang berhubungan dengan jadwal sekolah mereka.

“Bawa novel novel lokal lo ya Dit.” Suara Rama makin keras,dan ia tetap berdiri di dekat Bunda.

“Daaahhh.” Rama menutup ponselnya,ia lalu tersenyum kepada Bunda dan masuk kekamar.Bunda hanya memandangi anak sulungnya itu sambil mengenyutkan dahi.

April,Fynta sudah siap untuk berangkat menemani Bunda,akan tetapi mereka seperti kehilangan sesuatu,yaitu Rama.

“Bang Rama mana Bunda? “ Tanya Fynta,April juga terlihat menunggu jawaban Bunda.

“Dia ga jadi ikut,temen sekolahnya ada yang mau datang.” Jawab Bunda.

“Bunda maunya aja sih dibohongin dia terus,waktu itu katanya mau kerumah temennya,sekarang dia bilang temennya mau dateng,tapi setau Fynta sampe sekarang belum ada satupun siswa disekolahku yang rela ia jadikan sahabat ataupun teman.” Fynta merasa Rama mulai terlalu vulgar untuk menghindari April.

“Hush..Sama saudara sendiri aja kok ya ga percaya,tadi temennya telepon,persis dia lagi di depan Bunda.Bunda mendengar semua pembicaraan mereka.” Bundi sedikit melirik kearah April.

“Bukan mereka Bunda,tapi Cuma suara Rama yang Bunda dengar.” Bunda tidak mengerti dengan maksud kalimat Fynta,akan tetapi mereka akhirnya tidak memperpanjang masalah setelah April tiba tiba berusaha meyakinkan Fynta jika alasan Rama mungkin saja benar.Walaupun sebenarnya ia sangat merasa kesal karena hal ini,tapi ia tidak mau memperlihatkan kepada Fynta dan Bundanya.

“Rama,,Bunda berangkat ya.” Teriak Bunda karena ia yakin Rama sama sekali tidak mau menampakkan wajahnya didepan April.Mereka lalu berangkat menuju sebuah swalayan di daerah Dago.

Tidak sampai satu jam kemudian Radit sampai di rumah Rama,setelah memencet bel berulang kali barulah Rama keluar untuk membukakan pintu.

“Maaf Dit,gw ga denger suara bel.” Rama mempersilahkannya masuk.

“Santai Ram…” Radit tampak menyukai interior rumah Rama yang penuh dengan barang barang modern dengan nuansa seni yang cukup kental.Apalagi ketika ia masuk kedalam kamar Rama,walaupun ukurannya hampir sama dengan kamarnya,akan tetapi berasa jika ia bukan berada di sebuah kamar,melainkan di sebuah ruangan pribadi yang penuh dengan berbagai macam inspirasi,berjudul judul buku buku dari berpuluh puluh pengarang terkenal,ratusan LD dan DVD film,CD dan poster poster Bob Marley,berbagai macam bentuk sepatu skate,beraneka ragam warna topi pancing,dan barang barang lainnya tampak sangat indah di posisinya masing masing.

“Gila kamar lo Ram,pantesan lo betah banget dikamar.” Puji Radit.

“Ini bukan kamar,ini private room gw.” Ucap Rama sambil sedikit tertawa.Loh kok Rama jadi sok asik ya,tetapi itu semua keluar begitu saja,mungkin karena ia merasa jika Radit adalah orang yang sangat bersahabat.Dan ia hanya berusaha untuk mensejajarkan posisinya saja.

“Nice room man…Nyokap lo jadi pergi sama siapa? “ Radit mulai kumat dengan pertanyaan pertanyaannya.

“Sama ade gw.” Jawab Rama,ia tidak ingin Radit mengetahui tentang April,karena hal itu dapat menambah pertanyaan pertanyaan Radit.

“Naik apaan? “

“Taksi.”

“Tega lo,tau gitu tadi lo bilang aja ma gw,kan kita bias nganterin nyokap lo pake mobil gw,terus kita ngopi ngopi kek sambil nungguin mereka belanja.” Pernyataan ini bukanlah sebuah basa basi,akan tetapi benar benar dikatakan Radit dengan tulus.

“Yaudahlah..swalayannya juga ga jauh dari rumah gw.” Rama membakar rokok barunya.

“Nih,novel yang lo minta.” Radit menyerahkan beberapa buah novel yang lumayan langka bagi pecinta novel.”

“Wih..ga nyangka gw lo beneran punya koleksi nie novel,ini kan langka banget.” Rama melihat novel itu dengan kagum.

Radit hanya tertawa kecil,ia lalu kembali memberikan pertanyaan kepada Rama,terus bertanya dan terus.Dari cerita cerita Radit,Rama akhirnya sadar jika teman barunya itu memiliki sifat yang hamper sama dengannya.Banyak yang diceritakan Radit kepada Rama mengenai hidupnya,salah satunya Radit adalah tipe seorang pria.Ia juga menceritakan jika ia terlahir dari keluarga broken home,orangtuanya sudah lama pisah,dan saat ini ia memilih untuk tinggal sendiri dirumah yang dibelikan Ayahnya yang berprofesi sebagai pejabat tinggi kota Bandung,sedangkan Ibunya sudah lama meninggalkannya,oleh karena itu ia tumbuh menjadi anak yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang wanita.Oleh karena itu ia berjanji dengan dirinya akan melakukan apapun demi seseorang wanita yang sedang ia cintai dan itu sedang ia alami,ia menceritakan jika sedang mencintai seseorang yang bernama Aya,seorang gadis kelas 3 SMA elite Bandung.Ia mengatakan jika sudah mengejar cinta Aya selama tiga tahun lamanya,dan ia mendapatkan respon respon positif dari gadis idamannya itu,selain itu ia juga banyak menceritakan tentang hoby melukisnya, dan semakin lama Rama pun semakin memahami karakter anak itu.Ia mulai merasa sedikit nyaman untuk bersahabat dengan Radit.
Semakin hari kedekatan Rama dan Radit semakin terlihat sebagai seorang sahabat sejati,walaupun Rama masih menganggap Radit hanya seorang teman untuk sedikit bertukar pikiran.Mereka sering menghabiskan waktu bersama,sekadar untuk ngopi bareng di sebuah kedai kopi di dago,ataupun dateng kesebuah pameran pameran lukisan.

****



Mungkin saat ini Rama sudah sedikit membuka wawasannya akan sebuah kehidupan sosial,ia sudah tidak terlalu sering lagi untuk menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri karena belakangan ini Radit sering untuk mencoba masuk di dalam kehidupan sosialnya.Akan tetapi Rama sama sekali tidak pernah menceritakan hal hal yang baginya tidak pantas diketahui Radit,walaupun senbenarnya Radit sudah menganggapnya sebagai seorang sahabat.Radit juga sangat memahami sikap dan perilaku Rama,walaupun terkadang Rama suka tidak menjawab pertanyaan yang ia berikan,bahkan seringkali mengacuhkannya.Itu semua tidak menjadi masalah bagi Radit karena ia mulai memahami sifat Rama dan dapat beradaptasi dengan sifat Rama tersebut.
Kali ini Radit mengantarkan Rama menuju kantor pos untuk mengirim amplop amplop Rama yang berisi syarat untuk memenangkan undian yang selama ini ia idam idamkan.Karena paksaan Radit,mereka akhirnya menuju rumah Radit setelah menyelesaikan urusan Rama di kantor pos.Radit ingin sekali memberitahunya akan sebuah barang yang sangat berarti baginya,walaupun Rama tidak terlalu penasatan dengan barang itu ia terpaksa mengikuti kemauan Radit karena tidak ingin membuat sahabat barunya itu tersinggung.
Mereka berdua sekarang sudah berada di dalam kamar Radit,kamar yang penuh buku buku,barang barang gadget,dan majalah majalah games,akan tetapi ada satu hal yang membuat Rama merasa kagum dengan kamar Radit,yaitu lukisan lukisan karya Radit yang dipajang rapih di dinding dinding kamarnya.Satu persatu lukisan itu diperhatikannya dengan seksama,dan ia yakin jika lukisan lukisan itu dibuat dengan penuh rasa,karena ia menangkap banyak sekali makna yang terkandung dari karya karya Radit itu.Radit mengeluarkan sebuah lukisan lagi dari dalam ruang kecil yang biasa dipergunakan Radit untuk melukis.Ia memperlihatkan kepada Rama,sebuah lukisan bergambar seorang wanita,dan walaupun wajah wanita yang tergambar diatas kanvas itu tidak terlalu jelas akan tetapi dapat dipastikan jika ia adalah seorang gadis yang sangat cantik,Radit membuatnya dengan rasa cinta yang sangat dalam.

“Dia adalah wanita yang sudah tiga tahun ada di dalam hati gw” Radit mulai menjelaskan makna lukisan itu.


“Terus kenapa belum lo pacarin Dit? “ Tanya Rama.

“Ga segampang itu Ram buat benar benar bikin dia yakin kalo gw sangat serius mencintainya.”

“Halah…lo jangan suka melebih lebihkan perasaan lo Dit” Saran rama.

“Sama sekali ga ada yang dilebih lebihkan Ram,semuanya benar benar gw rasain,dan gw yakin usaha dan kesabaran gw selama ini bakal menuai hasil yang memuaskan”

“ Yaudah,,,terserah lo aja deh,lakukan aja yang menurut lo baik.” Ucap Rama yang sebenarnya tidak terlalu menyukai pembicaraan mengenai wanita.Akan tetapi sebagai sahabat ia merasa harus mendengarkan keluah kesal Radit.

“Gw mau nembak dia minggu depan.” Radit kembali meletakkan lukisan itu di dalam ruang lukisnya.

Rama diam saja,ia juga tidak tau harus berkata apa.

“Dan lukisan itu akan gw jadiin senjata.” Radit melanjutkan kalimatnya.

Rama memberikan jempol kepada Radit,walau bagaimana pun ia mendukung rencana Radit.

“Oh iya Ram,sampe sekarang lo belum ngasih tau gw dengan maksud lo ngirim amplop sebanyak itu di kantor pos tadi.” Bertanya mode on

“Ga penting buat lo tau.” Jawab Rama.

“Lo ga asik ah,gw aja selalu nyeritain semua tentang gw sama lo,tapi lo kayaknya tetap tertutup sama gw.” Radit mulai merasa terganggu dan berusaha untuk merubah sifat tertutup Rama yang belum juga berubah.

“Tapi ga ada untungnya juga kan kalo lo tau.” Kalimat Rama membuat Radit untuk tidak melanjutkan pertanyaannya.Dan Radit merasa jika Rama belum menganggapnya sebagai seorang sahabat.

“Gw tau kalo lo sangat susah untuk percaya sama seseorang,apalagi sama orang yang baru lo kenal,tapi ga ada salahnya kan Ram kalo lo mau sedikit berbagi cerita sama gw,siapa tau gw bisa bantu.Gw ini sahabat lo Ram” Kali ini Radit terlihat sangat serius.

Rama tertawa kecut,ia tidak menyangka jika Radit begitu tulus untuk bersahabat dengannya,padahal dimatanya Radit belum dapat dikatakan sebagai sahabat,sebuah hal yang sangat mempunyai arti yang sangat dalam baginya.



“Halaaah.. lo terlalu sering mendramatisir Dit,jangan terlalu kritis jagi orang.” Candaan kecil Rama ini membuat Radit terpaksa harus melupakan pertanyaan pertanyaannya.

“Gw cabut ya….Udah sore.” Pamit Rama,ia mengambil tasnya lalu bersiap untuk pulang.

“Oke Ram,hati hati lo.” Ucap Radit,ia lalu mengantarkan Rama sampai ke teras depan,tempat Rama memarkirkan vespanya.Rama pun meninggalkan Radit,setelah beberapa kali membunyikan klakson vespanya.


“ Radit,satu satunya orang yang mempunyai porsi yang cukup besar untuk dikatakan sebagai teman sekolah,mungkin karena gw sama dia banyak kesamaan hobi.Pertemanan gw sama dia nggak hanya di sekolah,beberapa kali gw melakukan kesibukan kesibukan lain diluar kegiatan sekolah bareng tuh anak,dan pada dasarnya sebenernya gw udah kenal sama dia,tapi hanya di dunia maya.Tapi sampe sekarang gw sama sekali belum menganggap dia seorang sahabat,karena bagi gw persahabatan itu sangat penuh dengan arti,sangat tulus,tidak memandang kaya,miskin,besar,kecil,hitam,putih,dan apapun perbedaan perbedaan itu.Dan sampai sekarang gw belum merasakan hal itu dari setiap kehidupan social gw.Bagi gw Radit cuma temen biasa,dan gw masih belum bisa untuk terlalu banyak omong sama dia,apalagi mengenai sesuatu hal yang gw anggap privasi.”

Rama membakar rokok barunya,ia mengistirahatkan jarinya yang sudah berjam jam menekan tombol tombol keyboard laptopnya.Sejenak ia berpikir tentang masa depannya,cita citanya,dan semakin lama timbulah sebuah obsesi yang terwujud dari motivasi motivasinya sejak dulu,sejak ia mulai mencintai film dan novel.Dengan semangat yang menggebu gebu,ia lalu melanjutkan tulisannya.


Di sudut ruang tamu,Fynta terlihat sedang mengintip kearah teras depan rumahnya,ia sedang memperhatikan gelagat Rama yang ampak aneh.Sudah dua jam Rama duduk di kursi itu,seskali ia berjalan mundar mandir di depan kursinya,dan Fynta sama sekali tidak tau apa yang sedang ada di otak Abangnya itu.Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya langsung kepada Rama demi mengobati rasa penasarannya itu.Ia berjalan keluar,menatap Rama,tersenyum,dan duduk disampingnya.Sekarang gantian Rama yang merasa ada yang aneh dengan Adik semata wayangnya itu,tapi ia kembali hanyut dalam pikirannya tanpa memperdulikan kehadiran Fynta.

“Lagi nunggu apa bang? “ Fynta memberanikan diri untuk bertanya.

Rama terlihat sangat terganggu dengan kehadiran Fynta,dan sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan Fynta.

“Bang…Ditanya juga,nanti budeg beneran loh.” Fynta menjadi semakin pensaran.

Rama hanya meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya,memberi isyarat untuk menyuruh Fynta diam.karena Fynta tidak juga pergi,Rama akhirnya memutuskan untuk kembali kedalam kamar,meninggalkan Fynta yang sedang keki berat karena sikap Abangnya itu.
Langkah gadis itu untuk masuk kedalam rumah terhenti karena suara klakson motor dari arah pagar rumahnya,ia lalu berjalan kearah sumber suara itu,yang ternyata berasal dari sebuah motor orange bertuliskan Pos dan Giro.Tukang pos itu memberikan sebuah amplop yang ditujukan kepada Muhammad Ramadhan.Fynta menerima amplop itu dengan sedikit bertanya tanya,akan tetapi ia laangsung berlari kedalam rumahnya setelah mengucapkan ucapan terima kasih kepada pengantar surat tersebut.

“Ini kan yang dari tadi Abang tungguin? “ Fynta masuk kedalam kamar Rama dan mengibas ngibaskan amplop yang baru ia terima itu kearah Rama.Rama berusaha mengambilnya akan tetapi dicegah Fynta.

“Eitsss…kasih tau ahu dulu ini isi amplopnya apaan? “ Fynta mendekap amplop itu.

“Lah,gw aja belum liat bagaimana gw bias tau isi amplopnya.” Jawab Rama ketus.

“Masa sih ga tau,bukannya amplop ini yang dari tadi Abang tungguin? “

“Udah ah sini,itu kan buat gw,kenapa jadi kayak lo yang punya.jangan kayak anak kecil,dewasa dikit kenapa sih” Rama terlihat mengomel.

“Nih,sama ade kandung sendiri aja kayak gitu,gimana sama orang lain,ampun deh gw.” Fynta menyerahkan amplop itu dengan kesal.

Rama menyadari jika Fynta sedikit ngambek,ia lalu mengambil amplop yang di kanan atasnya terdapat logo sebuah merk rokok terkenal itu,membuka,lalu membacanya.Dan ternyata,yang tertulis di amplop itu bukanlah sebuah hal yang ia harapkan karena disitu tertulis jika ia tidak berhasil memenangkan kuis berhadiah tiket pameran film Asia tenggara yang ia ikuti belakangan ini,dan sebagai tanda terima kasih karena keikutsertaannya dalam kuis tersebut,pihak penyelenggara memberikan sebuah souvenir yang dapat diambil di kantor pusat panitia penyelenggara kuis tersebut.Seketika wajahnya menjadi lesu,hilang sudah harapannya.Fynta yang masih memasang muka ngambeknya menjadi semakin penasaran dengan isi dari amplop tersebut karena sudah membuat Rama menjadi lesu.

“Kenapa Bang? “ Fynta memberanikan dirinya untuk kembali bertanya,Rama memberikan selembaran yang ia pegang kepada Fynta,lalu pergi meninggalkan rumah untuk mencari udara segar di luar sana.

Fynta membaca tulisan yang tertera di dalam selembaran itu,perlahan ia mulai mengerti jika selama ini Rama telah membohonginya dengan berpura pura tidak bernafsu dengan informasinya akan pameran film tersebut,padahal sebenarnya ia sangat berantusias dengan acara itu sampai sampai memutuskan untuk mencoba keberuntungannya dengan cara mengikuti kuis yang berhadiah tiket acara tersebut.Fynta tersenyum,kali ini ia merasa menang,ia lalu menelpon seseorang dengan ponsel yang ia pegang.


Kepulan asap keluar dari segelas kopi hitam yang terletak di atas meja Rama,Ia sedang membaca novel yang ia pinjam dari Radit,sebuah novel yang menceritakan akan indahnya persahabatan,dengan beberapa karakter unik yang menghiasi cerita didalam karangan penulis Indonesia tersebut.Sesekali ia tersenyum tipis jika ada kejadian kejadian lucu yang diceritakan lewat beberapa bagian dari novel tersebut.Tiba tiba sebuah suara nada panggilan di ponselnya membuat konsentrasi membacanya terganggu,ia mengangkat panggilan itu.

“Halo..” Rama melupakan novelnya sejenak.

“Kamu dimana? “ Si penelpon itu ternyata April,dengan nomer cdma nya.

“Ini siapa? “ Tanya Rama karena merasa tidak mengenal nomer yang memanggilnya.

“Aku April..” Jawab wanita yang sedang menjadi lawan bicaranya itu.

“Oh..Ada apa Pril? “ Rama sedikit malas dan langsung menanyakan maksud tujuan April untuk meneleponnya.

“Ganggu ya? “ Tanya April.

“Nggak kok,ada apa emangnya sih? “ Rama semakin malas dengan basa basi April.

“Maaf deh kalo ganggu,aku cuma mau nawari kamu tiket pameran Film,soalnya aku denger kamu suka sekali sama film,makanya aku langsung bilang mau waktu Papah nawarin tiket pameran yang ia dapat dari kerabatnya itu.” April mengutarakan maksud dari teleponnya.

“Hah..Yang bener lo ? “ Raut wajah Rama langsung berubah dalam seketika.Ia lalu tersadar jika baru saja berbicara dengan volume suara yang lumayan keras,ia juga sedikit mencoba lebih tenang.

“Bener,masa aku bohongin kamu.Kamu tertarik ga buat dateng ke acara itu? ” April meyakinkan Rama,dan mulai memancingnya.

Rama diam,ini mungkin bisa diartikan sebuah dilema,disatu sisi Rama sangat menginginkan tiket pameran itu,akan tetapi ia sama sekali tidak mau untuk berhutang budi dengan April.Ia benar benar sangat bimbang,sebuah pilihan yang sulit baginya,untuk bertahan dengan prinsip,dan kata hati,atau sedikit melupakan itu semua demi mendapatkan sebuah hal yang sangat ia gemari.

“Rama..Menurut yang aku baca di internet,pameran film Asia Tenggara ini hanya dilakukan selama 5 tahun sekali loh,dan kali ini Bandung menjadi tuan rumahnya.” April memang bukan gadis yang polos,ia sangat cerdas untuk menghadapi Rama.

Rama tetap diam,tapi tiba tiba keberanian untuk menolaknya muncul.

“Maaf Pril,gw ga bisa,mungkin….”

“Aku tunggu di tempat pameran itu satu jam sebelum acara session pertama dimulai….Byee ” Ucapan Rama baru saja diputuskan oleh kalimat diatas.Dan dilema itu masih ada.

“Lain waktu….” Rama melanjutkan perkataannya dengan pelan,ketika April menutup teleponnya.


Muka Rama terlihat sedang menahan geramnya,dan Radit sedang menyipitkan matanya untuk menghindari debu debu yan berterbangan di depannya.Mereka berdua sedang berada diatas vespa tua berwarna hitam,dengan Rama sebagai pengendaranya.Kejadian ini berawal dari permohonan Radit yang kesekian kalinya untuk kembali bertandang kerumah Rama,kali ini dengan alasan ingin memilih sendiri novel yang akan dipinjamkan Rama,sebagai penukar novel yang telah Rama pinjam darinya.Dan dengan sangat terpaksa untuk kesekian kalinya pula Rama mengabulkan permohonannya itu.Sejak satu minggu yang lalu Radit selalu mengekori Rama dengan berbagai alasan,itu semua dilakukannya karena ingin membuat Rama yakin jika ia adalah sahabatnya.
Hal seperti itu sering kali terjadi,dan semakin lama Rama pun semakin bisa menerima Radit,setidaknya sebagai satu satunya teman dekatnya.Radit pun merasa lebih nyaman untuk mengajak Rama untuk saling sharing,sebagai patner dalam kehidupannya yang selalu sepi,bahkan keceriaan pun tidak pernah ia rasakan dari keluarganya selain harta berlimpah.


Sampai suatu ketika Rama sedang berada di perpustakaan sekolahnya,seperti biasa,Pertanyaan pertanyaan Radit mengganggu konsentrasi membaca Rama.

“Ram,hari ini ada acara rencana mau keluar rumah ga? “ Bisik Radit

“Mang kenapa? “ Rama balik bertanya.

“Nanti sore gw mau nembak Aya,cewe idaman gw.Gw udah yakin sekarang waktu yang tepat.” Suara Radit sedikit mengeras.

“Terus? “ Rama sebenarnya sama sekali tidak tertarik mengenai cerita Radit tersebut,apalagi ia menganggap cerita Radit itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembicaraan mereka sebelumnya.Ia tetap membaca bukunya.

“Gw mau ntraktir lo makan entar malem,soalnya gw yakin Aya bakalan nerima gw.” Ucap Radit denga penuh keyakinan.

“Yaudah kabarin gw aja.”

“Oke..”


Rama sedang berada di sebuah Mall,setelah melihat jam tangannya ia lalu masuk kedalam sebuah toko kopi kecil yang berada di mall itu untuk menikmati menu hariannya,secangkir kopi hitam dan rokok,tapi kali ini rokoknya sudah kembali berubah seperti biasanya.Tiba tiba saja ponselnya berbunyi,sebuah panggilan dari Radit,ia mengangkatnya dan terlibat sedikit pembicaraan dengan temannya itu.
Tidak lama kemudian Radit datang menemui Rama,ditangannya tampak sebuah bungkusan besar,mukanya terlihat kecewa.

“Pokoknya hari ini gw mau ngikutin lo terus Ram.” Ucapan pertama Radit ini membuat Rama terkejut,Radit lalu duduk di hadapan Rama,membelakangi pintu masuk.

“Apa apaan lo..” Elak Rama.

“Ram,lo kan temen baik gw,masa lo ga mau nemenin gw satu hari ini aja.” Paksa Radit.

“Lo kenapa sih?” Rama masih tidak mengerti.

“Batal rencana nembak gw,tiba tiba si Aya ngebatalin janji buat ketemu gw,dia ada keperluan yang ga bisa ditinggalin,dan katanya keperluan itu penting untuk masa depannya.” Radit menceritakan kejadian memilukan itu.

“Yaudah kan bisa lain waktu lo nembaknya.” Rama yang biasanya malas jika Radit sedang menceritakan kisah cintanya,kali ini terlihat lebih bersahabat.Perlahan ia mulai ikut sedikit merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Radit pada saat ini.

“Gw maunya hari ini Ram,ini hari bersejarah buat gw.” Ucapan Radit.

“Yaudah lewat telepon aja.” Rama sama sekali tidak mau tau dengan alasan hari bersejarahnya Radit tersebut.

“Ga bisa bro…Lo kan tau gw harus nyerahin ini lukisan.” Radit menunjuk bungkusan yang ia bawa.

“Kan bisa lo kirim kerumahnya,tambahin bunga,didalem bungkusannya lo tulis deh tuh ungkapan ungkapan cinta,utarain maksud lo.” Kali in Rama terlihat mirip Will Smith di film Hitch,seorang penasihat cinta,yang selalu memberikan trik trik serta kata kata yang indah untuk memuluskan kisah cinta setiap kliennya.

“Wow good idea,thanks ya Ram.” Radit terpesona mendengar usul Rama tersebut,ia lalu menerawang dan memikirkan sebuah rencana.

“Tapi gw ga bisa nemenin lo nie Dit.” Ucap Rama.

“Loh,kok gitu Ram,emang kenapa.”

“Sebentar lagi gw ada acara.”

“Ya gw ikut ke acara lo.”

“Ga bisa.”

“kenapa ga bisa,ga ada yang ga bisa di dunia ini bro....,gw kencing dulu ya ” Radit lalu beranjak dan berjalan menuju kamar mandi.

Rama memilih melanjtkan membaca novelnya,tiba tiba Rama terpana melihat seseorang yang sekarang sedang berdiri di belakang kursi Radit.

“Kok kamu nunggu disini,untung aku ngeliat.” Orang itu ternyata April.Sebenarnya tujuan Rama datang ketempat ini adalah,menghadiri undangan April untuk datang dalam acara pameran film Asia tenggara yang akan berlangsung pada jam lima sore nanti,tepat di bioskop yang terletak di lantai 5 mall tersebut.Sebuah keputusan yang sangat membuat Rama merasakan dilemma yang cukup lama.Akan tetapi,ia akhirnya menyerah kepaa dirinya sendiri dan menerima ajakan April.Tapi ia sebenarnya tidak berjanji di tempat ini,nampaknya gadis itu tidak sengaja melihat Rama ketika sedang berjalan menuju ke lantai lima.

Rama terlihat panik,ia tidak mau jika Radit sampai tau jika ia saat ini sedang merencanakan untuk jalan berdua dengan seorang wanita,karena hal itu akan akan menjadi bahan celaan Radit untuknya.Tapi nampaknya semua itu akan segera terjadi,tepat pada saat April duduk di depannya pada saat bersamaan Radit muncul,Rama menahan rasa paniknya,ia pura pura tenang.

“Ram,aku yakin kamu bakal dateng,makanya aku rela nge cancel semua janji janji ga penting,Cuma buat kamu,maaf..maksudku cuma buat ke acara ini,sama kamu.” April terlihat sedikit malu,sedangkan dibelakangnya ada Radit yang menghentikan langkahnya karena merasa teman baiknya itu sedang berbicara serius dengan seorang wanita,ia sangat senan jika akhirnya Rama mulai merubah sikap sikap dan pemikiran anehnya itu,dan ia baru sadar dengan alasan Rama melarangnya untuk mengikutinya.Ia lalu memberikan kode kepada Rama untuk meneruskan obrolannya tanpa memperdulikan dirinya,dan ia pun berniat untuk langsung pulang karena hari ini temannya yang satu itu sedang benar benar tidak mau diganggu.Akan tetapi ia lupa dengan bungkusannya.Ia pun terpaksa untuk mengambilnya.

“Sori Ram lukisan gw.” Radit sedikit malu malu untuk mengambil lukisannya.Tiba tiba matanya terpana melihat gadis cantik yang dari tadi hanya dilihat punggungnya saja.April pun tidak kalah terpananya,bahkan wajahnya menjadi panik ketika menyadari akan kehadiran Radit tersebut,mereka berdua bertatapan,sampai akhirnya Rama memandang Rama geram,ia menghela nafasnya.

“Oh,jadi lo juga suka makan temen ya Ram? “ Pertanyaan radit yang penuh emosi ini membuat Rama terlihat bingung.

“Maksud lo apa sih? “ Rama memandang Radit,dan juga April,karena ia merasa ada sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu.

“Ini,lo ternyata juga punya hubungan khusus kan sama Aya? “ Radit menunjuk kea rah April yang tidak lain adalah Aya,gadis yang selama ini dikejar kejar Radit.

“Sekarang gw tau kenapa lo ga pernah ngerasain persahabatan,karena sebenernya bukan elo yang ga pernah mau bersahabat,tp orang orang yang ga pernah mau bersahabat sama lo karena lo suka makan temen” Ucap Radit ketus,amarahnya benar benar memuncak,ia bahkan sama sekali tidak berpikir jika selama ini Rama sudah menjadi teman baiknya,dan itu semua sirna karena perasaan cintanya kepada Aya.

“Dan kamu…Aku pikir tiga tahun waktu yang cukup untuk berharap cinta dari kamu,bahagiain kamu,punya masa depan indah bersama kamu,tapi…kayaknya cowo munafik ini bisa ngasih semua yang aku ga bisa kasih ke kamu.” Radit pergi meninggalkan mereka.Rama hanya diam tanpa kata,di hatinya hanya sebuah pemikiran,kali ini hatinya kembali menang,dan ia telah salah mengambil keputusan.Andaikata ia tidak berteman dekat dengan Radit,ini tidak akan terjadi,begitupun jika andai saja ia menolak ajakan April.Ia tersenyum kepada April yang sedang menahan tangisnya lalu pergi,melupakan acara pameran itu,dan tentunya juga melupakan semua hal yang berhubungan dengan kejadian ini.

“Ram..Aku sayang kamu” Ucapan April menghentikan langkah Rama.

“ Maaf Pril,dari dulu gw ga pernah ngerasain rasa apa apa dari cewe manapun.” Rama melanjutkan langkahnya,meninggalkan April yang kali ini mulai menangis,memang pada awalnya Rama adalah hanya dijadikan sebuah permainan untuk menguji kehebatan dirinya akan seorang pria,akan tetapi semua itu berubah ketika ia mulai mengenal Rama dan keluarganya lebih dekat.Dan kali ini ia benar benar jatuh cinta kepada cowo yang baru saja meninggalkannya itu.


Rama menacap gas vespanya,kejadian tadi membuatnya menjadi kesal,ia tidak menyangka kenapa ia yang terlihat sebagai penyebab permasalahan ini,padahal ia sama sekali tidak tau jika April itu adalah Aya,dan ia pun juga sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun kepada April atau yang ternyata juga dikenal dengan nama Aya,ia hanya memuluskan keinginannya saja untuk menonton pameran tersebut.Ia ingin cepat cepat sampai dirumah untuk mengutarakan semua kekesalannya ini kepada blog pribadinya.
Akan tetapi sebuah kejadian tidak menegenakkan kembali hadir di hadapannya,seorang pemuda yang berumur lebih tua darinya terlihat sedang memukuli seorang gadis yang mungkin saja istri atau pacarnya.Sebenarnya Rama tidak ingin ikut campur dengan apa yang sedang ia lihat,akan tetapi ia meminggirkan vespanya dan berniat melerai perkelahian itu setelah melihat jika gadis yang sedang menjadi korban itu adalah Hilda,pegawai studio tattoo yang sudah sangat baik kepadanya.
Sempat terjadi perang mulut diantara Rama dan pemuda tersebut,dan berakhir dengan sebuah pukulan kecil kearah mulut Rama yang meneyebabkan bibirnya sedikir mengeluarkan darah segar.Pemuda itu pun lari setelah diancam oleh Hilda.Rama kembali mengumpat dirinya,ia merasa kembali salah mengambil keputusan,akan tetapi ia merubah raut wajahnya,ia pura pura bersikap santai di hadapan Hilda yang saat ini sedang merasa tidak enak kepadanya.

“Kamu ga apa apa Ram? “ Tanya Hilda panik,ia memegang bibir Rama,dan Rama pun sedikit meringis.

“Gpp..” Rama mengelap darahnya.

“Maaf ya Ram,kamu jadi ikut ikutan kena pukul sama si anjing itu.”

“Itu siapa? “ Tanya Rama.

“Orang gila,ga penting buat lo tau.” Hilda menutupi identitas orang yang baru saja berlaku kasar kepadanya.

Rama tidak berusaha untuk memaksa Hilda memberi tahu siapa pemuda itu.

“Mau nagnterin gw pulang ga? “ Tanya Hilda sedikit menggoda.Rama sempat berpikir dengan permintaan Hilda tersebut,ia takut salah lagi untuk mengambil keputusan.

“Oh Tuhan,Kau begitu sempurna,Maha Kuasa.Dalam waktu setengah hari Kau sudah ciptakan beraneka ragam tragedi di depan mataku.hamba ikhlas ya Allah” Ucap Rama dalam hati.Ia lalu memilih untuk menerima permintaan Hilda.

Sesampainya dikostan Hilda Rama langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam,Rama menolaknya akan tetapi Hilda menarik tangan Rama dengan mengatakan jika ia ingin mengutarakan permohonan maafnya dengan cara mengobati luka Rama.Rama pun akhirnya tidak bisa mengelak dengan paksaan Hilda.

“Kok lo bisa ada disana Ram? “ Tanya Hilda sambil mengumpulkan obat obatan untuk mengobati Rama.

“Gw kebetulan lewat.” Jawab Rama,ia merasa risih berada di dalam kamar itu.

“Gimana tattoo lo? “ Hilda mengubah topic pembicaraan dan berusaha mengobti luka Rama.

“Bagus kok,gw suka.” Sesekali Rama meringis kesakitan karena tangan Hilda terlalu kuat menekan bibirnya.

“Ga ada clien yang ga suka sama hasil tattoo di studio kita.Mereka bahkan berani bayar berapapun untuk gambar gambar yang mereka inginkan.” Tambah Hilda.

“Oh…” Rama memberikan reaksi yang lumayan dingin.

“Gw ganti baju sebentar ya Ram.” Hilda mengambil beberapa pakaiannya dan masuk kedalam kamar mandi.

Tidak lama kemudia Hilda keluar dengan menggunakan hotpans yang sangan ketat dan mini ditambah atasan tanktop sexy berwarna putih,yang menembuskan bentuk dan tali bra hitamnya.Tubuhnya begitu sexy,melebih bentuk tubuh selebriti selebiriti bahkan bintang porno sekali pun.
Mata Rama sempat sedikit terpana dengan penampilan Hilda,ia lalu kembali mengalihkan pandangannya sebelum Hilda sadar.mereka pun asik mengobrol,sesekali Hilda memberika gerakan gerakan sedikit genit kepada Rama,dan Rama tidak bias menghindar.
Hilda merasa jika Rama cukup meneyenangkan untuk dijadikan teman mengobrol,setidak pada saat ini.Lama kelamaan muncul sebuah hasrat yang selalu tidak bisa ditahan oleh Hilda,ia meras jika Rama sangat menggairahkan,perlahan ia mulai memainkan tangannya ketubuh Rama dan membuat anak SMA itu bingung,Rama berusa menghindar,akan tetapi Hilda terlihat sangat bernafsu,sampai akhirnya Hilda menelentangkan Rama,dan kali ini ia berada di atas tubuh Rama yang sudah tergeletak tak berdaya.

to be continue...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar